Hari 1, 5 Desember 2013

Pelabuhan Waisai

Kami berangkat dari Pelabuhan Rakyat Sorong menggunakan Bahari Express, harga tiketnya 130 ribu. Kapal molor 30 menit dari jadwal yang seharusnya yaitu pukul 14.00. Akibatnya, jadwal tiba di Pelabuhan Waisai pun ikut terlambat. Kami baru tiba sekitar pukul 16.30. Kami langsung menuju checkpoint di salah satu penginapan untuk bertemu dengan Pak Daniel, guide kami selama di Raja Ampat. Oh iya, alat transportasi yang umum dari Pelabuhan Waisai adalah ojek, biaya (sepertinya flat) 20 ribu. Saat itu kami diantar menggunakan mobil milik orang yang kebetulan berkenalan di kapal. Jadi, jangan malu-malu untuk cari kenalan, siapa tahu nanti dapat tumpangan gratis di pelabuhan hehehe.

Kota Waisai

Kami langsung menghadapi masalah klasik di Raja Ampat: bahan bakar. Kira-kira sampai 2 jam setelah bertemu Pak Daniel, kami hanya duduk-duduk di pinggir kanal tempat perahu-perahu ‘menembus’ Waisai.

Kanal di Waisai

Kanal di Waisai

Ternyata saat itu bahan bakar sedang sulit. Kami hanya menunggu Pak Daniel bolak-balik dari satu pengecer ke pengecer lain, yang pulang dengan tangan kosong. Dengan pertimbangan hari sudah gelap, kami memutuskan untuk bermalam dulu di Waisai. Kami memilih Penginapan Imelda, biayanya 250 ribu/kamar/malam. Fasilitas lumayan, 2 single bed, kamar mandi dalam, TV flat screen, AC, dan breakfast. Kami yang menginap bertiga pun tidak dikenai biaya tambahan. Nice.

Belanja di Waisai

Di Waisai tidak sulit mencari tempat makan, disana bertebaran warung dan gerobak yang buka sampai malam hari. Kami sampai makan 2x hehe. Makan pertama di warung tegal, harga sepiring hampir 30 ribu. Yang kedua, kami makan mie ayam, seharga 15 ribu. Sedikit unik, mie ayam disini sudah sepaket dengan telur rebus.

Setelah makan, kami menyempatkan diri untuk berbelanja pakaian. Di Waisai banyak berjejer toko pakaian mirip di Cibaduyut, Bandung. Harga sama seperti umumnya, kaos pantai yang saya beli misal,  harganya 40 ribu.

Penginapan Imelda

Yang sedikit agak menganggu di Waisai adalah listrik. Disini listrik tidak menyala 24 jam, karena masih menggunakan genset. Range waktunya tidak pasti, tapi biasanya malam hari listrik akan hidup beberapa jam. Sehingga beberapa penginapan dan warung makan memiliki genset pribadi. Saat itu listrik menyala dari pukul 20.30 sampai tengah malam. Sama seperti air. Saat itu baru setelah pukul 20.00 air bersih mengalir lancar di kamar mandi penginapan.

Jadi, management hape-siapa-yang-dicharge-duluan harus berjalan. Karena bisa saja listrik tidak akan menyala sampai keesokan harinya. Tidak ada hape untuk foto-foto di Raja Ampat? Mimpi buruk.

Hari 2, 6 Desember 2013

Pantai WTC

Keesokan paginya, setelah sarapan sepotong brownies dan teh hangat dari penginapan, kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai WTC karena belum ada kabar dari Pak Daniel soal kepastian bahan bakar. Lagipula listrik belum menyala, bakal mati gaya kalo gak keluar kamar. Sekitar pukul 07.30, kami pergi ke pantai WTC.

Pantai WTC tidak terlalu jauh dari Penginapan Imelda, sekitar 15 menit berjalan kaki. Letaknya dekat dengan Pasar Waisai, mudah untuk ditemukan. Pantai WTC cukup sepi saat itu, pantainya juga tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan pantai lain di Raja Ampat. Tapi tetap ada spot untuk berfoto yang tidak boleh dilewatkan. Kami hanya menghabiskan 30 menit disini.

Pantai WTCOh iya, dalam perjalanan ke pantai, kami tidak sengaja bertemu dengan Pak Daniel yang mengabarkan kalau masih belum mendapatkan bahan bakar. Beliau mengatakan kalau harga bahan bakar saat itu 13 ribu/liter, dan perahu butuh 25 liter untuk perjalanan ke homestay di Pulau Gam. Kami hanya menitipkan uang 300 ribu, dan memilih menunggu di penginapan.

Penginapan Imelda

Sekitar pukul 08.30, listrik penginapan tiba-tiba menyala. Tapi itu tidak mengubah hari. Kami tidak banyak bicara satu sama lain karena memikirkan itinerary yang sedikit kacau. Seharusnya kami sudah di homestay sejak semalam, dan saat itu kami bahkan belum beranjak dari Waisai. Sekitar 20 menit kemudian, Pak Daniel datang mengabarkan sudah mendapat bahan bakar. Namun dia juga mengatakan tidak ada bahan makanan di homestay, sehingga dia perlu berbelanja dulu. Arrrgggghhhh.

Alhasil kami langsung melunasi biaya homestay pada Pak Daniel dan menyuruhnya berbelanja. Kami mendapat rekomendasi homestay ini dari orang yang bernama Pak Lukman, dan kontak Pak Daniel juga berasal dari beliau. Biaya homestay 200 ribu/malam/kepala, sudah lengkap dengan 3x makan. Berencana menginap 3 malam, kami bertiga memilih langsung melunasi 1,8 juta agar tidak ada lagi tanggungan. Pak Daniel pergi berbelanja, kami bertahan di penginapan.

Sekitar pukul 09.30, Pak Daniel mengabarkan sudah berbelanja dan siap berangkat. Kami sigap menggendong tas, berjalan cepat menuju dermaga kanal. Akhirnya, catatan perjalanan Raja Ampat siap ditulis.

Friwen

Dalam perjalanan ke homestay di Pulau Gam, kami mampir sebentar di Friwen, sekitar pukul 10.15. Sebenarnya kami sudah tidak sabar bermain pasir, kebetulan terlihat satu pulau berpasir bersih dan kami langsung saja meminta Pak Daniel untuk menepikan perahu. Ternyata itu Friwen. Puas berfoto-foto barang 15 menit, kami melanjutkan perjalanan.

3 Friwen

Kapisawar

4 Kapisawar Sekitar pukul 11.00, kami sampai di Kapisawar, namun bukan di homestay, melainkan di rumah Pak Daniel. Kenapa? Pak Daniel menyatakan bahwa sebenarnya homestay belum siap untuk ditinggali. Genset, kasur, perlengkapan makan, dan tetek bengek lain ternyata masih berada di rumah beliau! Jadi beliau butuh waktu untuk menyiapkan homestay dan kami diminta untuk beristirahat di rumahnya. Speechless. Hari pertama sudah sepenggalah matahari dan kami bahkan belum berada di homestay. Kami lebih banyak diam dengan mood yang amburadul.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Desa Kapisawar sama seperti desa disini pada umumnya. Ada gereja, kios bensin, pasir pantai yang cukup lebar, dan anak-anak kecil yang berlarian malu-malu. Setelah makan dan sholat di rumah Pak Daniel, kami menghabiskan waktu di pantai sambil menunggu Pak Daniel kembali.

Yenwaupnor

Sekitar pukul 15.00, kami pergi dari Desa Kapisawar. Tapi kami tidak langsung menuju homestay, melainkan mencari pinjaman alat snorkeling untuk 3 hari ke depan. Kami memutuskan untuk meminjam di homestay terdekat di Yenwaupnor. Berarti kembali ke arah Waisai.

Hampir pukul 16.00 ketika kami tiba disana. Tapi sayang, ternyata alat snorkeling hanya diperuntukkan untuk tamu mereka saja, bukan untuk dipinjamkan. Percobaan kedua, kami balik kanan ke arah Kapisawar, menuju Desa Sawinggrai yang letaknya tidak terlalu jauh.

Sawinggrai

Kami langsung berhadapan dengan gereja saat merapat di Desa Sawinggrai. Beribadah ditemani debur ombak, its a kind of peaceful right?

Tidak jauh dari gereja, kami mencari pinjaman di salah satu kenalan Pak Daniel, dan kami menemukan apa yang dicari. Masker, alat bantu napas, dan fins, satu paket alat snorkeling disepakati seharga 50 ribu rupiah/hari. Kami meminjam untuk 2 hari. Deal. Arloji menunjukkan pukul 16.00 lewat, tanpa buang waktu kami kembali berlayar. Moncong perahu mengarah tepat ke homestay.

Homestay

Perahu melewati Desa Kapisawar sekitar pukul 17.00, dan sampai di homestay sekitar pukul 18.15. Homestay kami cukup besar. Ada ruang dapur, ruang genset, kamar mandi, serta ruang utama yang berisikan 2 kamar tidur dan ruang makan. Kesemua ruang itu dihubungkan dengan barisan pijakan papan kayu yang membentuk dermaga di ujung. Di ujung dermaga itu, kami banyak menghabiskan hari pertama. Mengobrol, duduk-duduk sambil melihat ikan, bahkan sholat disana.

Kami makan malam sekitar pukul 20.00, tentu saja, sambil lesehan di dermaga. Saya pribadi takjub dengan pemandangan di depan homestay. Air yang tampak biru kehijauan jernih, coral yang indah, ikan warna-warni beragam yang tak segan mendekat. Saya seperti telah mendapat jawaban mengapa nama Raja Ampat begitu sering bersliweran di dunia travelling.

Seperti tidak rela jika meninggalkan dermaga, kami mengobrol sambil tiduran disana setelah makan malam. Alhasil, kami benar-benar tertidur dan baru pindah ke kamar tepat tengah malam karena kedinginan. Ah, selama tidur disana, kedinginan sampai mencret pun masih worth it kok bro.

Hari 3, 7 Desember 2013

Snorkeling

Pagi ‘pertama’ kami di Raja Ampat dibuka dengan snorkeling di depan homestay. Sejak semalam kami memang sudah ngiler dengan pemandangan di bawah kaki dermaga, dan pagi itu kami langsung bersentuhan dengannya. Coral beraneka bentuk yang dekat saja untuk disentuh, ikan-ikan mungil yang malu-malu mendekat, namun berenang menjauh ketika didekati. Saya sulit mendefinisikan dengan kata-kata tentang apa saja yang kami lihat saat itu. Satu hal yang jelas, segala macam mimpi indah saya tentang laut dan isinya sudah terwujud saat itu. Tidak lama kemudian, Pak Daniel sudah pulang dari melaut, tampaknya hanya dalam hitungan menit panggilan sarapan akan terdengar. Oiya, makanan kami sehari-hari didapat dari hasil pancingan Pak Daniel, menarik bukan hahaha.

5 Snorkeling6 Snorkeling 2 Sekitar pukul 08.00, kami menyudahi snorkeling. Selain arus sudah cukup kencang, kami juga harus bergegas mengunjungi tempat-tempat tujuan sebelum matahari terik.

Teluk Kabui

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 10.00 pagi ketika kami meninggalkan homestay. Perahu berisikan kami bertiga, Pak Daniel dengan istri dan anaknya, Donald. Target pertama kami adalah tempat-tempat di sisi barat homestay, yaitu Kabui dan Kpef. Menggunakan perahu kecil, kami menuju Teluk Kabui dengan menyusuri perairan tepian pulau.

Kami tiba di Teluk Kabui pukul 11.00 lewat.  Teluk Kabui memiliki karakter yang unik, dimana lautnya banyak dijejali pulau-pulau batu kecil seperti di Phuket. Karena lautnya dangkal, kami juga menyempatkan diri untuk snorkeling sebentar. Airnya jernih, namun pemandangan di bawahnya hanyalah pasir. Kami menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk berkeliling di Teluk Kabui.

7 Teluk Kabui Kabui

Setelah puas di Teluk Kabui, kami langsung tancap ke Desa Kabui sambil mencari tempat makan siang. Selama disana, istri Pak Daniel yang memasak makanan untuk kami. Termasuk makan siang, beliau juga ikut untuk menyiapkan bekal. Kami sampai di Desa Kabui sekitar pukul 12.30.

Disana, kami tidak sampai masuk ke pemukiman, namun hanya singgah di dermaga. Itu sudah cukup, karena disana ada tempat duduk semacam shelter busway yang bisa digunakan untuk berteduh. Selain makan siang, kami juga sempet melihat kebiasaan unik penduduk sekitar dalam memancing. Anak-anak kecil dengan kail tanpa umpan bertugas memancing ikan-ikan kecil, yang selanjutnya ikan itu digunakan sebagai umpan untuk memancing ikan yang lebih besar oleh orang dewasa.

Setelah menikmati kelapa muda yang fresh from the oven, dan berfoto sebentar dengan pemancing-pemancing cilik, kami melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 14.00, kami menuju Kpef.

8 Kabui Kpef

Dalam perjalanan ke Kpef, kapal kami kerap dihantam ombak lumayan besar yang membuat badan basah kuyup. Sebelumnya saat di Desa Kabui, hujan memang turun cukup lebat. Kami sampai di Kpef sekitar pukul 15.00.

Karakter Kpef sama seperti Teluk Kabui, pulau-pulau batu kecil yang membuat perahu harus bergerak hati-hati. Kami menghabiskan 15 menit untuk mengitari Kpef, selanjutnya kami memutuskan untuk pulang ke homestay karena hari sudah sore.

Homestay

Kami sampai di homestay sekitar pukul 16.30. Untunglah kami pulang cepat, karena, oh man, ternyata Raja Ampat seksi banget jam segitu. Kami duduk di dermaga menunggu matahari terbenam, sambil menyeduh teh hangat dan memberi makan ikan.

9 Homestay Setelah hari gelap, kami melakukan rutinitas biasa selayaknya manusia normal lain makan, mandi, sholat, dll. Kami masih duduk-duduk di dermaga sampai jam 19.00 ketika Pak Daniel mengabarkan akan menukar perahu yang lebih tinggi dan membeli bahan bakar lagi malam itu. Besok kami berencana untuk ke Pianemo yang berjarak cukup jauh, dan itu berarti kami akan melintasi lautan lepas. Kami memberikan uang sebesar 780 ribu rupiah untuk membeli 60 liter bahan bakar. Dengan alasan yang sama pula, jam 21.00 kami sudah beranjak tidur.

Hari 4, 8 Desember 2013

Pianemo

Harus diakui, di hari sebelumnya hanya sedikit tempat yang kami singgahi. Belajar dari pengalaman, tidak ada snorkeling atau lama-lama menikmati sunrise pagi itu. Pukul 07.00 pagi, moncong perahu sudah mengarah ke seberang pulau.

Selain harus menyeberangi lautan lepas dengan ombak tinggi, jarak ke Pianemo lumayan jauh. Kami baru sampai disana hampir pukul 09.00. Pianemo mirip seperti Teluk Kabui dan Pfef, dimana terdapat pulau-pulau batu kecil. Hanya sebentar waktu untuk mengitari Pianemo, disini kami juga menemukan ikon yang unik, yaitu batu pensil.

Selanjutnya kami menuju pos untuk melakukan registrasi mendaki. Pianemo dijuluki The Little Wayag karena disini kita juga bisa melihat pemandangan indah khas Wayag, yaitu gugusan pulau yang dipisahkan air hijau tosca dari atas bukit. Pos di Pianemo cukup cantik, meski kami tidak sempat melihat masuk lebih jauh karena terburu-buru. Bagian depan pos menghadap ke Pianemo menyambut turis yang mau berkunjung, sedangkan bagian belakangnya berupa pantai yang tidak terlalu berpasir lebar. Setiap kelompok turis yang datang akan ditemani seorang guide untuk mendaki salah satu bukit, dan setiap turis dikenai biaya 100 ribu rupiah.

11 Pianemo

Berfoto bersama di pos Pianemo

Di Pianemo, kami singgah di dua pulau yang biasa dijadikan tempat mendaki. Pulau pertama cukup pendek, namun lebih curam dan bermaterikan batu karang yang bisa menyebabkan kaki tergores jika tidak hati-hati. Disini kami mendaki sekitar 10 menit. Dari sini kita bisa melihat Bintang Telaga, dimana komposisi pulaunya berbentuk seperti bintang.

Telaga Bintang

Telaga Bintang

Pulau kedua lebih tinggi sehingga waktu mendakinya lebih lama, namun kabar baiknya, hampir semua berisikan tanah dan landai. Di puncak pulau kedua inilah kita bisa meresmikan Pianemo sebagai The Little Wayag, karena pemandangannya yang benar-benar menyadarkan kalau Anda sedang berada di Raja Ampat.

12 Pianemo 2 Setelah itu kami kembali ke pos untuk menjemput Pak Daniel. Tidak berlama-lama disana, sekitar pukul 10.00 kami meninggalkan Pianemo menuju destinasi berikutnya.

Little Yeben

Perjalanan ke Yeben memakan waktu hampir 1 jam. Dalam perjalanan itu kami bertemu dengan sekawanan lumba-lumba, rasanya amazing sekali saat itu hahaha norak. Akhirnya kami merapat di Little Yeben, pulau berpasir kemerahan yang memiliki keindahan layaknya Yeben. Kami menghabiskan waktu sekitar 20 menit disana, bermain pasir dan mengambil beberapa gambar.

13 Little Yeben Sekitar pukul 11.15, kami melanjutkan perjalanan ke Arborek di Pulau Mansuar untuk makan siang.

Arborek

14 Arborek

Dermaga pintu masuk Arborek

Kami sampai di Arborek sekitar pukul 12.00. Kenampakan Arborek sama seperti desa lain di Raja Ampat, yang membuatnya lebih indah adalah karena pulau ini dikelilingi pantai berpasir putih lebar dengan background yang cantik. Tidak heran, disini terdapat beberapa homestay dan kios yang membuat desa tampak lebih hidup. Kami menghabiskan waktu sedikit lebih lama di Arborek, selain makan siang, kami juga menyempatkan diri untuk mengambil beberapa improvisasi gambar. Improvisasi, salahkan Arborek yang cantik sehingga otak-otak kami tidak puas dengan gambar yang biasa hehehe.

15 Arborek 216 Arborek 3 Setelah puas, sekitar pukul 13.30 kami bertolak ke Sawondarek.

Manta Point

Di tengah perjalanan menuju Sawondarek, sekitar pukul 14.00 kami melewati Manta Point yang biasa dijadikan spot diving di Raja Ampat. Kami sempat melihat seekor manta yang cepat saja muncul di permukaan laut di samping perahu. Tidak banyak yang bisa kami lakukan disini, karena memang tidak berniat untuk diving.

Sawondarek

Kami sampai di Sawondarek sekitar pukul 15.00. Sawondarek kurang lebih terlihat sama seperti Arborek yang berpantai lebar, namun kami hanya bertahan di pantainya dan tidak masuk lebih dalam. Kenapa? Karena bagi kami saat itu, Sawondarek tidak memberikan suatu keunikan. Lagipula hari sudah sore, dan mendung sudah menggantung. Setelah 10 menit berdiskusi, kami langsung go ahead ke Yenbuba.

Yenbuba, Pantai Telaga

Entah sial entah beruntung, di tengah perjalanan ternyata hujan lebat benar-benar terjadi. Kapal yang sudah lebih tinggi tidak memberikan banyak perbedaan saat itu, kami tetap basah kuyup diterjang hujan dan ombak. Ada sekitar 15 menit kami berjuang untuk menjaga barang-barang berharga agar tidak basah, dan berdoa agar perahu tidak oleng. Sebelum akhirnya kami merapat untuk berteduh ke Pantai Telaga, Yenbuba. Kami berteduh selama 30 menit, dan ketika langit terang kami menemukan pemandangan yang menakjubkan di seberang pantai: Pasir Timbul.

Kami memang berniat untuk ke Pasir Timbul, tapi Pak Daniel tidak tahu dimana letaknya. Lalu saat itu dia muncul begitu saja di hadapan kami, menunggu untuk dikunjungi. Hujan badai yang menggiring kami kesini. Kesialan yang mujur.

Pasir Timbul

Disebut Pasir Timbul karena dirinya hanyalah seonggok hamparan pasir di tengah laut. Luas tidaknya pasir bergantung pada tinggi rendahnya muka air laut. Kami hanya bertahan selama 15 menit karena memang tidak terlalu banyak yang bisa dieksplorasi. Pukul 16.00 kami pergi ke Kurkapa untuk membeli bahan bakar.

17 Pasir Timbul Kurkapa

Dalam perjalanan, kami melewati Distrik Yenbekwan. Kami sampai di Kurkapa sekitar pukul 16.30. Pak Daniel membeli bahan bakar di kios di tepi pantai, sebanyak 20 liter untuk persiapan perjalanan sampai esok hari. Dengan bahan bakar penuh, kami mengarah ke Sawinggrai untuk mengembalikan alat snorkeling.

Homestay

Kami sampai di Sawinggrai pukul 17.00 lewat. Tidak perlu berlama-lama untuk membereskan urusan alat snorkeling, kami langsung pulang. Sesampai di homestay, hari sudah hampir gelap, jam menunjukkan hampir pukul 18.00. Tidak seperti hari sebelumnya dimana kami sempat do the art of doing nothing di dermaga, malam itu setelah makan malam, kami langsung berpencar untuk istirahat. Hari itu cukup melelahkan, langit malam sedang tidak cerah, lagipula esok kami juga akan pergi pagi hari.

Kami akan pulang mengejar kapal jam 2 siang ke Sorong, sedangkan di itinerary masih ada beberapa tempat yang ingin kami kunjungi.

Hari 5, 9 Desember 2013

Kri

Pagi itu cukup emosional, kami sarapan, mengepak pakaian, memberi makan ikan, menulis sedikit kata-kata di buku tamu, duduk-duduk sebentar di dermaga, semuanya dilakukan dengan keadaan tahu bahwa kami akan meninggalkan homestay ini dan entah kapan akan kembali. But the show must go on, pukul 07.00 pagi kami berlayar ke tujuan pertama, Pulau Kri.

Kami sampai di Pulau Kri sekitar pukul 08.00 dan tidak lama disana. Sama seperti kasus Sawondarek kemarin, kami melihat Pulau Kri mirip seperti tempat lain di Raja Ampat sehingga memilih melanjutkan perjalanan ke Saporkren untuk bird watching, yang semestinya dilakukan pagi hari sebelum matahari terbit. Waktu amat berharga saat itu, meski kami sudah terlambat sebenarnya.

Saporkren

18 Saporken

Pasar pakaian di Saporkren

Tidak seperti di desa lain, Saporkren memiliki pasar pakaian. Maklum, jarak Sapokren tidak terlalu jauh dari Waisai. Kami sampai di Saporkren sekitar pukul 09.00 pagi. Objek wisata yang ditawarkan disini adalah bird watching, dimana para turis akan mendaki bukit untuk melihat dari dekat burung cendrawasih yang melegenda itu. Seharusnya itu dilakukan pagi hari, sekitar pukul 06.00 pagi, ketika burung cendrawasih sedang ramainya beraktivitas.

Kami mendaki bukit Yenpapir kurang lebih selama 20 menit sebelum akhirnya menemukan burung cendrawasih yang dimaksud. Kami tergolong beruntung, karena saat itu sudah hampir pukul 10.00 namun masih bisa melihat burung cendrawasih, meskipun tidak terlalu jelas karena kami menikmatinya dari jarak yang lumayan jauh. Dari puncak bukit Yenpapir juga, kami bisa menyaksikan pemandangan kumpulan pulau di bawah, sama seperti saat di Pianemo. Setelah puas mengambil gambar, kami turun dan sampai di pantai lagi sekitar pukul 10.30.

19 Saporkren 2 Selama melakukan bird watching di Saporkren, kami ditemani oleh guide yang merupakan pemilik daerah itu. Setiap orang dikenai biaya 100 ribu rupiah. Setelah menikmati kelapa muda, pukul 11.00 kami berlayar menuju Waisai.

Pelabuhan Waisai

Jarak Saporkren dan Waisai tidak sampai 1 jam perjalanan. Kami sudah merapat di Pelabuhan Waisai sebelum pukul 12.00 siang. Tugas selanjutnya adalah menunggu sampai jam 14.00 sebelum kapal Bahari Express membawa kami kembali ke Sorong.

Kesimpulan

4 hari, 4 malam. Saya menghabiskan total dana 2,7 juta dari dan sampai Pelabuhan Rakyat Sorong. Cukup murah jika dibandingkan dengan literatur perjalanan ke Raja Ampat yang lain, apalagi kami mampu mengunjungi cukup banyak tempat. Wayag, yang sering digelari “Belum ke Raja Ampat kalo belum ke Wayag”, masih belum dibuka saat itu, karena permasalahan izin dan semacamnya. Mayoritas biaya dikeluarkan untuk bahan bakar perahu dan genset. Cermatlah dalam membuat itinerary, karena setiap tempat memiliki ciri khas masing-masing. Namun semua desa di Raja Ampat berpola sama: ada sekolah, gereja yang menghadap laut, dan kios bahan bakar.

Akhirnya, selamat berpetualang. Semoga sukses.

Epilog

Raja Ampat. Nama yang sejak dulu sudah membuat badan saya merinding membayangkan keindahannya. Terlebih lagi ketika saya diajak kesana, pikiran saya sudah membayangkan diri ini tiduran di lautan hijau tosca. Sulitnya listrik, sinyal, bahan bakar, air bersih. Raja Ampat cocok bagi Anda yang ingin menyendiri dan bersembunyi sesaat dari dunia. Dan layaknya perjalanan panjang yang lain, Raja Ampat dengan keheningannya akan menggiring Anda untuk menemukan diri sendiri. Mungkin Anda akan menemukannya saat menatap senja yang memantul berkilauan di laut biru, atau bisa jadi saat menatap samudera bintang di pekat malam tanpa sinar lampu, atau mungkin saat melihat anak-anak kecil berambut ikal yang tertawa saat melahap daging kelapa muda menggunakan kulit kelapa.

Terimakasih untuk kedua teman yang mengajak saya ke Raja Ampat. Kepada Ari, untuk kecermatan itinerary, bidikan kamera, dan ilmunya dalam how to act like a backpacker. Mayoritas gambar di tulisan ini diambil dari kameranya, silakan menyapa twitternya di @arichaniago. Kepada Hendra, untuk ‘liburan ke pantai kok takut basah’ thing, keluwesannya menghadapi penduduk lokal, dan selalu orang pertama yang menemukan ikan-ikan aneh. Kepada Pak Daniel Mambrasar, istri, dan Donald, untuk segala hal yang sudah dilakukan untuk kami di Raja Ampat. Saya pasti akan kesana lagi Pak, suatu waktu. Insya Allah.

Saya benci perpisahan. Itu mengapa saya berusaha menjadi orang pertama yang meninggalkan tempat saat selesai rapat himpunan, dulu. Namun saya tidak bisa melakukannya kemarin. Saat kapal Bahari Express merapat di Pelabuhan Rakyat Sorong, saya berjalan pelan meninggalkan pelabuhan. Saya berusaha tidak terpengaruh dengan deburan ombak atau peluit kapal, namun sulit. Sampai di suatu titik, saya tidak kuasa untuk membalikkan badan, menghadap laut lepas, siapa pun tahu Raja Ampat ada disana. Saya diam, mungkin Raja Ampat merasakan hal sama, dia juga membenci perpisahan. Mungkin saya bisa menulis beberapa kata, agar dia sering dikunjungi. Ah sudahlah, saya menarik napas panjang, kembali membelakangi lautan. Saya benci perpisahan.

Bersama Pak Daniel dan keluarga di Pasir Timbul

Bersama Pak Daniel dan keluarga di Pasir Timbul

Terimakasih semuanya!

Terimakasih semuanya!