Saya tidak banyak membaca novel cinta. Seingat saya, hanya Perahu Kertas. Selesai membaca, saya takut membayangkan kisah cengeng seperti Perahu Kertas akan menjadi apa kalau diolah oleh tangan yang salah. Saya harus berhati-hati memilih. Lalu langit mempertemukan saya dengan Rembulan Tenggelam di Wajahmu, novel terbaik dari Tere Liye yang pernah saya baca. Tulisan Tere Liye terasa berbeda. Kisah cinta dengan tidak mengumbar cinta. Dada saya sesak. Setelahnya, bulan tidak lagi terlihat sama.

Berangkat dari sana, saya memberanikan diri mengambil buku Tere Liye lainnya, yaitu Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

gambar: goodreads.com

gambar: goodreads.com

Lakon utama adalah Borno, seorang pemuda yatim di pedalaman Pontianak. Dengan ijazah SMA di tangan, tidak banyak pilihan pekerjaan yang bisa dilakukannya. Berbagai macam sudah dicoba Borno, mulai dari buruh pabrik karet, pemeriksa tiket feri, petugas SPBU terapung, hampir menjadi peternak burung walet, dan pada akhirnya menjadi pengemudi sepit (perahu kecil) dan montir. Pada dua profesi terakhir itulah kisah cinta Borno terukir.

Adalah Mei, seorang lulusan perguruan tinggi di Surabaya yang pulang kampung untuk berbakti menjadi guru SD di Pontianak. Setiap pagi, dia harus menyeberangi Sungai Kapuas untuk menghemat waktu. Dan disana lah Borno, dengan sepit antrean tiga belas, agar pukul 07.15 tepat berada di bibir dermaga, demi 15 menit kebahagiaan mengobrol dengan Mei, si pemilik wajah sendu menawan, wanita berbaju kurung kuning yang meninggalkan sepucuk amplop merah di sepitnya.

Sungai Kapuas tetap menulisi kisahnya sendiri. Karena dirinya lah juga Borno menemukan sosok wanita lain, si dokter gigi ceria bernama Sarah (kisah cinta harus ada makhluk yang bernama ‘orang ketiga’ bukan?). Masih ada lagi tokoh-tokoh lain yang menghidupkan suasana, yaitu Ibu Borno, Andi dan bapaknya, Cik Tulani, Koh Acong, Bang Tigor, Jauhari, dan tentu saja yang paling memberi warna, Pak Tua.

Tugas selanjutnya adalah menikmati. Menikmati kelembutan cerita, sama seperti Borno yang menikmati menjadi bujang paling lurus di tepian Kapuas, atau Pak Tua dengan sepiring ikan pindangnya. Selain menikmati, tentu saja juga menebak. Kenapa harus ada Sarah? Kenapa pada akhirnya Mei memilih menjauh? Kenapa saya memberi rating 4 bintang?

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah bukanlah cerita yang rumit, namun tidak terjebak menjadi kisah gampangan. Tere Liye mengambil latar ekonomi dan tempat dengan tepat, sehingga pembaca, setidaknya saya, tidak merasa kebingungan ketika panggilan telepon masih menggunakan telepon umum, dan janji bertemu masih menggunakan surat yang dititipkan. Yang terakhir malah memberi kesan romantis. Ketika janji terlanjur tertulis, ketika berdiri resah menunggu kedatangan sang pujangga hati, bukankah lebih mendebarkan jika tanpa ponsel di kantong?

Perasaan adalah perasaan, Borno. Orang seperti kau, lebih suka rusuh dengan perasaan itu sendiri. Rusuh dengan harapan, semoga besok bertemu, semoga besok ada penjelasan baiknya. Semoga. Semoga. -Pak Tua-