Bicara soal sepakbola seperti melemparkan saya ke beberapa fase masa lalu yang berbeda. Sepakbola adalah kesenangan sederhana saat saya SD di Jayapura. Saya mudah mendapatkannya, sebebas derap langkah kecil kaki saya membabat jalanan aspal mengejar bola. Sepakbola merupakan kebanggaan jika melemparnya ke sekolah. Sebangga saat saya memakai seragam MU saat pelajaran olahraga.

Sepakbola juga bahasa lain dari apresiasi. Setinggi standing ovation dan sekencang teriakan ‘Indonesia!’ selama dua menit di stadion GBK setelah kekalahan Sea Games kemarin. Atau sekhidmat heningan cipta dan pita hitam untuk seorang kawan di hari final GFL kemarin. Sepakbola bisa berarti keikhlasan. Seikhlas suporter tim yang masih rela mendukung tim pujaannya, meskipun tim terbagi menjadi dua versi, karena sifat kekanak-kanakan orang-orang di atas sana yang berebut mengatakan ‘kompetisi saya yang paling benar’.

Namun ada satu pengertian sepakbola yang mungkin tidak akan berubah, yaitu tentang ajaran hidup yang tidak habis digali.

Kalau disuruh mencari satu keputusan sederhana yang happy ending, saya akan memilih ketika saya memutuskan berlangganan majalah Soccer, saat kelas tiga SMP. Di halaman kedua, mengambil jatah sepertiga halaman paling bawah, adalah bagian pertama yang selalu saya baca. Disana adalah tulisan dari sang pemimpin redaksi, Angriyanto Rachdyatmaka. Isinya tentang pelajaran hidup sederhana, yang inspirasinya diambil dari kejadian nyata di lapangan hijau, biasanya peristiwa yang terjadi di seminggu terakhir itu. Sayang sekali sudah tidak ada tulisan itu lagi di majalah Soccer edisi sekarang. Saya tidak ingat kapan terakhir kali membacanya.

Saya dan tulisan bisa menjadi kawan akrab. Kadang saya mencari lagi postingan atau blog seseorang, untuk berulang-ulang membaca satu dua tulisan bagus yang pernah saya baca. Tempo hari secara tidak sengaja saya menemukan blog pribadi si pimred, dan kembali membaca tulisannya. Tulisan yang pernah berhasil membuat saya jatuh hati kepada sepakbola dengan cara yang berbeda, dulu.

Bagi yang ingin membaca, silakan klik disini. Postingan ini juga sekaligus menjadi pengakuan kenapa saya sering sok-sokan nulis sepakbola hahaha

Seriously, rasanya kayak ketemu kawan lama yang dulu sering nge-teh bareng🙂