Detektif itu tampak sedang mewawancarai seorang nenek. Pertanyaan-pertanyaannya singkat, hampir tidak terdengar emosi di dalamnya. Tubuh yang kurus tinggi itu kadang harus membungkuk untuk menjangkau suara kliennya. Setelah merasa cukup memeriksa TKP, dia pamit. Bersama seorang asisten, mereka kembali ke flat. Ternyata si pria tinggi hanya mampir sejenak, setelah masuk kamar, dia keluar lagi dengan pakaian dan perawakan yang berbeda. Ya, dia menyamar. Sang asisten yang sudah tahu kebiasaan rekannya, hanya menunggu di flat sambil membaca buku, lantas tertidur. Keesokan harinya, ternyata si detektif sudah duduk manis di kursi berlengannya. Bau tembakau beterbangan di udara. Dia ternyata pulang larut malam, dan tidak tidur semalaman untuk berpikir.

Tenyata kemarin, tepat setelah si pria kurus meninggalkan rumah klien, seorang pria gendut berkepala bundar melakukan hal yang sama. Mimik wajahnya terlihat lucu saat mewawancarai nenek, meskipun itu tidak bisa menyembunyikan ketajaman lirikan matanya saat mengamati perubahan ekspresi si cucu. Untuk kasus kehilangan kalung nenek ini, dia merasa perlu juga untuk memanggil cucu nenek untuk diwawancara. Bersamaan dan terpisah dari nenek. Perubahan tarikan napas, komentar-komentar tidak penting, semua ekpresi dari si cucu penting baginya. Setelah puas melihat TKP, dia mencatat alibi semua penghuni rumah. Dia mencatat dengan rapi urutan waktu peristiwa, lengkap dengan denah rumah kliennya. Lalu dia minta izin untuk berpikir.

Mereka berdua berhasil memecahkan masalah. Ternyata benar sang cucu yang menjadi pelaku pencurian. Keesokan harinya, pria pertama memanggilnya ke flat, memperdengarkan analisisnya, lalu meminta sang cucu mengatakan alasannya mencuri.

Pada hari yang sama, pria kedua bertamu ke rumah nenek. Dia berpura-pura haus agar menyingkirkan nenek ke dapur, dan meninggalkannya hanya berdua dengan si cucu. Dia menjelaskan analisisnya, mengaku mengetahui dimana kalung itu disembunyikan, dan meminta si cucu untuk jangan mengembalikannya pada tempat semula, namun ke kamar mandi. Nenek terkadang pikun, dan pria gendut itu berjanji akan membujuk nenek agar percaya kalau dia hanya lupa menaruh dimana kalungnya.

##

Pria pertama, si kurus tinggi itu, adalah untuk Sherlock Holmes. Sedangkan pria kedua, tentulah, untuk Hercule Poirot. Saya mencoba menggambarkan keduanya sesingkat dan sedekat mungkin dalam frame yang sama, dan setelah ini akan coba saya bahas satu per satu.

Sherlock Holmes. Detektif asal Inggris, yang tinggal bersama dengan asistennya, Dokter John Watson, di 221B Baker Street. Holmes digambarkan sebagai pribadi yang anti sosial, tidak memiliki banyak teman, dan menghindari sisi emosional karena dapat mengganggu kemampuan berpikirnya. Dia sanggup tidak tidur semalaman karena memikirkan suatu kasus, namun di saat lain bisa berteriak otaknya-akan-meledak karena tidak ada yang dipikirkan. Sering memakai teknik penyamaran, namun ‘keseruan’ di dalamnya kurang terlihat karena sudut pandang cerita selalu dari pihak Watson. Beberapa kali menggunakan bantuan tim kecilnya dalam investigasi, yang berisikan anak-anak jalanan London.

Kisah Sherlock Holmes sebenarnya adalah potongan cerita bersambung dari surat kabar di Inggris. Jika dikumpulkan, total akan terkumpul 4 novel dan 56 cerita pendek.

Hercule Poirot. Adalah pria asal Belgia yang dikisahkan kerap bepergian, dan menemukan kisah perdananya di Inggris. Poirot digambarkan sebagai pribadi yang hangat, pandai berbaur, dan memiliki rasa humor yang baik. Sisi pikologis sangat penting baginya, dimana tarikan napas, lirikan mata, tata kalimat dari setiap orang selalu menunjukkan sesuatu. Gemar membuat catatan dengan rapi, lengkap dengan denahnya. Sudut pandang penulisan berubah-ubah, bisa dari Poirot sendiri, kawannya yang kadang bersama, yaitu Hastings, bahkan dari pembunuh sendiri.

Total ada lebih dari 80 kisah dari Agatha Christie dengan tokoh detektif yang beragam, yaitu Hercule Poirot, Miss Marple, dan Colonel Race.

Saya sudah membaca 2 novel dan 20 cerpen dari Sherlock Holmes. Sedangkan untuk Hercule Poirot, saya baru membaca 5 novelnya. Tentu ada beberapa hal yang akan saya bandingkan, agar tulisan ini tidak terlalu hambar.

Pertama adalah soal kedalaman cerita. Kisah Holmes terasa terlalu to the point bagi saya, bahkan untuk novelnya. Apalagi untuk cerpen, rasanya hanya klien datang ke flat, Holmes bergerak dan berbicara sendiri, dan kasus selesai. Beberapa kisah Holmes adalah soal pengejaran, bukan analisis deduktif. Sedangkan untuk Hercule Poirot, menurut saya lebih baik. Latar belakang, masalah pribadi, dan karakter dari setiap tersangka digali dari percakapan-percakapan. Banyak twist yang tersebar, seperti korban yang terbunuh bertambah di tengah penyelidikan, atau semua orang berbohong dalam memberikan keterangan. Agatha Christie lebih memberikan ruang pada pembacanya untuk berpikir, dan menebak.

Kedua adalah soal momen analisis, yaitu momen sakral dimana semua orang diam untuk mendengarkan sang detektif menjabarkan analisisnya. Tergolong poin genting, dimana besaran bintang yang akan saya berikan di Goodreads tergantung pada momen analisis ini. Dan Sherlock Holmes hampir tidak memberikannya, dia seperti asyik sendiri dengan kecerdasannya. Hercule Poirot menawarkan momen itu, dan dia melakukannya dengan variatif. Kadang di hadapan semua orang, atau di hadapan beberapa tersangka yang bisa diajak bekerjasama, bahkan pernah hanya berdua dengan si pembunuh(!).

Baiklah, dari dua paragraf terakhir bisa disimpulkan bahwa saya lebih memfavoritkan Agatha Christie ketimbang Sir Arthur Conan Doyle. Penilaian ini masih sangat subjektif karena saya belum pernah membaca kisah detektif lainnya dari beliau, yaitu Miss Marple dan Colonel Race. Selain itu, 5 kisah Poirot yang sudah pernah saya baca merupakan top ten list-nya Agatha Christie, sehingga wajar kalau saya belum menemukan kisah yang ‘cukuplah bintang tiga’.

Akhir kata, jangan ragu untuk membaca kisah dua detektif di atas. Silakan selami dan berikan pandangan pribadi. Kebetulan saya menemukan website fans dari Indonesia untuk keduanya. Untuk Sherlock Holmes silakan klik disini. Untuk Hercule Poirot dan kawan-kawan silakan klik disini.