Bergantung pada kenangan yang membayang, dunia dipandang dengan tidak sama. Mari saya perkenalkan sebuah benda yang terlupakan, yang seenaknya saja diputuskan kapan saatnya menyala, yang kerap dibiarkan sendiri di tengah taman gulita, yang tertata sejajar monoton di jalanan lengang kota. Saya bicara tentang lampu. Saya bicara tentang lampu taman, jejeran lampu jalan tol, lampu di hela napas rel-rel Stasiun Bandung. Ketika malam lengang, ketika kursi taman ditinggal pengguna terakhirnya, ketika aspal sudah terlalu dingin untuk dilahap ban mobil, ketika tidak ada lagi derap langkah koper, adakah mereka merasa kesepian?

Malam diliput lengang

Aku bicara pada lampu-lampu yang lugu

Lampu yang seorang diri berdiri sepanjang malam. Layaknya sesosok tangan yang hening menengadah, melawan kantuk, larut dalam doa. Lampu yang tenang, tangan yang khusyuk, adakah yang sanggup mengganggu mereka, meski sampai penghujung malam?

Dia yang duduk takzim disana, yang berjarak selembar sajadah dengan ubin dingin, yang terus memainkan butiran tasbih, yang tetap berusaha berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika seorang penulis merasa bersalah jika tidak merangkai kata saat ditemani bintang gemintang, ketika sang pujangga terus mengutuki diri sendiri saat tidak menulis sebait puisi di kala hujan, mungkinkah dia juga menyesal jika tidak memanjatkan doa di ketenangan malam, lantas merangkainya menjadi bahasa puisi antara dia dengan Tuhannya?

Puisi ini masih menulisi dirinya sendiri

Sampai entah kapan dalam doa-doamu

Saya sedang duduk termenung di Stasiun Bandung. Kereta masih beberapa jam lagi, namun biarkan saya sendiri. Lonceng bersahutan, orang lalu-lalang mencari gerbong, bersaing dengan para porter yang mencari pelanggan, penjaja koran menawarkan koran pagi yang dijual malam, namun tetap biarkan saya duduk seorang diri. Sama seperti 5 tahun lalu, di kursi yang sama, di depan lampu taman yang sama. Merantau ke Bandung, sendiri memenuhi mimpi, yang terlanjur sudah tergantung di langit.

Malam ini saya pulang. Wisuda, satu titik besar itu tercapai sudah. Anugerah ini saya persembahkan untuk dia, Bapak, lelaki berkalung sajadah yang gemar menembus dingin Subuh untuk berjalan ke masjid. Bapak biasanya tidak peduli dengan hadiah, namun kali ini saya akan bersikeras. Mungkin saya harus berbohong, mengatakan kalau wisuda ini adalah hadiah dari Tuhan untuk sujud-sujud malam beliau. Baiklah, kereta saya sudah mau berangkat, kotak besi itu tidak akan menunggu orang yang berbicara dengan lampu.

Lagipula, lampu bulat di depan tampak mulai meredup. Saatnya mencari lampu lain.

Tentang kau, tentang rumah, tentang

hadiah yang akan kubawa dari kota

 

Tulisan ini adalah interpretasi bebas saya untuk puisi berjudul Lelaki Lampu di Majalah Katajiwa. Dapat dilihat disini