Saya percaya manusia bisa, bakal bahkan, berubah. Apa yang pernah dirasakan kemarin, pastinya akan berbeda saat ini. Setiap pertemuan, persinggahan, apa yang didengar, dibaca, dilihat, mau tidak mau membuat kita menjadi orang yang tidak pernah sama dengan sebelumnya. Termasuk soal ini. Termasuk saya.

Saya masih ingat obrolan-obrolan itu, baku balas pesan itu, telepon saling bertanya kabar itu. Tentu juga saya masih ingat ketika makan satu meja, dimana saya menambah eskrim berkali-kali, sedangkan dia bersikukuh dengan sodanya. Atau saat bertukar pikiran tentang buku yang menarik, berdebat soal makanan favorit, atau menertawakan takdir yang senang memberi kejutan.

Saat ini, saya mencoba melebur ke keramaian, menyembunyikan diri di balik kerumunan, juga berlari ke keheningan, menampakkan diri di hadapan malam, pun keduanya, dengan duduk seorang diri di sudut restoran. Saya merenung, mencoba menemukan sesuatu yang entah itu apa. Semuanya untuk mencari. Satu yang pasti kawan, rasa itu sudah tiada.

Mau nanya dong, emang kamu nganggep aku apa sih?

Saat itu saya merespon defensif. Kalau pertanyaan ini diajukan lagi, sekarang, saya siap menjawab dengan dada tegap. Karena kita sudah seharusnya untuk tegas, bukankah itu juga yang pernah kamu katakan, suatu waktu?

Lelaki boleh memilih dan menolak, namun tidak boleh menyesal. Kita pernah saling menyemangati, bertukar tawa, dulu, pada sebuah masa. Saat terhampar pilihan, dimana kawan menjadi salah satunya, dan bukan yang terburuk, bukankah kita juga bisa melakukannya sebagai seorang kawan bukan, kawan?