Hercule Poirot sedang berada di area favoritnya, kesimpulan kasus. Ya, dia melakukan prosesi detektif ini sesuai dengan keinginan pembaca: para tersangka didudukkan di satu meja melingkar, hipotesis diurutkan sejak awal dari motif sampai masalah pribadi dengan korban, si detektif berbicara berbusa-busa memainkan intonasi sembari mengintimidasi. Tentu saja Poirot berhasil membuka kedok si pembunuh, serta cara membunuhnya yang mengagumkan. Namun, di akhir ketegangan dia berhenti sejenak. Dia mengakui tidak memiliki bukti. Ada jeda sekian spasi disana.

Ada yang menyarankan untuk membaca sebanyak mungkin. Karena kita tidak tahu dimana, mungkin di bagian paling sederhana sekalipun, yang akan meninggalkan bekas paling kentara di kepala. Mungkin potongan ending milik Murder in Mesopotamia di atas bisa memberi sedikit gambaran. Pembunuh yang berdiri tegap untuk mengakui perbuatannya. Spasi yang kosong terasa seperti berlembar-lembar. Agatha Christie seperti ingin mengatakan, pembunuh juga manusia. Atau lebih tepatnya, manusia tetaplah manusia.

Logika yang sama sedang saya terapkan untuk melihat kegagalan timnas U-23 di Final Sea Games semalam. Indonesia mengalami grafik yang naik turun sejak awal kompetisi. Menang tipis atas Kamboja, dibantai Thailand, tanpa gol dengan Timor Leste, ditutup dengan kemenangan sebiji gol penalti atas tuan rumah Myanmar. Banyak yang mencerca, tidak sedikit pula yang mencibir lolosnya Indonesia dari fase grup hanyalah keberuntungan karena aturan head to head. Beberapa mulai membandingkan dengan timnas U-19 yang permainannya memang seaduhai tiki-taka itu. Bahkan ada yang menyayangkan mengapa tidak timnas itu saja yang dikirimkan ke Myanmar.

Partai semifinal melawan Malaysia diiringi dengan pesimisme. Negeri tetangga yang menjadi musuh di hampir segala aspek kehidupan itu adalah negara yang mengalahkan Indonesia di final dua tahun lalu, di Jakarta. Menjawab keraguan, ternyata timnas bermain trengginas. Operan pendek dipadu dengan kecepatan itu, kadang diselingi tipuan-tipuan kaki, muncul lagi. Gol cepat terjadi, penonton bersorak. Indonesia tetap menjaga tempo cepat hampir sepanjang laga, meski akhirnya kebobolan juga di menit-menit akhir melalui tendangan sudut. Dua kali perpanjangan waktu tidak memberikan perbedaan. Indonesia kembali menjalani adu penalti seperti dua tahun lalu. Tapi kali ini kita lebih beruntung, dua kali Kurnia Meiga menggagalkan penalti. Indonesia kembali menembus final.

Banyak yang kembali optimis. Mengatakan bahwa tidak penting produktivitas gol kita yang buruk, asalkan bisa terus meraih kemenangan. Ada yang kembali mengingat keberhasilan Sea Games 1991. Ada yang mengatakan bahwa tidak apa-apa Indonesia tidak juara umum asalkan sepakbola merebut medali emas. Mereka kembali mengelu-elukan.

Dan saya tidak tahu akan berada dimana posisi masyarakat Indonesia setelah kekalahan di final. Kembali bersungut atau tetap mendukung. Saya bisa memberi satu kondisi. Di menit ke-75, ketika tarikan napas penonton berlari kencang sekencang waktu yang menipis, ada satu peluang besar yang 75% menjadi gol apabila dieksekusi lebih tenang. Yaitu ketika kaki kiri Ramdani Lestaluhu hanya menendang udara saat mendapat umpan tarik dari sayap kiri, disusul dengan tendangan mendatar kaki kanannya yang hanya perihal centimeter dari tiang kiri gawang Thailand. Setelah melihat tatapan kosong Ramdani setelah kegagalannya itu, dan setelah melihat dia yang terduduk lemas tidak lekas berdiri meski sudah dibantu kawan-kawannya. Saya sudah tahu sikap apa yang akan saya ambil bahkan jika Indonesia benar-benar kalah nantinya. Tidak lama kemudian peluit panjang berbunyi. Saya mengalihkan pandangan, tidak ingin lama-lama melihat raut muka kekecewaan para pemain. Sudah cukuplah satu tatapan kosong itu yang ‘berhasil’ saya lihat.

Dari pencerca menjadi pemuja. Tatapan kosong menatap kamera. Mereka bisa dilihat dengan kacamata yang sama. Justru dengan menampilkan emosi labil yang saling mengisi, kita akan menjadi manusia yang lengkap.

Seperti yang saya lakukan semalam. Saya tidak banyak bicara saat nonton bareng dengan teman-teman lawas, di tengah gerimis temaram khas Bandung. Mungkin saya hanya kangen dengan canda sederhana itu, atau malah rindu dengan teriakan ‘Indonesia!’ bareng-bareng ala nobar. Entah, kadang kita sudah merasa mengobrol berjam-jam dengan seseorang bahkan hanya dengan duduk tenang semeja. Aneh, saya malah diam di depan orang-orang yang bisa saja baru bisa saya temui 3 bulan lagi.

Ya itu tadi, karena saya manusia yang lengkap.