Akhirnya saya kembali kesini. Kota membosankan yang lebih cocok untuk bersembunyi dari pantauan dunia. Sebagai tanggapan atas pertanyaan tak terjawab beliau Senin siang kemarin:

Kenapa Anda masih memaksakan metode ini?

Bahkan hal-hal retoris pun masih tersedia jawabnya. Klise.

Saya uring-uringan. Senyum yang tersemai sebelumnya menguap entah kemana. Saya masih ingat menebar senyum ke penjuru kantor seminggu lalu, ingin memberi tahu mereka itu hari-hari terakhir saya, dan tentu saja agar tidak lepas kontak. Ternyata besok kita masih akan makan malam bareng. Mengomentari konyolnya wasit Liga Inggris di weekend nanti, atau saling mengeluh kenapa memilih mengunjungi workstation di Sabtu siang.

Saya tidak tahu kejutan apa lagi yang terhampar di depan. Setelah kejadian yang kemarin-kemarin. Bahkan support kawan-kawan pun melebihi ekspektasi saya. Sederhana, sering diucapkan, tapi tetap masih menguatkan.

Semangat Re, kalo ga pusing bukan bikin TA namanya. Aku bisa ngomong gini karena pernah ngerasain. Ntar kamu juga bisa ngomong gini ke angkatan bawah.

Santai Re, kalo mau sidang Desember bakal kutemenin kok.

Inget ya, disana kamu berjuang sendirian. Maju atau ga nya semua ada di kamu. Sukses Re.

Semangat yaaa buat TAnya…😉

Ah teman-teman. Apa lah jadinya saya tanpa kalian.

Saat saya memikirkan ini di travel, mendadak semuanya sedikit buram. Ah ada-ada saja, air dari mana ini, jelas-jelas di luar tidak hujan.