Saya menikmati kejutan, sama nikmatnya saat saya melihat gebrakan, ketidakaturan, pembangkangan. Mungkin itu sebabnya saya selalu menjaga jarak dengan birokrasi, kadang membencinya. Karena itulah saya mengidolakan sosok Dahlan Iskan, sama seperti ratusan orang lain yang telah memberikan comment positif di blog beliau, setiap minggu. Maka dari itu, tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menebus novel ini, Sepatu Dahlan.

gambar : goodreads.com

Sepatu Dahlan diambil dari kisah nyata, yaitu pengalaman masa kecil Dahlan Iskan. Si penulis, Khrisna Pabichara, melakukan riset sendiri ke kampung halaman Pak Dahlan, di Kebon Dalem, Magetan. Matahari dari novel ini adalah besarnya keinginan Dahlan kecil untuk memilliki sepatu, kumpulan planet yang mengelilingi adalah bagaimana memenuhi keinginannya itu, bulan dari setiap planetnya adalah kisah kemiskinan keluarganya. Kadang ada lebih dari dua bulan setiap planetnya, kisah kemiskinan Dahlan Iskan tersebar sepanjang cerita, dan itulah yang menjadi daya tarik utama, yang tanpa sadar sudah ‘dijual’ sejak pemilihan judul.

Mungkin beberapa dari Anda sudah ada yang tahu kalau Dahlan kecil berjalan 6 km ke sekolahnya, 12 km kalau pulang pergi, setiap hari, atau kisah kematian ibundanya yang berpuluh tahun kemudian hampir diulangi oleh Pak Dahlan, untungnya sudah ada teknologi kedokteran, dan tentu saja juga uang, atau bagaimana kehidupan Dahlan kecil tidak bisa dilepaskan dari sarungnya, baik itu untuk melawan dingin, baju pengganti, beribadah, bermain dalang-dalangan, atau dililitkan di perut untuk menahan lapar. Semuanya ada disini, dijabarkan gamblang, membuat dada saya tersekat, apalagi kalau cerita juga mengikutkan Zain, adiknya.

Tentu tidak cukup jika hanya menampilkan ‘jualan’ di atas, novel ini juga menceritakan semangat Dahlan kecil untuk bersekolah. Setelah dicambuk nilai kelulusan raport SR-nya dengan dua angka merah, ditambah dengan komentar tanpa basa-basi dari bapaknya, Dahlan kecil langsung melejit saat bersekolah di Tsanawiyah (setingkat SMP). Selain soal sekolah, masih ada lagi kisah pertemanan masa kecil Dahlan Iskan, tim voli Tsanawiyah, cinta Dahlan kecil, dan tentu saja kisah tentang sepatu yang betapa sangat diinginkannya, selain sepeda.

Karena soul dari menulis resensi adalah keseimbangan, maka harus ditulis sesuatu yang mengganjal saya. Sesuatu itu adalah pemilihan kata. Saya merasa bahasa dari novel ini terasa biasa saja, padahal materi tulisan sudah sangat kuat, karena mau tidak mau ekspektasi setiap orang akan langsung meninggi saat membaca nama Dahlan Iskan di cover. Saya mengharapkan bahasa yang lebih romantis, karena apalagi sih yang lebih seksi (atau menjual?) daripada kisah kemiskinan yang dibalut dengan semangat pendidikan?

Meskipun Goodreads masih belum bisa dijadikan acuan karena belum banyak review, tapi tetap saja, novel ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Saya sering teringat Bapak waktu membaca novel ini, bedanya, tidak seperti Dahlan kecil, Bapak saya anak yatim. Mungkin seperti ini jugalah masa kecil beliau, menahan lapar sepanjang hari, memendam keinginan untuk memiliki sesuatu, berteman akrab dengan kemiskinan, kadang tertawa bersamanya, karena seperti quote yang terus diulangi di novel ini,

Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya

Ah, saya jadi ingin memeluk Bapak🙂

Tulisan ini juga menjadi resensi di situs Yes24 Indonesia. Silakan klik disini untuk membaca.