Aku membetulkan posisi duduk. Selimut tipis itu akhirnya kubuka, namun tidak dengan bantal. Dia kubiarkan tergeletak di jepitan kursi. Keras dan tipis, dirinya tidak pernah layak untuk perjalanan jauh, melewati malam. Jendela hanya sehembusan napas, ada rintik hujan disana, seharusnya pemandangan luar cukup menarik. Namun pola itu tetap saja bertahan, lima menit terlelap, sepuluh menit terjaga. Telingaku menangkap suara, antara melodi dan gumaman, kali ini mataku semakin terjaga.

Dia berdiri disana, empat bangku di depan, di ujung lorong bis. Aku bertanya apa yang dia lakukan. Apakah dia bernyanyi? Tidak ada alat musik di tangan, hanya nyanyian, diselingi tepukan. Suara itu sengau, suara hidung, suara orang kehausan. Padahal di luar hujan, membingungkan. Pandangannya menyapu seluruh penumpang, mata itu, mata kelelahan. Hei, rasanya aku pernah melihatnya, di bis malam minggu lalu, dan bulan lalu, dan enam bulan lalu. Lagunya sama, tepukannya juga sama, kaosnya juga kalau tidak salah.

Aku bertanya ke penumpang sebangku, apa yang dia lakukan. Apakah dia bernyanyi?

Pria di sebelah malah tertawa. Sembari menarik selimut lebih erat. Pendingin di atas kepala terus menyala, tanpa peduli hujan. Malam di luar, tidurlah, katanya. Iya aku ingin tidur, tapi suara dan tepukannya mengganggu, namun itu tidak bisa kukatakan.

Malam milik bis malam di Terminal Cicaheum selalu sama. Seperempat jam transit, lampu lorong dinyalakan, para pedagang menyerbu. Tertebak. Risoles yang dibilang baru, peci yang disebut murah, dompet yang dikatakan ‘dapat potongan karena sudah malam’, atau orang (maaf) cacat yang menjulurkan tangan. Dan tentu saja dirinya, satu dari sekian pengamen unik di Cicaheum. Pengamen ‘tidak unik’ tidak ada disini, mereka berada di kota. Menemani orang makan, tidak pergi meski tidak ditanggapi, pergi setelah diberi uang. Disini beda. Mereka menemani orang tidur, kadang mendoakan agar selamat sampai tujuan. Doa mereka adalah yang utama, nyanyian menjadi sampingan. Termasuk, tentu saja, alat musik.

Lampu dimatikan, suara mesin kembali nyaring terdengar. Bis akan berangkat, lima belas menit penyerbuan sudah habis. Di tengah semburat bayangan, kulihat si pengamen mendekat, menjulurkan tangan ke setiap kursi. Cepat sekali, antara kepala penumpang sudah terbungkus selimut sehingga tidak melihat si pengamen, atau memang dia tidak sabar menunggu penumpang merogoh kantong. Kubuka dompet, dia mendekat.

Terimakasih, alhamdulillaaahh, katanya. Sambil mencium dua koin di tangannya.

Bis mulai bergerak. Dia bergegas turun. Hei, masih ada belasan baris kursi di belakang, ingin ku berteriak, entah ke si pengamen atau sopir bis. Hei, di luar hujan, disinilah barang sebentar lagi. Hei, orangtuamu dimana, apakah keluargamu sehat-sehat saja, seperti doamu barusan. Hei, sudah makan belum, maaf aku tadi makan kekenyangan, takut masuk angin. Hei, mau pinjam jaketku, bisa kau tukarkan dengan gitar murah setelah hujan reda nanti.

Dia berlari kecil. Masuk ke bis lain. Malam masih panjang baginya, si pengamen dengan tepukan. Sepanjang antrian bis di Terminal Cicaheum.