Di atas pasir yang masih terasa hangat, saya duduk tak berkawan sore itu. Menatap senja jingga keemasan yang perlahan hilang. Entah mana yang benar, dirinya yang ditelan malam atau ombak-ombak itu yang melahap matahari sore. Saya terdiam, berpikir. Beratus-ratus sajak mengagungkan senja, puluhan penulis begitu mencintai langit penghujung hari. Apa sebenarnya yang mereka cari?

Memaknai kehilangan? Senja adalah bukti ketidakabadian. Berada di tepian siang, muncul sekelebat mata, lalu digantikan malam. Menikmati senja sama saja melihat kematian. Kematian siang terik, kematian semangat menyala. Saya tidak habis pikir seseorang rela menghabiskan secangkir kopi untuk menikmati kematian yang bernama senja. Seakan kematian-kematian kecil sepanjang hari masih belum cukup. Lalu, apa sebenarnya yang mereka cari?

Optimisme awal baru? Senja menjadi satu dari sekian banyak hal klise di langit. Menawarkan jingga menyala, hanya untuk mengantarkan pekat malam. Mencintai senja mungkin tidak ada bedanya dengan mempercayai ketidakpercayaan. Apakah senja merasa keindahannya akan membuat gelap malam akan lebih diterima? Saya tidak mengerti mengapa begitu banyak yang membawa kamera sore itu. Haruskah ketidakpercayaan sampai diabadikan? Sekali lagi, lalu apa sebenarnya yang mereka cari?

Pengalih perhatian dunia? Senja bisa menempatkan diri sebagai pengingat waktu. Untuk orang yang seharian belum melihat matahari, sebagai penanda inilah saat terakhir mereka menikmati silaunya. Sama saja sebenarnya dengan membohongi diri sendiri, dan yang lebih menyedihkan, senja telah membohongi matahari. Senja seakan membuat orang yakin telah menghabiskan hari dengan menikmati matahari, hanya dengan menontonnya ditelan horizon? Untuk apa anak-anak itu berlarian menghindari kejaran ombak keemasan, padahal itulah warna pertama yang mereka lupakan sepanjang hari. Apa sih yang dicari dari sepotong senja?

Saya masih duduk terdiam. Warna jingga semakin berat, bukti bahwa memang tidak banyak yang kekal, termasuk senja. Sesekali menutup mata, berusaha untuk tidak dikelabui olehnya, menajamkan pendengaran, suara ombak memang lebih jujur. Begitu banyak asumsi, begitu banyak penyangkalan. Mungkin lebih baik saya menutup mata, bukan untuk tidak peduli, namun untuk menghargai perbedaan. Seraya berteriak lantang: hei dunia, kejutkan saya lagi!

IMG_20121120_180225