Saya kira hanya film lawas yang memonopoli keunikan. Kita ambil satu topik, yaitu nama. Nama memiliki sifat unik, meskipun itu melawan pertanyaan melegenda milik Shakespare.

Namun nama memang dapat menjadi tidak penting dalam layar kaca. Bisa jadi karena bahan tontonan saya tidak banyak sehingga saya harus mundur jauh ke tahun 1950an untuk membahas 12 Angry Men. Berkisah tentang dua belas pria yang ditugaskan untuk memutuskan suatu perkara, dengan hanya berkutat di satu ruangan yang terkunci, atau dua jika juga menghitung kamar mandi. Uniknya, meski ‘berhasil’ melakukan perdebatan pelik di dalam ruangan itu, mereka tidak pernah memanggil nama satu sama lain. Namun, di akhir persidangan, si aktor Henry Fonda akhirnya jebol juga memperkenalkan dirinya sebagai Davis.

Ternyata ada film yang pemainnya sukses merahasiakan nama masing-masing. Terdengar aneh saat ternyata film yang saya maksud berlatar Seoul yang modern, yaitu Hello Stranger. Film Thailand ini mengisahkan dua orang turis asal Bangkok yang tidak sengaja bertemu saat sedang berlibur di Korea Selatan. Atas nama keunikan, mereka setuju untuk sengaja saling tidak tahu nama masing-masing. Mereka berdua, yang cepat akrab karena kedekatan perasaan akibat baru patah hati, sampai berpisah pun tetap tidak tahu nama satu sama lain.

Bicara soal sengaja saling tidak tahu, saya pikir itulah, mungkin, yang tengah dilakukan orang-orang seminggu terakhir ini. Kita berusaha sengaja saling tidak tahu, yang akhirnya menjadi melupakan dan memaafkan, kesalahan orang lain. Meskipun, pada kenyataannya kesalahan orang lain sering diakibatkan oleh penilaian negatif yang tidak objektif. Keobjektifan memang topik yang menarik.

Saya lantas teringat pada para pengemis di bawah jembatan layang di kota perantauan. Terlalu banyak asumsi yang menempel pada mereka. Anak kumal yang sedang digendong itu bisa jadi anak sewaan, kadang kurang, dia juga disuruh menangis di dalam pangkuan. Kaki yang tampak, maaf, buntung itu bisa jadi hanya dilipat. Walau kadang menakjubkan membayangkan mereka melakukannya sepanjang hari. Orang tua tunanetra yang dituntun jalannya itu bisa jadi juga bukan siapa-siapa, mereka dan penuntunnya hanya didekatkan oleh uang sewa yang lebih murah ketimbang menyewa bayi, well karena mereka tidak perlu dibelikan susu.

Mumpung momennya tepat, sebaiknya saya mulai melihat mereka sebagai orang-orang yang ingin menjadi manusia yang lebih baik, bukannya malah mencari tahu siapa mereka sebenarnya. Anak kecil itu menangis sesenggukan mungkin karena belum makan sejak semalam. Pria dengan kaki yang, maaf, buntung mungkin tidak tahu lagi bagaimana mencari uang untuk biaya sekolah anaknya, sehingga harus mengemis. Orang tua tunanetra berkacamata hitam itu mungkin adalah ayah kandung dari penuntunnya, si anak tidak memiliki pekerjaan sehingga lebih baik ikut mengemis sambil menjaga ayahnya.

Logika yang sama dapat saya gunakan dalam melihat kesalahan teman-teman yang disengaja maupun tidak. Mungkin mulai dari sekarang, saya harus mulai mencoba sengaja untuk tidak tahu. Bukan karena tidak peduli, namun kadang manusia terlalu kompleks untuk dikuliti, dan biarkan saja seperti itu.

Dan biarkan juga saya terpukau dengan ending emosional yang berhasil disajikan Hello Stranger. Ketika setahun kemudian si pria berbicara di radio tentang wanita asing yang pernah ditemuinya itu, juga perasaannya yang masih tertinggal sampai sekarang. Dia menceritakan kesulitannya mencari selama ini karena tidak tahu nama wanita tersebut.

Lalu saya juga membayangkan akan mengalami akhir yang mirip di esok hari. Ketika saya dan teman-teman duduk bersama melingkari meja dan saling menceritakan kesalahan masing-masing, serta perasaan bersalah yang masih tersisa. Mungkin sedikit sulit mengungkapkannya, karena tidak mudah menggali kenangan buruk. Pada akhirnya, saya membayangkan kami saling menertawakan kebodohan setiap orang, lalu melupakannya. Dengan secangkir teh panas mungkin. Dan ponsel yang tidak ditaruh di atas meja.

Akhir kata, maaf lahir batin ya semua!