Dilihat berkali-kali pun rekaman interview Rhoma Irama dengan Najwa Shihab tidak pernah membosankan. Entah saya yang terkesima dengan kemampuan si tuan rumah bermata jelita atau iseng saja ingin berkata “nah kan..” pada setiap jawaban Si Raja Dangdut. Ekspresi itu berarti saya sudah menebak tingkat kerumitan jawaban beliau, saya orangnya realistis kok hehe

Ada lagi sebenarnya yang membuat saya penasaran, bagaimana ya kalau beliau tidak memakai kacamata hitam? Tentu mimik lengkap wajahnya akan menggenapi keisengan saya dalam menikmati jawaban. Kan mata tidak pernah bohong, tanya saja kepada si pewawancara, sampai-sampai nama acaranya diambil dari situ.

Namun, pikiran saya berada di tempat lain. Saya memikirkan sesosok pria lain, namun tetap dengan kacamata hitam, meskipun berbeda fungsi. Kali ini dia tidak gemar berbicara mengutip ayat-ayat kitab suci, tidak juga memaksakan berbicara tentang negara, dia hanya berujar tentang masa kecilnya. Masa kecil yang begitu gelap, literally, karena dia terlahir buta. Saya sedang membicarakan Tom Sullivan, saya sedang membicarakan bukunya yang berjudul Adventures in Darkness: Memoirs of an Eleven-Year-Old Blind Boy.

Buku ini menceritakan masa kecil si penulis, dimana dia berusaha kabur dari asrama sekolah berkebutuhan khususnya, untuk mendapatkan kesenangan hidup seperti anak normal lain. Satu hal yang mengganggu Tom kecil, yaitu ada apa di balik tembok halaman rumahnya, yang dijaga begitu protektif oleh sang ibu. Kita semua tahu akhirnya Tom bisa melewati tembok itu, yang membawanya mendapatkan seorang teman, beberapa musuh, pengalaman tak terlupakan dengan ayahnya, tangis saling memaafkan bersama kakaknya, sebuah perkelahian, ditambah dengan pertengkaran kedua orang tuanya.

Satu hal itu pula yang mengganggu saya.

Bagaimana kalau pria berkacamata hitam kita, yang sedang diwawancara, juga sedang ingin tahu ada apa di balik tembok? Bagaimana kalau si mata jelita berada di posisi menjaganya agar setidaknya tidak keluar jauh dari tembok? Para penonton mengerti seperti apa jawaban beliau ketika ditanya beberapa hal umum dari luar tembok. Akhirnya pun kita tahu bagaimana media sosial kembali memperlihatkan wujudnya sebagai hakim tak berupa.

##

Keterpanggilan sebagai anak bangsa. Susunan kata indah yang kerap Anda lontarkan. Indonesia adalah bangsa demokrasi, kita tahu itu. Kebebasan berpendapat tetap ada batasnya. Menyebutkan salah satu etnis sebagai ancaman adalah sebuah hal yang sangat tidak etis, seperti yang dikatakan oleh si pewawancara. Dengan mengatakan ‘tidak tahu’, atau dalam versi Anda ‘saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab’, Anda ingin berkata jujur, meski bagi saya itu mencari aman. Okelah untuk APBN, namun subsidi BBM adalah hal umum, orang yang melek politik pasti siap berargumen di topik itu.

Dua hal yang mungkin terjadi, pertama, level Najwa Shihab memang terlalu tinggi untuk Anda. Kedua, level calon presiden lah yang terlalu tinggi untuk Anda. Jarang sekali saya menulis seperti ini, selamat ya Abang bisa memaksa saya nulis politik di blog.