Jika tidak salah, hanya dua kali saya pernah berdamai dengan ibukota. Pertama, di Jakarta Selatan jam 4 pagi. Kedua, Jakarta saat hujan temaram di sore hari, akhir pekan lalu. Saya berada di restoran lantai empat, duduk menghadap deretan gedung bertingkat. Saya sengaja duduk agak jauh dari jendela, tidak menempel, bukan karena hujan, namun agar tidak melihat kemacetan di bawah. Saya jarang menyukai Jakarta, jangan sampai kemacetan itu mengganggu.

Namun apa daya, ternyata saya masih harus diganggu untuk menikmati kota. Saya tersentak oleh teriakan seseorang di meja kasir, dari arah belakang. Wanita itu, seorang ibu paruh baya, dan berjilbab, meneriaki kasir restoran dengan kata-kata yang semestinya tidak dulu dikatakan ketika itu, saat-saat menunggu buka puasa. Menurut yang saya dengar, ibu itu memaksa masuk meski belum melakukan reservasi. Beberapa kalimat amarah yang diucapkan beliau terasa sekali pernah terdengar di televisi, namun bukan itu poin saya. Saya lebih tertarik dengan reaksi si kasir yang memilih diam tidak membalas, entah memang seperti itu atau tidak terdengar karena kursi saya terlampau jauh.

Saya lantas teringat pada sosok Ray dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Saat itu Ray kecil harus menjalani hukuman dari penjaga panti asuhan karena merusakkan tasbih kesayangannya. Dia menerima saja disuruh berdiri di luar sepanjang malam, tidak peduli hujan mengguyur kota. Ray sebenarnya juga tidak peduli siapa yang merusakkan tasbih itu, satu yang dia tahu, penjaga panti marah, dan harus ada yang dihukum. Mengapa tidak dia saja yang mengajukan diri? Toh Ray sudah biasa membuat marah penjaga panti.

Masih banyak adegan ‘pasrah menerima’ lain yang Tere Liye sajikan dalam novel indah itu. Adegan di dalam restoran kereta api misal. Saat Ray, yang sudah dewasa, pasrah menerima tatapan sendu wanita berbaju hitam di depan mejanya. Tentu dia pasrah saja saat mukanya memerah dengan sendirinya, sama seperti dirinya yang pasrah ketika menemukan lagi wanita itu saat Ray sedang menikmati bulan purnama di puncak gedung. Sebenarnya dia harus bersiap pasrah untuk hal yang lain, wanita itu akan berperan besar untuk mengubah hidup Ray di kemudian hari.

Sama dengan kasir restoran tempat saya duduk menikmati hujan ibukota, mungkin dia harus pasrah bahwa ibu berjilbab itu akan mengubah hidupnya, seketika itu atau kemudian hari. Entah mengubah ke arah mana, namun saya yakin ke arah yang lebih baik. Dia sudah menyadarkan seisi restoran tentang sebuah pilihan untuk bersikap, paling tidak kepada saya. Dan ini yang akan menjadi kesimpulan tulisan ini.

Menerima. Pasrah. Di bulan Ramadhan ini, saya belajar lagi tentang itu tempo hari. Mungkin ada beberapa yang mengatakan kalau manusia haruslah bergerak sesuai nurani, melawan jika keadaan salah, dan itu benar. Tapi ada kalanya kita harus menerima. Bukan karena kalah, namun yakin bahwa terkadang satu dua hal memang harus terjadi. Lebih tepatnya mungkin, kita harus tahu kapan harus menerima kapan tidak. Terdengar subjektif, dan itulah yang menarik.

Saya memilih tetap duduk tenang sore itu, tidak ikut mendekat ke meja kasir, bahkan tidak terlalu lama menoleh ke belakang. Saat itu adalah ‘waktu’ untuk menerima. Tidak beberapa lama kemudian, azan magrib berkumandang. Lampu-lampu jalan dan gedung di seberang mulai menyala. Hujan masih menyelimuti kota, bulan masih tertutup, sayang sekali padahal dirinya sedang purnama. Entah kapan dia keluar, namun saya tahu apa yang akan saya tulis sesampai di Bandung.

Well, akhir kata, selamat belajar menerima. Selamat menemukan hal lain di bulan suci ini. Selamat beribadah, semoga berkah Ramadhan menaungi kita semua.