Tempo hari saat turun dari bis, saya dihampiri tukang becak, tentu saya mengerti apa yang akan dia tanyakan, maka saya langsung katakan tempat tujuan,

Naik becak aja Mas?

Ga usah Pak, kan jauh..

Loh terus kenapa?

Langkah saya terhenti. Tukang becak di kota pesisir Jawa Barat ini ternyata heran saat saya menolak tawarannya dengan alasan jarak. Saya sedikit kaget, merasa harus diam mematung untuk berpikir.

Iya ya, kenapa saya malah kasihan ke abang becaknya, toh nanti bakal dibayar lebih mahal kan kalo jauh?

**

Momen itu terlintas begitu saja saat saya menyadari ternyata kurang dari enam jam lagi Indonesia akan bertanding di Piala AFF. Tepatnya malam nanti dengan pertandingan pembuka melawan Laos. Kenapa ingatan tentang ‘kasihan dengan abang becak’ muncul di saat membaca timnas? Berarti alam bawah sadar saya juga kasihan dengan PSSI dong?

Mungkin ini juga yang dirasakan masyarakat seantero nusantara. Sekian kali Piala Tiger, sebelum berubah menjadi Piala AFF, prestasi terbaik Indonesia ‘hanyalah’ runner-up. Kenapa harus ditambahi ‘hanyalah’? Karena sepakbola sudah melekat di urat nadi Indonesia, auranya menembus sekat-sekat masyarakat segala tingkat. Tidak semua negara Asia berani (atau nekat?) menyalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia, dan tidak semua masalah bisa menyatukan bangsa seperti sepakbola. Sampai sekarang timnas masih belum bisa bicara banyak, bahkan di level Asia Tenggara. Wajar kan kalo kita kasihan?

Masalah lain adalah timnas Indonesia di Piala AFF nanti bukanlah amunisi terbaik, siapapun tahu itu, termasuk Nil Maizar. Beliau hanya sial, mendapat amanah pada waktu yang kurang tepat, yaitu saat dualisme PSSI dan KPSI. Bahkan sempat ada dua timnas, freak, dan kita tahu pemain langganan garuda berada di ‘timnas yang satunya lagi’. Saya memang tidak sempat menonton pertandingan uji coba beberapa hari yang lalu, namun saya banyak membaca berita. Saya tidak yakin dengan kualitas permainan seperti sekarang apakah Indonesia bisa lolos dari Singapura dan Malaysia. Lebih jauh lagi, jika lolos semifinal apakah GBK akan semeledak biasanya? Sedikit lebih jauh lagi, apakah saya mau datang lagi ke GBK untuk menonton Indonesia versi sekarang?

Sampai di sini, mulai ambigu perasaan kasihan yang saya rasakan. Saya lebih kasihan ke timnas atau ke diri sendiri yang enggan pergi jauh-jauh ke GBK? Mungkin pertanyaan itu juga pantas diajukan ke kasus abang becak, saya lebih kasihan ke abangnya atau sebenarnya malas membayar mahal? Tampaknya saya harus lebih berhati-hati dalam merasakan kasihan. Jangan sampai orang lain dijadikan alasan padahal saya mengasihani diri sendiri. Sudahlah, membingungkan.

Pokoknya, tetap sukses untuk timnas Indonesia. Target maksimal dengan skuad minimal. Laos masih bisa dikalahkan. Untuk partai melawan SIngapura dan Malaysia? Tenang, kita punya ungkapan bola itu bundar kok.