Jarkom H-1 saling mengingatkan. Atribut merah, sarung, baju ganti, sudah sarapan, dan jangan bawa barang terlalu banyak. Tas ransel di punggung, semangat membuncah di dada. Pagi itu kami berenam naik travel dari Bandung ke Jakarta dengan satu tujuan, Gelora Bung Karno. Kami hanya punya tiket GBK kelas kesekian dan tiket pulang keesokan harinya. Menginap dimana itu urusan nanti, Indonesia Malaysia terlalu menghabiskan ruang untuk bermimpi.

Ya, kita kalah adu penalti pada akhirnya, semua begitu peduli dengan medali emas SEA Games yang direbut negara tetangga, seakan lupa kalau kita juara umumnya, semua tahu itu. Benar, remuk badan kami keesokan harinya, akumulasi teriakan, umpatan, keringat menahan emosi, peternakan nyamuk ganas di musholla Stasiun Gambir tempat kami bermalam, dan entah apa lagi.

Apakah kami kecewa? Tidak. Terlalu banyak yang bisa dikisahkan. Apakah ingin melakukannya lagi? Kenapa tidak. Kecuali pertanyaan diajukan 2 minggu setelah kekalahan saat itu, dimana mulai muncul benih dualisme PSSI dan KPSI. Dengan buntut mundurnya pelatih Rahmad Darmawan. Malah muncul pemikiran ekstrem di kepala: apakah saya ingin menonton timnas Indonesia lagi, bahkan di layar kaca?

##

Bahkan di televisi, apakah saya sudi menonton timnas lagi. Keraguan yang semakin terhapus seminggu terakhir. Tentu senang bukan kepalang melihat timnas sepakbola Indonesia menjadi, dan memang seharusnya hanya, satu. Lupakan dulu lah soal pelatih yang dipecat, soal kompetisi bagaimana nantinya, soal siapa ketua PSSI jadinya. Saya juga tidak peduli hasil akhir pertandingan kemarin. Bisa melihat starting line up timnas yang ‘benar’, serta euforia GBK yang sudah semestinya seperti itu. Sudah itu saja dulu.

Selamat timnas Garuda. Selamat Indonesia. Selamat GBK yang kembali merah menyala. Semoga mimpi melihat timnas di Piala Dunia lekas menjadi nyata.