Tags

Satu hal yang berhasil ditegaskan penulis di buku ini: kematian, bagaimanapun kondisinya, adalah pertarungan milik sendiri.

gambar: goodreads.com

gambar: goodreads.com

Cerita sebenarnya banyak dihiasi ‘pernak-pernik’, seperti penggambaran suasana penduduk pribumi yang murung, kesederhanaan arsitektur rumah warga, debu dan teh yang menjadi kawan akrab sepanjang perjalanan, dan tentu saja dialog antara penulis dengan berbagai macam orang yang pada akhirnya membawanya mengenal Afghanistan, meskipun itu semua tetaplah menjadi pelengkap cerita.

Inti kisah mutlak ada pada penulis, yaitu konflik yang terjadi di dalam dirinya, tentang bagaimana menghadapi kematian. Kematian yang ditemui bukan hanya jasmani, ya benar si penulis memang mengalami kelelahan dan kelaparan yang sangat di perjalanannya, melainkan juga rohani. Nuraninya sekarat ketika merasa dibohongi saat diberi harga mahal untuk menumpang mobil, atau merasa ada yang salah ketika para penduduk yang miskin tetap bersedia untuk menjamunya dengan teh hangat, atau merasa nyawa manusia hanya hal sederhana karena ‘kehidupan-kembali-normal-tiga-jam-setelah-sebuah-bom-meledak-di-Kabul’.

Ada keresahan, rentetan pertanyaan, keharuan, yang digambarkan dengan indah melalui percakapan sederhana dan bergelas-gelas teh tawar hangat. Tapi tetap saja, kesemuanya terasa dibungkus dalam suasana hening kematian, dan lagi-lagi itu adalah soal kesendirian.

Agustinus Wibowo menunjukkan inilah yang dicari dari perjalanan ke tempat asing, kesemrawutan birokrasi, kelaparan dan kedinginan karena tidak ada uang, naik-turun truk reot untuk berpindah tempat, melihat dari dekat wajah sebenarnya dari sebuah negara sampai ke pedalamannya, dia mendapatkan semua yang memang seharusnya didapat oleh seorang backpacker. Buku ini merupakan catatan pribadinya sebagai seorang petualang, tidak mencari seperti yang ada di brosur, tapi benar-benar hidup bersama masyarakatnya, makan, berbicara, dan berpikir seperti orang-orang di sekitarnya.

Dengan gaya bahasa penuturan yang tidak biasa, dipadu dengan penggambaran eksotisme Afghanistan yang cantik, tidak ragu saya memberi angka 4.5 skala 5 untuk Selimut Debu. Statistik di Goodreads juga enak dilihat, mendapat poin 4.41. Merupakan kisah backpacker kedua yang saya baca setelah The Naked Traveler, namun Selimut Debu terlihat lebih ‘keras’ karena negara yang dikunjungi juga tidak main-main.

Buku ini sayang untuk dilewatkan. Khususnya bagi Anda yang berjiwa petualang.

*Review ini diikutsertakan dalam 2012 End of Year Book Contest

2012 contest*(edited on January, 3rd 2013) Review ini menjadi salah satu pemenang dalam 2012 End of Year Book Contest