Jujur saja, terlepas dari segala kesyahduannya, senja sudah terlalu banyak diulas. Tulisan, pun jepretan. Mungkin itu juga yang terlintas di benak Bernard Batubara saat menggarap buku kumpulan cerita pendek ini, sehingga cerpen Milana, yang namanya diambil menjadi judul buku, ditempatkan sebagai kisah penutup.

milana

gambar: goodreads.com

Milana adalah seorang wanita yang kehilangan senja. Senja miliknya berada di atas kapal feri, bersama seorang pria. Dari Banyuwangi ke Jembrana, Milana dengan kanvasnya, pria itu dengan kameranya. Dia terus menunggu, sambil terus melukis senja dari atas kapal, yakin bahwa pria itu akan datang, karena dia percaya kenangan itu nyata.

Ah kenangan, masih saja ia ada. Kata absurd itu bisa mengalahkan segala macam logika, seperti pada Milana. Dia mengatakan tidak hanya yakin, namun tahu, bahwa pria itu akan datang. Milana menunggu dan terus menunggu, melupakan apa yang tokoh ‘aku’ sampaikan di suatu waktu, di suatu senja.

Satu hal yang menjadi ciri khas penulis adalah banyak menggunakan sudut pandang orang pertama. Kadang ‘saya’, kadang ‘aku’. Hal ini diperlukan saat kita menulis dengan ‘cara’ Bernard Batubara, menurut saya. Karena Bernard memiliki ciri khas kedua yang digunakan di sebagian cerpennya di buku ini, yaitu menggunakan dua sudut pandang. Termasuk di cerpen Milana, ketika ada sepenggal halaman yang menuliskan perasaan marah Milana terhadap tokoh ‘aku’ di halaman akhir.

Seperti juga pada Jung. Jung ialah seorang gadis buta yang justru bisa melihat yang tak terlihat di wajah seseorang. Pada suatu waktu, di bangku taman di pinggir Jalan Malioboro, saat mata putih itu dipertemukan dengan kamera seorang pemuda, disanalah terjadi ‘dua sudut pandang’ itu. Jung diceritakan tidak pernah memejamkan mata, bahkan berkedip, karena dirinya akan melihat kematian, yang memberikan rasa sakit layaknya dihujam ribuan jarum.

Namun, tidak seperti Jung, saya harus memejamkan mata sedikit lebih lama untuk mendapatkan ciri khas ketiga tulisan Bernard, yaitu ending yang mengejutkan. Ciri khas inilah yang menyadarkan saya tentang bagaimana seni menulis cerita pendek. Cerpen tidak sama seperti novel yang diberi ruang panjang untuk membangun emosi, sehingga menulis ending pada cerpen merupakan kesulitan tersendiri. Tidak semua memang, namun tetap ada yang berhasil mengejutkan, mungkin saya dapat mengambil contoh, baiklah untuk yang kedua kalinya, Jung. Dimana dari percakapan pikiran dua sudut pandang itu, kita dikejutkan oleh fakta bahwa si pemuda berkamera adalah saudara kembar Jung yang terpisah.

Satu lagi signature milik penulis, dia kerap menggunakan latar tempat yang nyata. Penulis seperti ingin mengatakan, ada sedikit hal luar biasa jika kita mau mengamati. Manusia kadang tertebak, namun tetap terlalu rumit untuk dikuliti, dan menarik. Mulai sekarang, saya tidak ingin melewatkan begitu saja apa yang saya lihat. Mungkin saya akan menemukan Milana lain, yang sedang melamun menatap senja dari atas kapal dari Sorong ke Nagote. Atau Jung lain, yang sedang duduk santai di bawah Jembatan Pasoepati, sambil menerawang kosong. Benar memang, inspirasi tidak untuk ditunggu, namun ditemukan.

Akhirnya, selamat melihat dari dua sudut pandang. Selamat mencari inspirasi, dan bersiap untuk terkejut darinya. Terimakasih Bernard Batubara, saya banyak belajar dari buku Anda.