Sekali lagi saya menamatkan novel bertemakan semangat hidup. Siapapun bisa menebak apa isi di dalamnya dengan hanya melihat judul, termasuk saya, dan itu sudah cukup bagi saya untuk segera bergegas ke Bandung menuju toko buku langganan.

gambar : goodreads.com

Sebenarnya novel ini bercerita tentang perjuangan sebuah keluarga, ya ya mudah ditebak pasti soal kemiskinan dan pendidikan. Tapi cerita dipusatkan ke sosok si ibu, tentang bagaimana dia mengatur keuangan untuk keperluan keluarganya, atau bagaimana dia memastikan tidak ada anak-anaknya yang tidak lulus SD seperti dirinya, atau bagaimana dia mengolah tempe menjadi berbagai macam masakan untuk mengakali kebosanan kelima anaknya. Tidak adil jika saya hanya memuji si ibu disini, karena toh peran si bapak juga tidak kalah besarnya. Bapak adalah seorang sopir angkot, berangkat sebelum matahari terbit dan kadang pulang saat keluarganya sudah terlelap, untuk memastikan uang SPP bisa dibayar tenggat waktu. Dua orang inilah yang menginspirasi si penulis, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan salah satu anak mereka, untuk berusaha melawan keterbatasan hidup, dan untuk menulis buku ini.

Ibuk, adalah buku kedua dari Iwan Setyawan yang pernah saya baca. Kembali dengan suasana andalannya, melankolis. Dan sama seperti buku pertamanya, 9 Summers 10 Autumns, dia kembali menghadirkan kisah perlawanan seorang anak manusia terhadap hidup. Kali ini potongan cerita dari kepunyaan ibu, dan lucunya sepertiga akhir buku malah menceritakan tentang si penulis yang dikisahkan segala langkahnya tidak bisa lepas dari restu ibu, termasuk ketika dirinya menghabiskan waktu lima tahun di Manhattan. Well, sebenarnya tidak sedikit orang yang memiliki kisah hidup ‘tidak biasa-biasa saja’, namun ada yang merasa lebih baik terlupakan, ketimbang diabadikan. Iwan Setyawan memilih yang kedua, dengan kisah menyentuh disana sini, sama banyaknya dengan puisi dan quote yang banyak bertebaran.

Tidak perlu panjang lebar saya menulis untuk merekomendasikan buku ini. Bagi yang percaya statistik, Ibuk, sudah mengalami cetakan kedua pada Juni 2012. Angka di Goodreads juga menjanjikan: 3,82 skala 5. Apalagi bagi yang sudah membaca 9 Summers 10 Autumns, buku ini melengkapi kisah masa kecil si penulis yang sudah dituliskan di buku pertama.

Salah satu signature milik Iwan Setyawan adalah dia selalu menyembunyikan sesosok tokoh dalam ceritanya. Kalau di buku pertama dia menyembunyikan sosok si anak kecil, kali ini dia menyembunyikan ‘guess who’ yang lebih seksi, yaitu si penulis sendiri. Hal inilah yang menambah nilai lebih dari buku ini, meskipun bisa saja menjadi failed karena mudah tertebak, setidaknya bagi saya🙂

Apapun itu, buku ini membuat saya jadi ingin bertemu ibu di rumah. Ibu saya yang kesepian, karena bapak hanya pulang setiap akhir pekan, dan tiga orang anaknya berkuliah di Bandung. Dan entah pengaruh buku ini atau tidak, tempo hari suara saya bergetar saat mendengar nasihat ibu di ujung telepon, padahal nasihatnya sama seperti yang kemarin-kemarin, tidak jauh-jauh dari belajar, berdoa, dan shalat tahajud.

Ah saya jadi ingin pulang.

Tulisan ini juga menjadi resensi di situs Yes24 Indonesia. Silakan klik disini untuk melihat.