Terasa sudah lama sekali sejak kali terakhir kesini. Saya datang sendiri. Perlahan masuk ke ‘rumahnya’, tetap dengan alas kaki. Tidak banyak membawa bingkisan, hanya sebotol air, seperti biasa.

#

Kamu suka warna apa?

Aku suka warna hitam. Simpel. Kalo kamu?

Aku suka hijau atau cokelat. Warna itu bisa bikin aku tenang.

Hmm tropis sekali ya warnanya hehe

‘Tropis sekali warnanya’. Komentar macam apa itu. Ternyata memang dari dulu saya tidak pandai berbasa-basi.

Saya mendekat. Suasana hening, dia masih tak bergeming, tetap nyaman dengan selimut cokelatnya. Cuaca hangat pagi ini, apalagi dengan kaos hitam saya, semoga dia tidak kepanasan di balik sana.

“Gimana kabarmu? Sorry ya baru kesini, baru sempet pulang”

#

Nanti temenin jalan-jalan lagi ya!

Ban sepedaku bocor. Gimana dong hehe (jangan bilang gak, jawab defensif aja, inget sore sudah ada janji dengan ibu)

Gapapa. Kamu pake motor aja, aku pake sepeda. Muter-muter komplek kayak kemarin.

Kamu capek dong kalo gitu

Gapapa, kemarin juga kayak gitu kan hehe. Mau ya?

Boleh deh…

“Aduh, sorry2 lupa, aku udah ada janji sama ibu ternyata, lain kali aja ya hehe”. Pesan singkat itu saya kirim langsung setelah sampai rumah. Cih, ngomong ‘gak’ ke cewek aja ga berani.

Saya tidak perlu janji untuk datang kesini. Dia bisa ditemui setiap saat sekarang. Setidaknya saya sudah tahu dimana harus mencari. Orang lain juga berpikiran sama nampaknya. Tempat tidurnya bersih. Pot bunga mungil itu juga terisi air, meski bunganya tidak segar. Sudahlah, toh yang berwarna hijau bukan bunganya.

#

Ya, selamat ulang tahun. Duh maaf banget ya telat ngucapinnya

Ya? Siapa lagi yang memanggil saya seperti itu. Nomor asing ini langsung saya balas,

Makasih ya, sorry juga belum ngucapin ultahmu yang bulan lalu! Haha

Saling lempar pesan maaf itu terjadi dua tahun sejak lulus SMP. Berarti dua tahun pula kami sudah jarang kontak. Beda sekolah bisa menjadi alasan utama.

Gimana kabarmu Za?

Panas semakin terik, beneran deh semoga kamu gak kepanasan ya disana. Saya berjongkok, membuka tutup botol air, menyirami selimut cokelatnya perlahan. Sedikit sisa air saya tambahkan ke kendi di sebelah pot.

Saya menutup mata sebentar. Berdoa perlahan, sambil memegang nisan. Setelah menyiramkan sisa-sisa air, saya berdiri. Kunjungan kali ini tidak lama, seperti biasanya. Bersiap keluar, sayang, kata-kata itu sudah tak tertahankan.

“Selamat ulang tahun ya Za. Sorry udah lewat sebulan hehe. Susah banget nyari waktu pulang. Baik-baik kamu disana”

Tangan saya masih memegang nisan.

In memoriam of Rieza Dirga Agustin

18 November 1989 – 30 Juni 2010