Membaca tulisan Dewi Lestari, atau Dee, apalagi berhasil menyelesaikan bukunya, menjadi sebuah kepuasan tersendiri bagi saya. Namanya kerap diucapkan lawan bicara ketika sedang berdiskusi tentang penulis Indonesia. Terlebih lagi saat terbit Partikel, kisah teranyar dari serial Supernova, semakin bersliweran lah namanya diperbincangkan. Saya yang belum berani ‘menyentuhnya’, karena lebih aman untuk membeli buku dari penulis yang sudah pernah saya baca, akhirnya luluh juga. Akhirnya saya menebus Perahu Kertas dan tiga seri awal Supernova. Yap, sekaligus.

Sebenarnya saya pernah membaca Filosofi Kopi sebelumnya, dan ternyata saya tidak cocok dengan cerita pendek. Dan, ya Tuhan, membaca tulisan Dee di Filosofi Kopi mengingatkan saya pada Goenawan Mohamad. Bahasa sastra, berima, kadang bercabang. Apalagi di cerita pendek, semakin leluasa lah dia mengacaukan interpretasi. Agak berjudi memang langsung membeli 4 buku, tapi saya pikir bahasanya gak bakal gitu banget lah kalo di novel, mungkin, hehe🙂

Dibuka dengan Perahu Kertas, judul yang paling banyak disebut ketika membicarakan Dee. Bercerita tentang dua orang manusia yang ternyata saling mencintai, Keenan dan Kugy, namun kisah mereka tidaklah mulus, banyak yang datang dan pergi, dan akhirnya mereka menemukan apa yang dicari. Saya tidak tahu cerita ini akan membosankan seperti apa kalau bukan Dee yang menulis. Tidak buruk untuk membuka perkenalan saya dengan Dee, dan untuk novel-kisah-cinta pertama yang pernah saya baca.

Perjalanan saya berlanjut ke buku pertama Supernova, yaitu Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Disini saya mulai merasakan aura Dee. Dibuka dengan rentetan istilah ilmiah yang membingungkan, namun setelah itu kisah bergulir mulus, kadang mengejutkan, berbobot namun tetap dengan bahasa indah, dan dengan cerdas dapat disambung benang merahnya dengan dialog fisika yang rumit. Semua terekam pada percakapan antar tokoh dan konflik yang terjalin.

Banyak yang mengatakan kalau kebanyakan tokoh utama, cerita fiksi khususnya, sebenarnya tidak jauh dari kepribadian si penulis sendiri. Paling tidak dari cara dia menanggapi masalah. Dari dua bukunya di atas, saya bisa membayangkan kalau Dee adalah seorang perenung. Dia bisa menjadikan percakapan sederhana, menjadi dialog bernyawa. Dengan harapan yang membumbung tinggi, saya membuka halaman pertama buku Supernova kedua, yaitu Akar.

Membaca Akar seperti melihat Dee dalam versi lain. Seperti menonton Liga Indonesia setelah sebulan dicecoki Piala Eropa, sama-sama berbahasa sepakbola namun terasa ada yang hilang. Sama seperti Akar, masih berbahasa Dee, cerita juga mengalir tidak membosankan, namun rasanya ada yang tertinggal. Entah, saya tidak menemukan sosok Dee yang merenung itu. Tidak ada keterkaitan yang signifikan antara buku pertama dan kedua, mungkin itu yang ingin dicari Dee, agar bisa membebaskannya untuk menulis kisah lain, namun menurut saya malah turut membebaskan kecerdasannya pergi di buku kedua ini.

Untuk filosofi dialog yang baik, kisah cinta yang (biasanya) umum namun tidak membosankan, namun dengan ending yang mudah ditebak, saya memberi 3 bintang untuk Perahu Kertas. Untuk renungan yang dalam, konflik rumit namun tetap dibuat suprise, dan ending menggantung yang indah, saya sematkan 4 bintang untuk Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Untuk kisah pencarian jati diri Bodhi ke pelosok Asia Tenggara yang, entah, terlihat mudah sekali menjadi backpacker, dialog sehari-hari namun tetap berbobot, ending yang dari awal sudah sulit ditebak akan dibawa kemana, dan setelah ekspektasi tinggi yang saya bawa dari buku pertama, rasanya 3 bintang sudah cukup untuk Akar.

Saya menyadari sudah tidak pada tempatnya mengulas buku yang telah terbit sepuluh tahun silam. Maka dari itu abaikan saja penilaian saya tentang Akar, apalagi grafik di Goodreads ternyata baik-baik saja. Apapun itu, dengan senang hati saya akan melanjutkan ke buku Supernova berikutnya, yaitu Petir.

OK, terimakasih sudah berkunjung, dan tetap budayakan membaca!