Kampung saya merupakan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Pagi hari dibangunkan sahutan ayam berkokok, senja ditemani suara anak-anak burung yang berebut biji-bijian, malam hari yang hening dininabobokan suara jangkrik. Tetangga-tetangga juga menyenangkan. Kami sering bersenda gurau, menanyakan kabar satu sama lain, tidak ada alasan untuk tidak tersenyum. Setiap saat terasa nikmat untuk menyeruput teh hangat.

Tapi bukan itu yang akan saya bicarakan. Saya akan menulis masalah kami, yang sudah lama terasa mengganjal, yaitu jalan kampung kami yang rusak. Kami tidak tahu apa penyebabnya, sejauh yang saya lihat hanya sesekali motor lewat, apalagi mobil, yang banyak pun paling hanya rombongan kerbau, yang setiap pagi harus dibawa ke padang rumput.

Kami membayangkan, bagaimana kalau jalan kampung mulus seperti yang kami lihat di ibukota itu? Tentu saja kami akan lebih sering berjalan berkunjung ke tetangga-tetangga, jalan kaki ke musholla untuk shalat isya cukup diterangi cahaya bulan karena tidak ada lubang yang perlu dihindari, tentu sepeda butut keluarga itu akan lebih sering dikendarai untuk ke warung kopi, membicarakan sepakbola, menertawakan pemerintah, melupakan kemiskinan kami barang sejenak. Ah indahnya.

Singkat cerita, dikoordinir oleh ketua RT, uang untuk perbaikan jalan yang dinanti telah terkumpul. Bukan dari pemberian orang lain, namun hasil patungan dari uang kami. Tidak usah dituliskan bagaimana sulitnya kami mengumpulkan uang sebanyak itu, mimpi sederhana ini harus terlaksana. Tidak perlu juga dituliskan betapa bahagianya saat kami membangun jalan itu. Haus, kepanasan, letih tidak kami rasakan, tidak perlu waktu lama, jalan mulus yang kami impikan akhirnya jadi.

Benar saja, kampung terasa lebih hidup. Mulai ada beberapa pengendara motor yang sudi untuk lewat, saya lebih sering berpapasan dengan sepeda lain saat pergi mengajar, sore hari mulai ramai orang-orang tua yang berjalan kaki untuk menikmati kampung kami yang sudah indah dari sananya, semua berjalan sesuai dengan yang sudah diperkirakan. Oh ada yang di luar perkiraan, beberapa hari ini kami sekampung sampai tidur di jalan. Tikar digelar, sekalian bantal, selimut, dan sarung, kami menyisakan cukup ruang di tengah jalan, siapa tahu pak walikota datang dengan mobilnya untuk mengucapkan maaf karena lupa memperbaiki jalan kampung, atau mungkin kami akan bangun kesiangan sehingga rombongan kerbau tetap bisa melintas. Hanya dengan ini rasanya kami bisa mengucapkan syukur. Kami tidak ingin jalan ini dicuri orang. Sampai pada suatu ketika.

Pada suatu malam larut yang tenang, terdengar raungan motor dari kejauhan. Lama kelamaan makin kencang, dan datanglah bencana itu. Jalan kampung dijadikan balapan liar! Tidak ada lagi suara jangkrik, yang ada hanya bunyi knalpot yang meledakkan telinga. Dan ini berlangsung setiap malam. Rasanya tidak ada dari mereka yang pernah saya lihat, termasuk murid-murid di kelas saya. Tidak ada dari kami yang berani menegur, termasuk ketua RT. Setiap malam kami berdoa agar besok malam mereka mencari kampung lain untuk diganggu. Pada minggu kedua, saya sudah tidak tahan, saya menyiapkan sebuah rencana. Hari ini adalah malam terakhir saya berdoa, karena esok hari saya yakin mereka tidak akan datang lagi.

Seusai shalat subuh, saya mengambil palu, linggis, apapun dari gudang. Sengaja sebelum matahari terbit agar tidak ada yang melihat apa yang akan saya lakukan. Saya akan merusakkan lagi jalanan kampung, setidaknya jalan di depan rumah. Ada sedikit keraguan, namun harus ada tindakan. Setelah menimbang masak-masak, dengan bismillah saya membuka pintu rumah.

Betapa kagetnya saya. Ternyata warga lain juga sedang menghancurkan jalan kampung!

Sampai siang kami merusakkan jalan, setiap orang ‘bertanggung jawab’ untuk jalan di depan rumahnya. Kami hanya saling menyapa, tidak ada obrolan, senyuman, atau canda. Kami sadar tidak hanya sedang menghancurkan aspal, namun juga mimpi kami yang sudah susah payah digapai. Namun apalah gunanya mimpi jika keadaan tidak semakin membaik?

##

Cerita di atas menyadarkan saya pada sesuatu, semua hal akan menjadi indah jika kita melupakan persepsi. Tokoh ‘saya’ yang tidak ingin ke musholla dengan repot-repot membawa senter, menggunakan alasan jalan berlubang untuk jarang mengeluarkan sepeda, ingin lebih sering ke warung kopi untuk membicarakan sepakbola, pemerintah, melupakan kemiskinan. Tanpa disadari kalau pikirannya lah yang mengerucutkan makna keindahan itu sendiri.

Bukankah sebelum itu hari-harinya sudah indah? Bukankah sudah ada irama alam yang menenangkannya di pagi, sore, dan malam? Bukankah teh sudah nikmat untuk dinikmati setiap saat?

Segalanya akan tetap baik-baik saja andai kita sedikit meminggirkan ya itu tadi, persepsi, jika kita memaafkan diri sendiri, melepaskan kegagalan ekspektasi. Meskipun saat ini saya sedang berusaha melakukan itu, izinkan saya melakukan hal yang lebih jauh, yaitu meminta maaf kepada orang lain. Maafkan atas segala kesalahan yang pernah terucap, tergores, tertulis. Entah kesalahan itu disengaja atau tidak, senja akan terasa lebih romantis jika maaf itu ada.

##

Kisah di atas adalah kisah yang pernah saya baca ketika anak-anak dulu. Saya tuliskan kembali dengan sedikit (ok, banyak sebenernya) perubahan, khususnya soal teh dan sepakbola. Sekali lagi, mohon maaf lahir dan batin.