Perubahan dimulai dengan hal sederhana yang konsisten, termasuk selera membaca. Saya bukanlah penggemar cerpen, karena kadang ketebalan lembar berkorelasi dengan keutuhan emosi cerita. Namun saya menyingkirkan kemungkinan itu saat membeli buku kumpulan cerpen Kukila. Adalah kicauan twitter @hurufkecil milik si penulis, yaitu Aan Mansyur, yang saya maksudkan sebagai hal sederhana itu. Barisan kata indah yang saban hari dikicaukan beliau meyakinkan saya bahwa seharusnya Kukila memiliki sesuatu lebih. Sederhana bukan?

gambar: goodreads.com

gambar: goodreads.com

Ada 16 cerita pendek dalam buku ini, dengan cerita terpanjang berjudul Kukila, yang namanya diambil menjadi judul buku. Semua 16 kisahnya memiliki kekuatan masing-masing, namun tetap memiliki ciri khas bersama. Dalam buku ini, Aan Mansyur seperti ingin mengatakan, bagaimana kalau benda-benda yang terlupakan ternyata menyimpan kisahnya sendiri? Bagaimana kalau mereka diberi kesempatan untuk bicara dengan bahasanya masing-masing?

Misalnya dalam Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji. Ini adalah kisah seorang pria, yang dikejar musim gugur, yang sedang menyelesaikan seribu perahu kertas demi membawanya bertemu sang kekasih di belahan lain dunia sana. Sesederhana itu? Tidak juga. Penulis mampu memberikan nyawa lebih pada banyak hal kecil. Lihatlah kertas origami, padanya tersemat harapan membuncah milik si pemuda, tentang kenangan di sebuah bangku taman, tentang masa depan berumah di sebuah pulau. Atau dengarkan musim gugur, suara bunga sakura yang berguguran karenanya seperti sedang menggedor-gedor, menunggu musim semi yang jenuh untuk keluar pintu. Atau perhatikanlah laut, kekasihnya terus bertanya apakah seribu perahu kertas itu akan mampu menaklukkan ombaknya, namun si pemuda selalu yakin bahwa dirinya adalah pria dengan gelombang laut di dada, gelombang yang tidak pernah surut.

Begitu juga dengan kisah Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan. Tentang seorang pria yang tengah meratapi kematian istrinya. Tangisnya terus mengalir, seperti tas merah istrinya yang terus dia bongkar. Ada dua batang cokelat disana, yang membingungkan karena istrinya pernah tidak memakan cokelat yang dia berikan. Ada ponsel disana, yang menyisakan gambar amplop di sudut kiri atas, istrinya belum membaca pesan darinya, atau bisa jadi istrinya ditabrak taksi saat sibuk mengambil ponsel. Ada buku agenda disana, yang bertuliskan janji makan malam dengannya, janji yang tidak mungkin lagi dipenuhi. Tangisnya semakin meraung.

Tentu tidak lengkap jika tidak membahas cerpen terbaiknya, Kukila. Kukila adalah seorang perempuan yang dicerai suaminya, seorang ibu yang ditinggal pergi ketiga anaknya, seorang wanita yang gagal mendapat cinta sejatinya akibat perjodohan. Meski memiliki dialog langsung yang lebih  banyak dibandingkan cerpen lain, Kukila tetap terasa lebih hidup jika menyimak narasi dari hal-hal remeh.

Ada lebih dari sekedar kemarau dalam September, panasnya tertinggal di ruang tamu, kamar Kukila, kamar anak-anaknya yang kosong, di relung jiwa Kukila yang hampa. Pohon mangga di halaman rumah bukan hanya soal rujak, sisa batangnya mengingatkan Kukila pada punggung Rusdi yang pergi meninggalkannya, rindangnya mengingatkan saat mereka sekeluarga sedang bersenda gurau. Dan yang paling menarik, pohon besar di atas bukit ternyata menyimpan ending polemik rumit Kukila dalam batang dan rantingnya.

Pohon itu pernah memiliki seorang tamu. Seorang pemuda yang hanya duduk memandangi rumah di kaki bukit, rumah Kukila. Datang ketika matahari terbenam, beranjak saat tengah malam. Begitu terus berulang-ulang, berhari-hari. Dari bawah pohon itu, terlihat dua jendela di satu sisi rumah. Sama-sama menyala terang, sama-sama ditunggui siluet manusia selepas malam. Rumah itu seperti dinding dengan dua buah lukisan manusia hitam berlatar kuning keemasan. Jendela tengah, kamar utama, adalah Kukila. Jendela depan, ruang tamu, milik Rusdi. Mereka berdua duduk hening, menatap keluar, ke arah bukit. Mungkin saling tidak tahu, bisa jadi saling pura-pura tidak tahu. Ada cinta segitiga disana.

Sebenarnya ada garis merah bias lain dari ketiga cerpen di atas, dan ketiga belas kisah lain. Penulis sedang mendefinisikan kenangan, dan jelas tidak ada tokoh dalam cerita yang paham akan hal itu.

Pemuda dengan gelombang laut di dada seharusnya tahu seribu perahu kertas tidak bisa mengembalikannya ke kenangan di sebuah bangku taman. Pria yang meratapi kematian istrinya seharusnya tidak perlu membongkar isi tas, kenangan entah sedang dimana, yang jelas bukan di dalam tas. Dan Kukila seharusnya tahu, kenangan jelas tidak sama dengan masa lalu, dia tidak perlu mengaburkannya demi menghabiskan malam memandangi bukit. Pohon itu mungkin bisa menyimpan kenangan, namun dia menyimpannya tidak untuk Kukila.

Saya merasa puas didongeng dengan kisah dan bahasanya yang indah, sampai lembar terakhir buku ini ditutup. Saya menandai beberapa lembarnya, hanya untuk berjaga-jaga, siapa tahu saya sedang dilanda rindu. Siapa tahu saya ingin merasakan kembali emosi yang pernah melanda saat membalik halaman demi halaman buku ini.

Karena seperti kata penulis dalam kisah Kukila, masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tapi tidak tahu jalan pulang, untuk itu ia menitipkan surat, kadang kepada sesuatu yang tidak kita duga. Kita menyebutnya kenangan.

Bukankah sudah saya katakan penulis sedang mendefinisikan kenangan?