Seberapa jauhnyakah ‘jauh’ itu?

Setelah dibuai keindahan negeri-tak-terjamah Asia Tengah pada Selimut Debu dan Garis Batas, Agustinus Wibowo membuka kisah dengan pertanyaan membungkam di atas. Waktu dan jarak dihabiskan manusia untuk menaklukkan kata ‘jauh’, sempatkah kata itu dimaknakan? Sampai titik ini, lima ratusan halaman Titik Nol berikutnya serasa akan mengobrak-abrik definisi saya tentang perjalanan.

gambar: goodreads.com

gambar: goodreads.com

Kisah dibuka dengan penulis yang berjibaku untuk mendapat kursi keras kereta dalam perjalanan hampir 44 jam Beijing-Urumqi. Terlalu cepat? Tidak juga. Dalam perjalanan kadang sedikit bias antara awal dan akhir. Seperti kata penulis, perjalanan sebenarnya berbentuk melingkar, bertemu di satu titik. Bila perjalanan dapat dianalogikan sebagai waktu, maka dirinya bisa lambat bisa singkat. Abstrak. Bagi saya, buku ini pun merupakan perjalanan, dan waktu serasa cepat. Tiba-tiba saja penulis melompat ke Tibet, Nepal, Bhutan, India, Pakistan, dan terakhir Afghanistan.

Sementara itu, dalam dimensi waktu yang lain, Agustinus juga melakukan perjalanan yang tidak kalah seru. Kali ini bersama sang ibu, di ranjang rumah sakit, melawan kanker. Disini waktu, bagi penulis, sudah menunjukkan jati dirinya yang nyata. Dimana Sang Waktu akan tetap melahap hari, sebanyak apapun kisah yang ingin dibacakan penulis untuk meninabobokan ibunya, untuk mengulur waktu.

Safarnama. Dalam bahasa Persia berarti catatan perjalanan. Sesederhana itu penulis menganalogikan kisahnya. Logis, karena suatu hal justru lebih indah dinikmati jika tersaji sederhana, seperti sebuah perjalanan. Penulis tidak membanggakan dirinya yang sanggup menyatu dengan budaya lain, berbicara dengan bahasa mereka, berpikir seperti mereka, melakukan rutinitas yang sama dengan mereka, hidup di dunia mereka. Seperti Selimut Debu dan Garis Batas, sekali lagi Agustinus menunjukkan bahwa inilah hal yang seharusnya dicari, dan didapatkan, oleh seorang backpacker. Melihat dengan perspektif baru, bukan menandingkannya. Menghargai, bukan mengacuhkan perbedaan. Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, sekaligus ke dalam diri.

Dibandingkan dua novel sebelumnya, novel ini terasa lebih menarik, dimana ada dua kisah perjalanan paralel di dalamnya. Salah jika Anda mengira kisah backpacker yang penuh peluh tidak akan sinkron dengan cerita muram di ranjang rumah sakit. Dengan cerdas penulis dapat mengaitkan potongan dua perjalanan itu menjadi senada, seirama, sampai ada kebingungan di beberapa titik, pengalaman fisik lintas bahasa penulis lah yang mengilhami percakapan romantis dengan sang ibu, atau perjalanan spiritual menembus waktu bersama ibunya yang lebih menginspirasi.

Saya tidak ragu memberi nilai 4.5 skala 5 untuk Titik Nol. Bagi Anda yang tertarik dengan dunia backpacker, rasanya tidak perlu ragu untuk menjamah novel ini. Kisah ini tidak sama dengan cerita backpacker umum, dimana kisah akan berkisar perjalanan fisik, berjalan, dirampok, roboh, bangun, jatuh lagi, ditolong penduduk sekitar, dan seterusnya. Penulis hadir dengan sikap yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu pasrah, stagnan, saat dia menghadapi tubuh lemah ibunya. Saya setuju dengan fakta bahwa, ada masa saat kita seharusnya tidak melakukan apa-apa, karena ada porsi yang tidak bisa disentuh, yang berarti kita percaya ada Tuhan disana.

Titik Nol, seperti kisah backpacker lain, tidak alpa dalam mengajarkan bahwa perjalanan adalah tentang pencarian jati diri. Yang istimewa, dengan segala dinamikanya, Titik Nol juga menunjukkan perjalanan adalah jalan panjang dalam pencarian Tuhan, atau setidaknya belajar melihat keberagaman definisi tentang Tuhan. Selamat Mas Agustinus, keindahan kisahnya termasuk yang sulit dijelaskan.