Saya mungkin satu dari sedikit orang yang merasa beruntung menemukan kecintaan terhadap sesuatu, meskipun sedikit terlambat. Well, banyak orang yang merasa tidak memiliki minat spesifik, atau paling tidak menemukannya saat sudah berusia senja. Ambillah contoh yang paling dekat, bapak saya.

Bapak baru mengenal tenis saat sudah berusia 30-an tahun. Sebabnya jelas, raket tenis yang kadang harganya jutaan itu tentu tidak pernah terpikirkan, mengingat uang untuk kuliah saja beliau dapat dari menjadi guru SMA. Sialnya lagi, selain terlambat mengenal, bapak ternyata juga berbakat tenis. Beberapa kali bapak menjadi wakil perusahaan saat ada pertandingan persahabatan. Maka dari itu sejak kecil saya sudah diajari tenis, disekolahkan pula. Kalau saya malas latihan, dan memberi sedikit argumen, bapak biasanya ngomong: untuk pergaulan nanti, kalo sekarang emang ga kerasa. Bapak pasti bakal geleng-geleng kepala kalau tahu sekarang saya malah sering megang bat pingpong sama raket bulutangkis🙂

##

Dan rasa cinta yang saya maksud itu adalah berjalan kaki. Beruntunglah saya berkuliah di Bandung yang udaranya masih sejuk ini. Saya juga masih nyaman berjalan di trotoar jalan kota. Ada beberapa kawan yang menawarkan menemani berjalan kaki saat saya ajak berdiskusi, tampaknya mereka sudah tahu soal ini. Alhasil, kami berjalan mengitari kampus tak tentu arah sampai obrolan dirasa cukup.

Saya mendapati hal yang lebih menyenangkan ketika berjalan kaki di suasana sejuk pepohonan. Udara dingin, suara berisik hewan, napas yang tersengal, dan obrolan ngalor-ngidul adalah kombinasi aneh yang sulit dicari. Rasanya seperti ingin berhenti karena lelah namun ada yang mendorong untuk terus berjalan, atau seperti ingin mengeluh padahal ada kawan di samping yang menawari minum, atau seperti merasa sendiri padahal saya dikelilingi pohon-pohon besar.

Saya merasa seperti titik kecil di antara titik bernama pepohonan. Padahal di luar sana ada banyak kumpulan titik lain. Dan masih ada jutaan titik di belahan bumi yang lain. Saya hanyalah titik kecil rapuh jika berhadapan dengan alam. Berjalan kaki mengingatkan saya kalau betapa besarnya ‘yang ada di atas sana’, yaitu Tuhan yang telah mengatur titik-titik agar indah saat ditarik menjadi garis.

Terima kasih untuk teman-teman yang membuat saya kembali merasakan itu. Saya sudah pernah mengalaminya saat menelusuri Jayagiri, dan adalah sebuah kebanggaan kembali melakukannya di THR Juanda kemarin. Terima kasih buat Eko, Ronnie, Sapto, Saladin, Waskito, Osa, dan Desy. Terima kasih untuk tawa dan canda sederhana yang diberikan. Saya enggan bertanya kapan lagi kita akan melakukannya atas nama angkatan.

Karena, bagaimana jika orang lain yang menanyakannya?

Mungkin saya hanya diam, dan kembali berjalan.

Jayagiri

THR Juanda