Angin semilir, suara deburan ombak, nikmat sekali. Kembali kubaca buku di depanku. Anak Semua Bangsa, tetralogi Buru. Tak terhitung kawan-kawan yang menertawai. Pergi jauh-jauh ke Bali hanya untuk membaca di gazebo kecil. Ah kawan, sulit kujelaskan kalau dirimu bukan seorang penikmat kata-kata. Kepuasan tertinggi adalah mampu menikmati buku di tengah suasana asing. Meskipun aku tetap mencari tenda sepi di paling ujung.

Seorang pelayan melewatiku, dan memberikan sebongkah kelapa muda pada seorang gadis.

“Maaf, saya yang memesan duluan”, terpaksa, pantai selalu terasa gerah, termasuk Jimbaran.

Gadis itu menoleh. Wajahku rasanya panas, pasti memerah. Oh ibu, dia cantik sekali.

“Engg, gapapa deh, buat Mbak aja, saya bisa nahan haus kok”. Bisa nahan haus, bodoh sekali.

Tanpa berkata-kata, dia memunggungiku lagi.

Wajahnya mengarah ke samping, arah pantai. Aku bisa melihat separuh parasnya, separuh bulan purnama. Wajah itu, wajah sendu. Rambut hitamnya tergerai ditiup angin, pandangannya menerawang. Senja di Jimbaran memang menjebak. Ada rasa hilang disana. Jingga, indah, namun lekas tertelan ombak untuk digantikan malam. Itukah yang kau risaukan?

Dia berdiri, berjalan ke arahku. Bulan purnama itu sempurna sudah. Bumi Manusia digenggamnya.

“Abang, saya boleh bertanya? Buku ini membingungkan, saya lihat abang sedang membaca buku keduanya”.

Aku tersenyum. Ternyata bukan senja yang kau pusingkan.

###

Tulisan ini menjadi pemenang CERMIN (Cerita Mini) edisi minggu pertama Juni 2013, yang diadakan Bentang Pustaka. Hope you enjoy it.