Tidak banyak orang yang lihai menulis, tidak banyak juga orang yang pintar berbicara. Terlebih lagi yang memiliki keduanya. Sehingga saya sangat respek terhadap orang yang hanya sedikit itu. Salah satunya adalah Pandji Pragiwaksono. Entertainer, comic stand up comedy, dan penulis. Ketiga bukunya tidak mengecewakan, saat dia merekomendasikan Alexitimia, kenapa tidak disambut?

gambar: goodreads.com

gambar: goodreads.com

A berarti tidak, lex berarti kata-kata, dan thymos adalah emosi. Alexitimia adalah penyakit psikologi dimana penderitanya tidak mampu mengungkapkan emosi. Dia dapat terlihat tidak berekspresi apa-apa terhadap suatu tragedi, namun bisa saja menangis sesenggukan sendiri tanpa alasan jelas.

Kisah dibuka dengan Mas Tom, tokoh utama, yang minta diantarkan oleh sang istri, Donna, ke psikiater karena merasa ada yang salah dengan dirinya. Karena merasa aneh si pasien gangguan jiwa yang berinisiatif sendiri untuk menemui dokter, maka Donna mempertemukan suaminya dengan Billy, dokter sekaligus suami teman dekatnya. Masa lalu, suatu hal penting yang harus digali dari pasien gangguan jiwa. Dari permintaan Dokter Billy inilah Donna mulai mencari tahu masa kecil suaminya, termasuk menggali ingatan saat masa-masa awal mereka bertemu dulu, yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda itu.

Jadi bisa ditebak, buku ini beralur, dan memang harus, mundur-maju. Alur mundur pun ‘dibuat’ menjadi dua bagian, yaitu saat mereka berdua pertama kali bertemu dan saat Tom kecil kehilangan orang-orang terdekatnya. Perlahan, puzzle itu pun tersusun, dan menyisakan ending yang sengaja dibuat untuk ‘cukup sampai disitu’.

Satu hal yang membingungkan, walaupun di cover depan tertulis nama Pratomo, namun ternyata cerita tertutur dari sudut pandang sang istri. Hal mengganggu lainnya adalah kisah seperempat awal buku yang berjalan datar. Pada bagian itu diceritakan tentang masa kini, saat kebimbangan Donna menghadapi keresahan suaminya, terlihat dari dialog-dialog pribadinya dengan dokter Billy.

Menurut saya, Alexitimia tidak sebaik tiga buku Pandji yang lain, tentu saja karena, selain kata pengantar, buku ini bukanlah tulisan Pandji sendiri. Alexitimia adalah karya almarhum ayah Pandji, Koes Pratomo Wongsoyudo, yang diambil dari kisah hidupnya sendiri. Seperti halaman pembuka, buku ini adalah ‘sebuah penjelasan’ kepada ketiga anaknya.

Namun tetap, Alexitimia tidak boleh terlewat untuk dibaca. Buku ini terasa dekat, karena berbagai pergolakan di dalamnya sangat mungkin terjadi di kehidupan sehari-hari. Paling tidak, kita bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta dengan orang yang mengalami gangguan jiwa. Maupun sebaliknya. Pada akhirnya buku ini menyadarkan, bahwa dengan, dan hanya dengan, siraman cinta yang cukuplah pasien dengan gangguan jiwa dapat bertahan.