Kursi penumpang dapat memberikan definisi yang berbeda. Kereta, bis, pesawat, apapun. Duduk di atasnya dapat membangkitkan ingatan tentang rumah. Padanya orang-orang menitipkan janji, bisa jadi air mata. Dirinya menyimpan kenangan. Dari mereka yang pulang untuk bertemu keluarga, atau, dan tentu saja, mereka yang pergi merantau merangkai mimpi. Setiap penumpang menitipkan kisahnya masing-masing. Baiklah, mungkin tidak semua, setidaknya saya.

Lima tahun lalu, saya pergi merantau ke Bandung. Tiga bulan lalu, saya pulang ke rumah sebagai seorang sarjana. Tanyakan pada dua kursi, entah di gerbong mana, di kereta Harina. Dua kursi itu pasti masih menyimpan kisah milik saya. Kursi pertama membawa mimpi, kursi kedua berisikan jawaban. Keduanya menyimpan nada bahagia, dan bisa jadi air mata di dalamnya.

Lalu saya membayangkan seorang kawan, yang akan bertemu dengan kursi penumpang miliknya beberapa jam ke depan. Dia akan terbang bersamanya, sekian ratus menit, melintasi zona waktu. Saya tidak tahu yang mana kursi penumpangnya, namun saya ingin berpesan kepadanya, tidak banyak. Tentang apa yang jangan kursi itu lakukan, pada beberapa kenangan si penumpang. Semoga kursi itu tidak di pinggir jendela, langit malam lebih lihai memainkan perasaan.

Tolong jangan ingatkan si penumpang tentang tim sukses. Dua kata itu akan mengingatkannya tentang rapat sampai dini hari di rumah cakahim, tentang berharganya bisa sampai di kosan saat matahari masih tinggi, tentang canda di dalam ketegangan, tentang kaleng kopi sebagai penahan kantuk, tentang tangisan yang mengiring, dan menutup.

Tolong juga jangan ingatkan dia tentang pingpong. Olahraga sederhana itu akan membimbing ingatannya pada himpunan, pada duduk-duduk sore di bawah pohon samping meja pingpong, menunggu giliran sambil menertawai keteledoran masing-masing. Pingpong juga lah yang mewarnai perjalanannya, Home Tournament sampai Olimpiade, tunggal sampai ganda campuran.

Meski ini tujuannya untuk merantau, tapi tolong jangan ingatkan dia terlebih dulu tentang geothermal. Geothermal identik dengan bangku kuliah. Istilah itu akan mengingatkan tentang buku catatannya yang mendadak terus berpindah tangan saat akan ujian, tentang bangku perpustakaan jurusan yang menjadi hangat saat ada tugas, tentang praktikum-praktikum yang melelahkan, tentang script matlab yang bersliweran, dan tentu saja, tentang bukit-bukit terjal di Karangsambung.

Dan terakhir, sebagai permintaan khusus, jangan ingatkan dia tentang empat sekawan itu. Empat orang yang gemar berkumpul, membicarakan banyak hal, yang banyak diantaranya tidaklah penting. Empat orang itu, dengan setiap karakternya, akan mengingatkan tentang tawa sederhana, diskusi tak berujung, dan curhat sampai larut. Dan jangan menyebutkan Giggle Box atau The Kiosk, itu tempat favorit mereka untuk menertawakan hidup.

instagramSemoga sukses S2 nya Desy! Terimakasih untuk semuanya selama ini. Timsus, GFL, curhat soal si doi😛

Baik-baik disana boy, ditunggu kabar baiknya, jangan lama-lama, udah ditunggu Osa juga hehe. Oke, akhir kata, mengutip ucapan Peter Pan. Bukan Peter Pan juga sih, tapi yang nyiptain dia.

Never say goodbye because goodbye means going away and going away means forgetting.

instagram 2