Kita kalah, Ma, bisikku.

Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Dialog di atas adalah petikan dialog di bab akhir novel. Dua kalimat itu cukup untuk memberi gambaran apa yang terjadi sepanjang novel, tidak lain dan tidak bukan adalah tentang perjuangan…

gambar: idliterature.wordpress

gambar: idliterature.wordpress

Bumi Manusia adalah kisah hidup seorang anak pribumi, Minke, di zaman kolonialisme Belanda. Perjuangan Minke untuk dapat berlari, bertindak, dan berdiri setegak orang lain mendapat perlawanan berat dari lingkungannya, semata-mata karena dia adalah pribumi. Statusnya sebagai anak bupati sehingga bisa bersekolah di H.B.S. (sekolah Belanda), lancar berbahasa Belanda, kerap mengirim tulisan untuk artikel koran Belanda, mau tidak mau membuat mata kolonial tidak bisa lepas darinya. Banyak yang bersimpati, tidak sedikit pula yang berusaha menjatuhkan. Saya tidak ingin membahas ending, sama seperti keinginan saya yang sebenarnya tidak ingin kisah ini lekas  selesai.

Bumi Manusia adalah buku pertama dari tetralogi Buru. Novel ini merupakan naskah pertama yang terpilih untuk diterbitkan dari naskah-naskah yang berceceran selama Pram menjalani masa pengasingan di Pulau Buru. Uniknya, dibutuhkan waktu dua tahun untuk ditulis ulang karena kisah ini terlebih dahulu beliau ceritakan pada para tahanan lain di barak-barak penampungan.

Novel ini diterbitkan pertama kali pada 1980 yang setahun kemudian dilarang peredarannya oleh pemerintah Indonesia. Pun dengan tiga novel setelahnya, yang bahkan dicekal tidak sampai setahun setelah terbit. Pemerintah Indonesia menuduh bahwa karya-karyanya mengandung pesan MarxismeLeninisme yang dianggap tersirat dalam kisah-kisahnya (sumber : wikipedia).

Ini merupakan buku pertama seorang Pramoedya Ananta Toer yang telah saya baca, dan saya langsung mengerti mengapa namanya begitu diagungkan. Pram berkisah dengan signature yang kuat, mulai dari bahasa, alur, perwatakan, sampai pengaturan klimaks, rasanya belum pernah saya temukan di penulis lain sebelumnya. Banyak pesan yang terasa benar keasliannya dari tanah Jawa. Seperti lima syarat yang ada pada satria Jawa, yaitu wisma, wanita, turangga, kukila, dan curiga (rumah, wanita, kuda, burung, dan keris), atau bagaimana pandangan orang dulu terhadap perempuan yang tidak bisa membatik, atau hukum adat kalau perempuan tidak boleh menarik keris dari sarungnya.

Ini adalah kisah tentang perjuangan, dalam arti sebenarnya, melawan penjajah. Bumi Manusia bertutur dengan baik bagaimana seharusnya seorang berpendidikan melawan, yaitu dengan berpikir, menulis, dan berdialog. Karena seorang yang terpelajar cenderung untuk adil, karena dia terbiasa untuk tidak memiliki asumsi, bertindak dengan dasar, seperti ungkapan dari Pram yang sudah melegenda itu: seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.