If nobody hates you, you’re doing something wrong. -House-

Dr. Gregory House sedang mengatakan bahwa setiap orang seharusnya memiliki karakter. Menurut saya tidak ada orang yang tidak unik, jadi tentu saja semua punya karakter, masalahnya hanya tinggal mana yang kuat mana yang samar. Logika yang sama bisa dibawa ke hal lain, termasuk kota. Saya akan membawa tulisan ini ke kota yang istimewa, dari nama dan kekuatan karakternya, yaitu Yogyakarta. Lebih terasa rumah ketika memanggilnya Jogja.

Jogja mengingatkan saya pada kisah Life of Pi. Pi, seorang anak kecil, yang terperangkap namun bukan terkungkung, bebas di lautan luas namun terikat dengan sekoci. Dikisahkan kapal yang membawa keluarga Pi dan hewan-hewan dari kebun binatangnya hancur terkena badai. Singkat kata, badai hanya menyisakan Pi, seekor harimau, dan sebuah sekoci. Untuk menghindari bahaya dari si harimau, dia membuat ‘sekoci’ lain yang diikatkan ke sekoci utama. Anehnya, dirinya tidak bisa berpisah dari sekoci harimau, dari alasan sekoci itu lebih besar sehingga lebih aman mengarungi lautan, sampai kepada apakah dia akan selamat jika berpisah sedangkan alasannya untuk tetap bertahan selama ini adalah karena takut dimakan harimau?

Jogja memberikan suasana terperangkap yang serupa, namun menyenangkan. Jogja mengurung dalam tenang. Entah mengapa, di beberapa sisinya, nuansa tenang itu begitu kental. Jogja memaksa saya untuk bersikap pelan, tidak buru-buru, santai, karena mungkin memang seperti itu sebaiknya hidup dijalani. Dan saya merasa nyaman-nyaman saja.

Saya adalah pecinta ritme hidup berat. Tetap menjaga bangun pagi, keluar sejauh mungkin dari kasur, mengusahakan hari penuh agenda, mengupayakan kepala penuh dengan pikiran. Namun Jogja terasa tidak mengganggu. Ya seperti itu tadi, terperangkap namun tidak terkungkung. Pertanyaannya, mengapa bisa?

Mari kita mulai dari Pi. Kenapa dia sanggup bertahan terombang-ambing berdua dengan sesuatu yang mengurungnya, seekor harimau?

Jawabannya adalah karena sesuatu itu berhasil mengeluarkan diri Pi yang lain, yaitu takut dengan kematian. Pi harus selalu menjaga diri, awas terhadap segala perubahan keadaan, sampai dia sadar, sikap waspada terhadap harimau lah yang menyebabkan dirinya sanggup bertahan berbulan-bulan di lautan.

Sama dengan si harimau, Jogja berhasil mengeluarkan diri seseorang, setidaknya saya, yang lain, yaitu kebutuhan untuk menyendiri. Ini juga menjelaskan mengapa kuda-kuda dokar enggan berlari lekas, mengapa ada area khusus sepeda di lampu lalu lintas, mengapa angkringan tidak butuh lampu yang terlampau terang, atau mengapa ada segelas teh panas di pagi dan sore. Kadang seseorang perlu hidup lambat, cukup waktu untuk diri sendiri, untuk lebih mendengarkan yang sulit terdengar, alam dan Tuhan.

Selamat menyendiri. Selamat menemukan diri yang baru di tempat lain. Tidak lupa, selamat menemukan Jogja di dalam diri.