Awalnya saya membenci klub ini, karena, ya tentu saja, sifat serakahnya. Awal musim 2004, klub ini mendatangkan pelatih muda yang sebelumnya sukses meraih treble bersama Porto, yang selanjutnya menamakan diri sendiri sebagai The Special One, yaitu Jose Mourinho. Pemilik klub yang royal, mendatangkan pemain sesuai permintaan sang pelatih, yang kebanyakan mahal, kadang terlalu mahal dibandingkan harga pasar sebenarnya. Sesuai tebakan, tim ini berhasil meraih gelar juara Liga Inggris, dua musim berturut-turut. Dua musim berikutnya, si pelatih dipecat karena tidak kunjung memberi gelar dambaan si pemilik, apalagi kalau bukan di Liga Champions. Setelah itu tim ini bergonta-ganti pelatih, pemilik klub, Roman Abramovich, terkesan tidak sabaran, dan inilah yang membahayakan sepakbola, karena tim yang sehat haruslah saling mengenal dalam jangka waktu lama, menurut saya. Sampai pada pelatih terakhir, lebih tepatnya caretaker, akhirnya berhasil menuntaskan mimpi Abramovich.

Ya, saya sedang membicarakan klub kaya raya asal Inggris, Chelsea. Klub ini meraih simpati saya setelah berhasil membalikkan ketertinggalan dari Napoli di babak 16 besar Liga Champions. Setelah kalah 1-3 saat tandang, Chelsea berhasil menang 4-1 di Stamford Bridge, yaitu saat pertandingan ketiga Roberto Di Matteo, si caretaker. Kemenangan itu bukan saja kembali ‘menghidupkan’ Chelsea, namun juga harga diri Inggris di kompetisi Eropa, setelah tiga wakilnya yang lain sudah rontok. Pertandingan semifinal adalah drama yang kembali mencuri simpati saya, yap, tim yang dua kali mengalahkan MU di final, yaitu melawan Barcelona.

Saya tergolong orang kebanyakan, yang senang melihat style sepakbola menyerang. Namun saya kadang lebih tertarik melihat tim yang memilih bertahan, karena seni bertahan tidak lebih mudah daripada seni menyerang, apalagi melawan Barcelona. Dan apa yang saya temukan. Pemain-pemain hebat yang jatuh bangun menjaga gawang dari kebobolan, yaitu sederet bek dan gelandang Chelsea, dan sang kiper Petr Cech yang bagi saya merupakan pemain terbaik Chelsea di semifinal dan, nantinya, di final. Kerja keras dan totalitas mereka membuat saya jatuh hati dengan sepakbola, lagi🙂

Dan laga final, melawan Bayern Munich, kebetulan dilangsungkan di kandang sang lawan, Allianz Arena. Dan saya temukan lagi taktik menarik, yaitu bertahan, menunggu serangan balik, kali ini tanpa beberapa pemain inti yang terkena akumulasi. Meski tidak melawan tim sekuat Barcelona, namun saya kembali melihat totalitas itu, jatuh bangun, duel udara, dan tackling keras. Kembali Cech memberi aura keamanan, seperti menangkap penalti Robben di babak extra time. Belum cukup, babak adu penalti kembali memperlihatkan insting tajam sang kiper : tepat menebak arah bola lima penendang penalti Bayern. Meskipun hanya bisa menepis satu.

Selamat kepada tim Chelsea, Roberto Di Matteo, dan Abramovich atas gelar Liga Champions. Selamat atas kisah heroik Chelsea musim ini : terseok-seok di Liga, berganti pelatih, meraih Piala FA, hanya menempati posisi 6 di klasemen, dan akhirnya kesuksesan di Liga Champions. Terima kasih sekali lagi, seperti yang sudah saya tuliskan, totalitas bek-bek Chelsea dalam menjaga gawang membuat saya kembali jatuh hati dengan sepakbola.