Manusia boleh berencana, Tuhan yang berkehendak. Kita boleh bermimpi, tapi tahu kapan harus berhenti. Andaikan saja saya bisa memutar waktu, satu bulan saja, ah sudahlah.

Mimpi yang indah selalu memposisikan diri untuk sulit dikejar. Masuk akal sih, kalo mudah kenapa harus menamakannya mimpi? Bilang saja sebagai keinginan, toh usahanya tidak rumit.

Dering telepon Selasa sore kemarin mengagetkan saya. Batas akhir pendaftaran wisuda kurang dari sepuluh hari lagi. Sepanjang percakapan saya tersenyum, bukan karena yang dibicarakan, namun karena saya merasa diberi jawaban.

Ternyata inilah akhir dari rentetan pertanyaan yang mengganggu saya sebulan terakhir ini. Mana yang mau diutamakan? Hasil akhir atau teori dasar? Kualitas atau kuantitas? Lulus cepet atau ngerti materi banget? Karena hal-hal di atas dibedakan dengan batas bernama waktu, jadi mau tidak mau hanya bisa dipilih salah satu, menurut saya.

Saya merenung cukup lama. Diskusi singkat saya lakukan, dengan keterbukaan, seorang senior menilai saya masih mentah. Semakin mantaplah jawaban ini, pun dengan senyum di bibir saya. Tugas tersisa, yang tidak mudah, adalah mengabari kedua orangtua. Dimulai dengan ibu, dan yang tersulit, tentu saja bapak. Setelah shalat tarawih, di sudut kantor yang hening, saya menelepon mereka satu per satu, saya berbicara perlahan, memastikan tidak ada salah kata yang terucap.

Terbersit nada sedih di suara bapak dan ibu, tapi seperti yang sudah-sudah, mereka tidak pernah mengatakan kecewa kepada saya, petuah motivasi menutup percakapan. Beberapa sahabat saya kabari, juga dengan beberapa senior yang akrab, ini sudah menjadi kebiasaan, memastikan mereka mendengarnya dari mulut saya sendiri.

Ada satu lagi hal yang mengganggu, awalnya saya berencana untuk memberikan kelulusan kepada bapak sebagai hadiah ulang tahun. Karena wisuda Oktober nanti bertepatan dengan tanggal lahir bapak, yaitu 20 Oktober. Kalau bapak tahu saya bisa dimarahin mungkin. Sudah lebih dari hitungan jari beliau mengatakan pada saya agar merakit mimpi untuk kebaikan saya sendiri🙂

Selama lebih dari dua puluh kali tanggal 20 Oktober saya lewati, baru kali ini saya berniat memberi kejutan untuk bapak, entah kenapa saya tidak diizinkan untuk melakukannya. Mereka mengatakan kalau setiap cerita akan berakhir happy ending, bagaimanapun juga sang naga tetap akan dikalahkan dan si putri cantik tetap akan diselamatkan keluar dari kastil. Akhir perjalanan yang buruk menandakan kisah masih belum habis untuk dituturkan. Atau mungkin Tuhan menyiapkan kejutan yang lebih besar di ujung jalan sana. Entahlah, rasanya kata mutiara sedang tidak mempan kali ini.

Anyway, semoga sukses untuk TERRA 2008 yang berniat mengejar wisuda Oktober tahun ini. Doa dan semangat saya bersama kalian.

Terserah mau ngomen gimana, tapi saya tahu kepala saya bisa meledak kalo ga nulis ini