Beberapa mengatakan, salah satu kekecewaan setelah menutup halaman terakhir buku adalah fakta bahwa kita harus kembali ke kehidupan nyata yang membosankan. Padahal buku menyimpan satu rahasia kecil, tokoh utama buku adalah representasi penulisnya, paling tidak bisa menggambarkan tentang siapa dan apa saja yang telah dilalui si penulis. Dan satu lagi, kadang hal itu sebenarnya dekat dengan kita. Saya pernah merasakannya, membaca beberapa baris, lantas menutup buku sejenak, untuk mengingat rasanya saya pernah melalui apa yang ditulis. Seperti saat saya membaca Kukila, saya mengingat Bali.

Kukila adalah judul cerpen di dalam buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama. Mengisahkan tentang suami istri yang memilih berpisah. Rumah, pohon mangga di halaman, panas bulan September, ketiga anak mereka, semua menjadi berbeda setelahnya. Menarik, karena seakan semua benda menjadi makhluk perasa. Termasuk pohon besar di atas bukit. Seorang pengelana mendengar kisah Kukila darinya, di dalam mimpi ketika tidur meneduh di bawahnya. Sampai disini saya menutup buku.

Saya melemparkan diri pada kenangan penghujung tahun lalu, ketika berada di Bali. Bali sendiri dapat memberikan definisi yang berbeda. Orang berkacamata hitam mengatakan Bali adalah ombak dan pantai. Orang berkalung kamera mengatakan Bali adalah matahari dan horizon. Orang dengan pena dan kertas terlipat mengartikan Bali sebagai pohon bersarung, pasir, dan dupa. Termasuk saya, dan saya yakin mereka memiliki kisah yang berbeda, dan dapat mengisahkannya.

Saya meneruskan membaca Kukila.

Pohon besar itu menceritakan tentang dirinya. Di atas salah satu akarnya, dahulu sering duduk seorang pemuda. Dari tepat setelah matahari terbenam hingga tengah malam, seorang diri memandangi rumah Kukila. Sedangkan di rumah itu, terdapat dua jendela yang menghadap ke arah bukit. Sama-sama menyala terang, sama-sama ditunggui siluet manusia selepas malam. Rumah itu seperti dinding dengan dua buah lukisan manusia hitam berlatar kuning keemasan. Jendela tengah, kamar utama, adalah Kukila. Jendela depan, ruang tamu, milik suami Kukila. Mereka berdua duduk hening, menatap keluar. Mungkin saling tidak tahu, bisa jadi saling pura-pura tidak tahu. Ada cinta segitiga disana. Akhir kisah, suatu malam, mereka bertiga memilih berdamai di bawah rindangnya, dan bersama gantung diri di dahannya.

Saya kembali memejamkan mata. Apa kisah yang akan diceritakan pohon bersarung, pasir, dan dupa?

Mari kita mulai dengan yang paling mudah, pasir. Pasir mungkin akan membawa kita ke Bali yang modern. Pasir akan menceritakan tentang bule yang menggendong papan seluncur, lantas membersihkannya dari pasir yang menempel, padahal pasir lah yang akan mereka cari ketika ombak semakin tinggi dan tak terkendali. Atau tentang sekelompok anak kecil yang menulisi sesuatu di atasnya, lantas berlari mencari pasir lain, padahal mereka sedang belajar dibohongi, tidak ada yang abadi di atas pasir ketika ombak datang menghapusnya.

Kisah dupa adalah soal keheningan. Mungkin hanya di depan dupa rangkaian keramaian di Bali menjadi hikmat. Bisa jadi hikmat berdoa oleh perempuan-perempuan berpakaian adat. Atau sikap hikmat turis yang sudah kehabisan ide perihal apalagi peristiwa yang harus direkam. Atau sesederhana orang-orang polos yang hikmat menghindari dupa itu sendiri, karena bau asap atau takut terinjak.

Hal yang paling sulit adalah menebak kisah milik pohon bersarung. Tentu dia tidak memiliki kisah tentang orang gantung diri seperti pada kisah Kukila, terkutuklah mereka yang bunuh diri di tempat seindah Bali. Saya membayangkan diri saya saat itu, pagi hari menyusuri pantai Kuta, untuk mencapai keramaian kota. Saya melihat sebuah pohon besar, cukup dekat untuk menikmati pantai, namun ada cukup jarak untuk tidak terkejar ombak pasang. Beberapa orang di bawahnya sedang mengadakan upacara adat, ada beberapa gong disana. Sore hari ketika saya melewati pohon itu untuk kembali ke penginapan, beberapa orang bersandar di batangnya, menunggu matahari terbenam sambil memegang botol minuman di tangan.

Saya mulai bisa memperkirakan apa peran pohon bersarung. Pada dirinya lah titik pertemuan masa kini dan masa lampau. Untuk pengelana muda seperti saya, dia dapat berkisah tentang rangkaian upacara adat yang berteduh di bawahnya, baik alat musik maupun doanya. Paling tidak dia dapat berkisah tentang identitas dirinya sebagai pohon bersarung, dimana para turis berlaku hormat padanya, meskipun mereka tidak tahu sejak kapan pohon memerlukan kain.

Di lain waktu, untuk pengelana berumur yang kebetulan tertidur di bawahnya, dia dapat berkisah tentang kesenangan remaja. Tentang penjual layang-layang yang mengikatkan barang dagangan ke rantingnya, anak muda senang berbohong tentang mimpi, mereka yakin mimpi bisa seperti layang-layang, dapat membumbung tinggi tanpa banyak berkorban. Mereka tidak tahu, angin laut bersusah menerbangkan layang-layang, padahal dia harus lekas bertiup sebelum digantikan angin darat saat malam.

Tentu saja pohon bersarung akan mengisahkan cerita favoritnya: tentang sepasang kekasih yang duduk untuk menunggu, dan menikmati, senja. Sejak matahari tinggi, sampai habis ditelan lautan. Mereka tidak sadar sedang diperdaya senja. Mereka yakin senja adalah wujud keindahan langit, padahal langit sore tidaklah kekal. Senja hanyalah penjemput malam, jingganya lambat laun akan ditelan hitam kelam. Menikmati senja sama dengan meyakini ketidakabadian. Senja adalah kata indah untuk kehilangan.

Saya yakin Bali masih banyak menitipkan kisahnya di pohon bersarung. Begitu juga di butiran pasir Kuta dan asap dupa. Namun saya tidak ingin segera tahu semuanya, malah mungkin saya akan meniru tindakan Kukila.

Kukila selalu sendiri. Dua orang pria itu, dan ketiga anaknya, selalu datang. Itulah kenangan. Demi menghibur diri, Kukila memilih untuk membayangkan hidupnya sebagai dongeng. Akhirnya dia lebih mudah menuliskan kisahnya, dan lambat laun berhasil berdamai dengan kenangan.

Mungkin saya akan meniru Kukila, toh kisah di Bali bukanlah kisah tentang saya sendiri. Saya akan menggenggam pasir Kuta, menghirup asap dupa, dan tertidur di bawah pohon bersarung. Saya akan mendengar kisah mereka, menganggapnya sebagai fantasi, menuliskan, lantas melupakan. Saya akan mencari pasir, dupa, dan pohon lain, saya yakin mereka dapat berkisah lebih hebat dari siapapun di Bali. Lagipula siapa turis di Bali yang tidak meninggalkan kisahnya pada mereka bertiga?