Kemarin pagi setelah shalat subuh, saya baru pulang dari kampus, semalam saya menginap di lab untuk diskusi tugas akhir sekalian sahur bareng. Saat melewati kampus yang sepi, sekaligus menikmati hawa dingin Bandung, saya langsung merasa bersalah. Empat tahun, penuh emosi dan tawa, kenapa rasanya saya tidak pernah menulis gamblang soal kecintaan saya terhadap kota ini?

Saat masih bersekolah, Bandung bagi saya adalah mimpi. Apalagi kalau bukan ITB. Sejak melihat piagam  kelulusan Bapak di kabinet ruang tamu dulu, saya langsung ingin juga berkuliah di ITB. Jurusan mana urusan terakhir, toh saya juga sudah berikrar untuk masuk teknik. Terlebih lagi ketika pindah ke Pulau Jawa saat SMP, jarak menjadi bukan alasan.

Saat tahun pertama, Bandung adalah kejutan bagi saya. Lebih tepat digambarkan sebagai shock dibandingkan surprise. Rasanya semua dilemparkan bersamaan, adaptasi menjadi anak kos, persaingan mendapat nilai tinggi, bertemu beraneka macam karakter orang, pun budayanya. Ungkapan yang baik mengatakan kalau itu lah masa pencarian jati diri, meskipun saya lebih senang menyatakannya sebagai masa kebingungan.

Tahun kedua dan ketiga, terlebih lagi setelah masuk himpunan, saya tidak bisa berpisah dengan Bandung. Selalu ada alasan untuk tidak pulang saat liburan, entah itu beneran atau dibuat-buat. Ikut PROKM di liburan Juli 2009, kaderisasi di Januari 2010, bantuin wisuda Juli 2010, main olimpiade di Januari 2011, dan ngurus GFL di dua liburan setelahnya. Itu yang saya katakan ke orangtua, kenyatannya? Rasanya saya udah ngelawan semua anak TERRA di meja pingpong😀

Sekarang ini, di masa-masa sulit tugas akhir, Bandung bagi saya adalah pelarian. Jika butuh inspirasi baru, mood booster, atau sekedar mencari tawa lepas, saya menempatkan Bandung di urutan pertama, bahkan di atas rumah sendiri. Ada tiga kontak travel Cirebon – Bandung yang tersimpan di ponsel saya.

Dari kenyamanan Togamas sampai nikmatnya hunting di Palasari, dari enaknya Burger King sampai lezatnya tahu abg, dari keramaian Gasibu sampai heningnya Saraga pagi hari, dari sejuknya Lembang sampai pengapnya asap knalpot angkot, dari nyamannya kasur kos sampai kerasnya karpet himpunan, setiap lekuk kota Bandung sudah terlanjur meninggalkan keping kenangan di memori saya.

Ah, kenangan. Masih saja kata absurd itu ada. Saya refleks tersenyum, lengan sweater saya gulung sembari meneruskan langkah di jalanan kavling kampus, dingin tidak lagi terasa.