Banjar duduk termenung di pojok ruangan. Matanya menatap sepasang orangtua di depan panggung yang sedang menyanyikan lagu daerah Indonesia. Namun pikirannya melayang ke peristiwa tadi siang. Akhirnya dia diwisuda, di sebuah perguruan tinggi terkenal di Belanda, master degree. Keputusannya untuk merantau, meninggalkan kesuksesan karier di negeri sendiri, akhirnya membuahkan hasil hari ini. Upacara wisuda yang lebih mirip dengan pesta kebudayaan mancanegara itu, karena tiap mahasiswa memakai baju khas negaranya masing-masing, menjadi titik akhir perjalanannya belajar di negeri orang. Ya, perasaan inilah yang kerap menghinggapi mahasiswa Indonesia yang merantau ke luar negeri, yaitu kembali ke tanah air, yang berarti kembali pada kekacauan dan keruwetan.

Pengunjung restoran, yang kebanyakan orang Indonesia, bertepuk tangan riuh setelah lagu selesai dinyanyikan, termasuk Banjar sendiri. Kali ini pikirannya kembali ke tempat di duduk, sendiri. Sesekali ia mondar-mandir ke meja orang lain, yang kebetulan memanggil. Peluh dihapuskan ke pundak berbalut kemeja putihnya. Senyum tidak pernah lepas dari bibir Banjar, selain karena hari ini adalah hari wisudanya, itu juga yang diajarkan Mbak Lia, si pemilik restoran. Belum sempat duduk, Banjar menghampiri sebuah keluarga yang melambaikan tangan, lalu dia melemparkan kalimat yang sudah dihapalnya luar kepala, sambil memegang catatan menu.

“Ada tambahan Pak?”

##

Paragraf di atas adalah potongan kisah dalam Negeri van Oranje. Novel itu sendiri bercerita tentang pertemanan lima orang mahasiswa Indonesia yang merantau sekolah di Belanda. Salah satunya adalah Banjar.

Ya, pada hari wisudanya, Banjar tetap memilih menjalani part-time job nya sebagai pelayan restoran. Ada dua cara merayakan keberhasilan, yang pertama adalah dengan merayakannya, sisanya adalah dengan tidak merayakan. Banjar memilih yang kedua. Tidak seperti teman-temannya, dia memilih untuk merayakan wisuda dengan menjalani rutinitasnya. Dia memberi sedikit jawaban :

“Buat apa saya merayakan sebuah hari bahagia, jika itu sekaligus menjadi hari perpisahan dengan orang-orang yang saya cintai”

##

Dan saya sedang merasakannya sekarang. Kuliah bareng terakhir, ujian bareng terakhir, dengan teman jurusan seangkatan. Benar memang sesuatu baru disyukuri kalau waktunya sudah akan habis, seperti sekarang ini. Mungkin itu juga yang teman-teman rasakan, sehingga tiba-tiba latah foto bareng berembel-embel ‘terakhir’.

Saya bukan termasuk orang yang pandai mengakhiri, saat bubar forum pun saya memilih menjadi orang pertama yang menghilang. Saya terlalu malas untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’, atau ‘sampai jumpa di lain waktu’. Dan saat ini pun, saya tidak memikirkan hal spektakuler untuk mengakhiri tiga tahun terakhir saya bersama Teknik Geofisika 2008, saya hanya ingin lebih banyak waktu untuk diri sendiri, banyak membaca, kadang menulis, main bareng anak-anak TERRA. Ya seperti hari biasa, seperti besok pagi bakal ketemu mereka lagi di kelas.

Meskipun itu hanya di pikiran saya.