Sedikit memodifikasi pernyataan dari Dahlan Iskan, manusia itu sering merasa kecewa, salah satu cara untuk menangkalnya adalah dengan tidak berekspektasi yang tinggi-tinggi. Itu juga yang saya lakukan saat membeli Negeri Para Bedebah. Sudah menjadi rahasia umum tentang kekuatan Tere Liye yang ‘spesialis’ tulisan keluarga. Saat tahu bahwa novel ini banyak membahas ilmu ekonomi, saya lantas tidak berharap terlalu banyak. Hanya mencoba topik berbeda dari penulis favorit. Itu saja.

gambar: bukabuku90.blogspot.com

gambar: bukabuku90.blogspot

Negeri Para Bedebah bercerita tentang lika-liku sang tokoh utama, Thomas, dalam melakukan usaha penyelamatan Bank Semesta dari penutupan oleh otoritas bank sentral. Dia tidak memiliki banyak waktu, hanya hitungan jam malah, sebelum hari Senin jam 8 pagi. Thomas yang merupakan penasehat keuangan kelas dunia tentu tahu apa yang harus dilakukan, dan tahu siapa saja pihak yang harus dipengaruhi. Termasuk menggulirkan isu yang menyeramkan lewat kalangan media, yaitu dampak sistematis.

Thomas mengajak kita melanglang buana melintasi zona waktu, baik dalam badan maupun pikiran. Kita akan dipertemukan dengan ‘bidak-bidak’ penting, menurut Thomas, yang sekiranya dapat membantu menyelamatkan Bank Semesta. Di dalamnya, kita diajak untuk bertarung dengan berbagai macam kelompok, seperti polisi korup, pemimpin-pemimpin media yang gampang disetir, geng tinju bawah tanah, sipir penjara bodoh yang mudah disuap, akuntan-akuntan penyulap angka keuangan, sampai pada para petinggi partai yang sedang mengikuti konvensi. Melihat Thomas yang berkeliaran di Jakarta, Purwakarta, sampai ke Bali, bisa dipastikan, penulis sedang mengupas kebobrokan Indonesia, sekaligus memperlihatkan bahwa birokrasi sebenarnya tidak serumit itu selama ada kepentingan di baliknya.

Namun Tere Liye tetap tidak bisa meninggalkan signature-nya: kekuatan keluarga. Karakter Thomas digambarkan dengan begitu kuat, yaitu seorang anak yang tumbuh besar dengan kebencian sejak melihat kematian kedua orangtuanya. Dengan alasan keluarga juga lah Thomas mau membantu menyelamatkan Bank Semesta, dimana pemilik bank itu adalah pamannya sendiri, seseorang yang dibencinya mati-matian, sampai dia tidak pernah menyebut namanya lagi meskipun sedang mengobrol.

Disini dengan lihai penulis membangun emosi. Pembaca tidak hanya diajak berlari mengikuti ritme hidup Thomas yang mendadak cepat tak terkendali, namun kita juga diajak untuk duduk tenang mendengarkan kisah masa kecil Thomas yang dikupas sedikit demi sedikit. Pembaca juga secara perlahan disadarkan bahwa pertarungan ini ternyata bukan lagi tentang penyelamatan sebuah bank swasta, namun juga pencarian jawaban masa lalu Thomas. Dan jangan lupakan juga sosok Opa, seorang pria tua yang kata-katanya mampu menambah warna lain di buku ini.

Negeri Para Bedebah adalah buku keenam dari Tere Liye yang sudah saya baca, dan beliau tetap tidak pernah mengecewakan, meskipun kisah kali ini agak keluar dari kebiasaannya. Dan itu poin yang seharusnya ditekankan. Penulis berhasil membuktikan bahwa seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik jika berani keluar dari zona nyaman. Seperti buku ini, kisah memacu jantung dibalut ilmu ekonomi, namun tetap bernuansa keluarga. Lengkap.

Dalam kisah ini pun, penulis menghadirkan kondisi memilih tetap-di-zona-nyaman-atau-tidak yang dialami tokoh utama. Yaitu ketika pintu kamar hotelnya diketuk pada dini hari yang letih, dan Thomas berdiri cukup lama disana, sambil memegang gagang pintu, untuk memutuskan apakah ia bersedia membantu pamannya atau tidak.

Saya membayangkan kita semua selalu akan menghadapi kondisi memilih seperti itu. Tetap bertahan di kamar yang nyaman, atau keluar untuk mencoba. Tidak ada pilihan yang benar-benar salah, selama pertimbangan memang dilakukan. Tidak masalah jika kita berdiri agak lama di depan pintu, menimbang-nimbang. Karena semua berawal dari argumen.

Seperti kata Thomas di dalam buku ini: Dalam dunia ini, kita telah mengambil keputusan bahkan sebelum keputusan itu terjadi. Kita hanya butuh argumen yang cocok.