Banyak yang membenci menunggu, namun tidak sedikit yang mencoba mendefinisikan. Termasuk Bernard Batubara, dalam cerpen Milana yang manis: Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan resiko ketidakhadiran. Disana dikisahkan seorang pelukis, Milana, sedang menunggu pria yang pernah bersamanya menikmati matahari terbenam. Milana dengan kuas dan kanvas, si pria dengan bidikan kamera. Dia terus menunggu di atas feri, terus yakin bahwa senja yang sedang dilukisnya akan mereka nikmati berdua kembali, suatu saat nanti. Sia-sia. Hampir semua orang senang menunggu seakan-akan itu adalah sesuatu yang layak dilakukan, padahal menunggu dekat dengan perpisahan. Dan mereka tahu itu, ironis.

Bicara tentang perpisahan, sebelumnya saya merasa sudah jumawa. Dua SD dan tiga SMP berbeda. Sampai kuliah, saya sudah menjajal enam kota besar di Indonesia. Saya merasa sudah berteman benar dengan perpisahan, sampai tempo hari. Saat mengepak beberapa potong baju dalam travel bag, saat terbayang guratan wajah senja ibu di kaca travel perjalanan ke bandara, saat terlihat sekilas senyum kawan-kawan di tumpukan awan ketika di pesawat, saya sadar saya belum banyak mengenal tentang perpisahan. Masih teringat jelas bagaimana rasanya menutup pintu kamar, dan tahu kalau pintu itu baru akan saya buka lagi dalam hitungan bulan.

Entah apa arti yang benar untuk perpisahan. Namun saya yakin segala sesuatunya dapat dijelaskan dengan cara sederhana. Seperti seorang pemuda dengan kebaikannya yang sederhana, termasuk memilih turun dan membantu tukang becak mendorong becak di jalan tanjakan. Lalu tanpa sengaja terlihat oleh kawannya, seorang wanita, yang lantas jatuh hati dengan sederhana. Jika benar manusia selalu sedang belajar, maka bisa dipastikan seminggu terakhir ini saya sedang belajar untuk berpisah. Saya belajar mengenali kota dan komunitas baru, sembari perlahan mengurangi komunikasi dengan kawan-kawan lama. Entah sampai mana batas komunikasi itu akan dikurangi, yang jelas cukup sampai saya bisa berdiri sendiri disini dengan tetap mengingat mereka sebagai keluarga dekat. Moving on, they said.

Mungkin saya sedang mengamalkan hipotesis yang pernah ditulis oleh Goenawan Mohammad. Ditulisnya bahwa, tiap kali manusia akan berada dalam kondisi yang berbeda dan formula apapun akan kadaluwarsa. Dengan bahasanya sendiri, beliau sedang ingin memberikan anjuran untuk merantau. Kenapa? Karena dengan berada di lingkungan baru, kita akan lebih mengenal diri sendiri. Semakin asing akan semakin baik.

Iya iya, saya juga merasa kok tulisan ini tidak terstruktur, mari kita akhiri saja. Lagipula siapa yang sanggup berpikir runtut di cuaca panas seperti ini, dengan kondisi pendingin ruangan dan wifi yang amburadul. Saya kangen Bandung.

Oke, akhir kata semoga sukses untuk kawan-kawan yang juga tengah merantau. Selamat belajar berpisah, selamat beradaptasi, selamat mengenal diri sendiri. Sukses juga untuk kawan-kawan yang sedang mencari perantauan. Salam hangat dari Sorong, Papua Barat.

P.S.: Pria yang membantu mendorong becak dan kawan wanita yang jatuh hati itu, nantinya akan menjadi bapak dan ibu saya.