Dalam beberapa kesempatan merenung, saya pernah berdoa untuk memiliki rumah di tempat terpencil. Rumah di puncak gunung dengan suhu yang nikmat untuk menikmati teh hangat, atau di pinggir pantai sepi dimana saya bisa tidur dininabobokan deburan ombak. Atau mungkin saya harus punya keduanya, karena saya suka udara dingin dan pantai, dua hal yang berseberangan.

Dan harus diakui, Tuhan memiliki selera humor yang bagus. Saya diberikan ‘tempat terpencil’, langsung saat ini, tanpa menunggu lulus kuliah. Bukan rumah pribadi memang, dan definisi ‘terpencil’ pun saya sendiri yang memberikan. Ya kalo Anda melihat sopir angkot yang tidak menunggu penumpang penuh untuk berangkat, atau melihat perempatan alun-alun kota yang tidak macet, atau melihat hanya satu dari empat kasir McDonald’s yang membuka antrian di jam makan malam, dan kalau itu semua belum cukup untuk kategori ‘terpencil’, sepenuhnya terserah Anda.

Ada lagi, suasana kantor juga sepi-sepi menyenangkan. Saya sudah mengira akan menghadapi ‘orang-orang penting yang sibuk, di ruang tunggu, itupun setelah dihubungi oleh resepsionis’. Ternyata tidak, mereka memiliki ‘waktu untuk mengobrol’, dan sempat menanyakan tempat tinggal saya. Entah akan ada berapa pengalaman lagi yang semakin memantapkan saya untuk memberi predikat ‘terpencil’ pada kota ini.

Saya pernah, dan akan selalu, mengutuki Jakarta. Mengutuki panasnya, macetnya, antriannya, dan ritme cepatnya. Mungkin hanya ketoprak, busway, dan bajaj Jakarta yang sulit untuk dibenci. Disini sangat berbeda, kecuali panasnya, semua terasa pelan, ramah, santai. Saya merasa beruntung pernah berada disini.

Ya mungkin saja saya sedang suntuk jadi butuh ketenangan. Iya, iya, saya juga tahu saya bisa gila kalau tidak banyak dinamika. Paling minggu depan juga udah pengen balik Bandung😀

OK, saya punya dua bulan disini. Di Cirebon. Untuk Tugas Akhir. Doakan saja semoga semuanya lancar, agar Oktober tahun ini tidak terlupakan.