Membukukan blog pribadi, bukan hal baru, namun tetap terdengar menarik. Entah dengan tulisan-tulisan di blog saya yang rata-rata panjangnya hanya 300an kata itu, sampai kapan baru terkumpul satu buku. Kebanyakan tulisan masuk kategori uncategorized pula, tampak random sekali kalo disatukan haha. Sudahlah, biarkan saya mereview ‘blog yang dibukukan’ milik orang lain dulu.

20130113_194209Berjudul Cinta di Ujung Jari, karya dua orang penulis yang tumblr nya hampir saban hari rajin saya buka, Nayasari Aissa dan Muhammad Akhyar. Karena ada dua tangan, tampaknya lebih fair kalo saya mereview tulisan tiap orang.

Tak terjawab. Itu yang berbekas dari tulisan-tulisan pendek Akhyar. Setiap cerita butuh jawaban, dari sana lah kita tahu bahwa kisah sudah berakhir. Penulis seakan ingin mengatakan kalau ternyata ada akhir selain ‘ya’ dan ‘tidak’, yaitu membiarkannya tetap menjadi pertanyaan. Sudah sejak lama pertanyaan ini bergemuruh: kenapa harus ada cerpen? Bagaimana bisa emosi dibangun sempurna dalam tiga halaman tulisan saja? Dee pernah memberi pandangan tentang indahnya cerpen, dimana penulis dimanjakan dengan keingintahuan pembaca akan kisah ‘edisi depan’, namun saya harus menyalahkan diri sendiri yang tidak cocok dengan itu.

Namun tak apa, dengan cermat tulisan Akhyar ditempatkan sebagai pengawal tulisan Naya, menurut saya. Dan tentu saja ada tulisan favorit saya disana, yaitu Arloji. Bukan menurut saya saja sepertinya, Arloji ditempatkan di tulisan paling terakhir soalnya hehe.

Oke, sekarang kita ke tulisan Naya.

Membaca tulisan Naya, saya mendapat ujian terbesar seorang pembaca, yaitu menyingkirkan asumsi dalam pikiran. Jangan salahkan saya sepenuhnya, sosok Utara si mantan kahim, tim pemilu kampus, Masjid Salman, pecel Madiun, atap Ciroyom, bahkan ada nama Yadi, semuanya terasa dekat, tidak bisa tidak saya harus bertanya sepanjang buku: Ini kisah nyata ya? Pasti sudah berulang kali si penulis menghadapi tanda tanya ini hahaha

Kisah Utara dan Naira mengalir apik, arusnya melupakan waktu untuk terus melahap buku, kelokannya menyadarkan kalau lika-liku cinta terlalu indah untuk dilupakan, riaknya melengkapkan ekspresi, senyum, kaget di tengah kisah, lalu tersenyum lagi di halaman terakhir. Begitu natural, begitu dekat. Ini beneran kisah nyata kan ya? Sudahlah.

Selamat membaca. Ga akan kecewa kok. Untuk yang percaya visual, cover depan sudah cukup menceritakan. Si pria tetap ngotot memayungi, sedangkan tangan lain menarik pelan baju sang kekasih, yang tetap diam memunggungi. Emosional.

Akhir kata, selamat untuk kalian berdua. Tetap berkarya di tumblr masing-masing, jangan kecewakan ribuan follower kalian haha. Ditunggu dengan tangan terbuka buku keduanya, entah buku sendiri atau tetap berdua seperti ini. Salam kenal ya!