Mayoritas orang percaya pada dua macam jawaban: ya dan tidak. Sisanya, yang hanya beberapa, yakin sebuah pasti tidak terdapat di setiap akhir. Tidak menyelesaikan juga merupakan salah satu bentuk penyelesaian. Membaca buku ini meyakinkan saya bahwa penulis, Maggie Tiojakin, merupakan salah satu dari beberapa orang itu.

gambar: goodreads.com

gambar: goodreads.com

Cover, baik gambar maupun kata-kata di dalamnya, cukup menarik. “Janji” buku ini untuk menghadirkan kisah yang tidak biasa, lihat saja judulnya Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Kumpulan Kisah Absurd, berhasil menyihir saya untuk menebusnya dari rak buku. Dan benar saja, Maggie mengajak saya mengunjungi berbagai tempat yang tidak pernah terpikirkan untuk dijamah sebuah cerpen. Langkah pertama Maggie untuk totalitas ‘menyajikan’ kisah absurd adalah dengan melemparkan pembacanya ke tempat antah-berantah. Mulai dari komplek yang kebanjiran, otak maya seorang gamer, rel bawah tanah sebuah stasiun tua, atau negara yang sedang dilanda perang saudara. Selain tempat, Maggie juga menyajikan dialog dan alur yang mengejutkan. Pun dengan ending, poin yang sudah saya sebutkan di atas.

Misalnya pada cerita Tak Ada Badai di Taman Eden. Disini lumayan banyak dialog pendek, berlatar normal, meski dengan ending yang multi interpretasi. Tampaknya Maggie sengaja menempatkannya sebagai kisah pembuka agar tidak mengagetkan pembaca. Cerpen ini berkisah tentang obrolan sepasang suami istri di suatu sore yang mendung. Masa lalu mengakibatkan Anouk selalu percaya suatu waktu langit akan runtuh. Sedangkan suaminya, Barney, akan menghabiskan tiga ratus enam puluh empat hari sisanya untuk memunguti pecahan langit, lantas menyatukannya satu per satu, menciptakan ilusi.

Sedangkan pada kisah Kota Abu-Abu, selain dialog, penulis juga menggunakan latar sebagai kekuatan cerita. Kota Abu-abu terletak di ujung dunia dimana hujan turun tanpa henti dan matahari menyembunyikan diri sepanjang hari. Disana tokoh aku, Remos, bertempat tinggal. Dan disana pula sang istri meninggalkannya untuk pergi melihat dunia luar. Mereka berpisah karena Remos yakin tidak ada yang menarik di luar sana, sampai suatu hari dia menghabiskan malam seorang diri menghadapi gelas bir beku. Sudah hampir dua tahun, namun tak ada kabar apapun dari Greta.

Kisah selanjutnya yang menarik untuk diulas adalah Dia, Pemberani. Berkisah tentang Masaai yang gemar menantang alam untuk memuaskan adrenalin. Jalan cerita terlihat biasa, sebiasa pengalaman Masaai dikejar rombongan banteng di Festival San Fermin, serta sebiasa Masaai yang menahan napas saat didekati hiu di dasar samudera. Namun bersiap saja menerima akhir yang tersaji. Ending bukan tentang jawaban ketakutan Zaleb, yang kali ini rela menemani suaminya sampai ke perairan Pasifik. Akhir kisah menggali lebih dalam dari itu, yang menjadi salah satu yang terbaik menurut saya.

Dan tentu tidak lengkap jika tidak membahas kisah penutup yang berjudul sama. Cerpen Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa bertutur tentang tim astronot yang terdampar dan menemukan kisahnya di Merkurius. Mereka memutuskan untuk berjalan ke arah depan, karena kompas memilih tidak bekerjasama disana, untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk kembali ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Jarak yang tercipta menjadi tidak berguna karena planet yang terus menyusut setiap sekian kontraksi. Berhari-hari, roket rusak yang mereka tinggalkan tetap berada di belakang.

Anouk yang menunggu langit runtuh, Remos yang bersikeras tidak ingin meninggalkan kota mendungnya barang sebentar, atau Zaleb yang tetap memunggungi ketika Masaai sudah naik ke tepi kapal. Semua tokoh dalam SKTLA terasa memiliki porsi ketakutannya sendiri. Lebih jauh lagi, penulis bahkan membiarkan beberapa tokohnya memiliki ketakutan terhadap hal yang tidak logis. Penulis seperti ingin mengatakan, bahwa untuk beberapa keadaan kita boleh, bahkan harus, mengalaminya. Ketakutan akan menyediakan tempat untuk percaya, pada sesuatu yang lebih besar disana, sesuatu yang akan menjaga kita siang malam.

Melalui Milana, Bernard Batubara menyiratkan ending adalah kekuatan penting dalam cerpen. Namun, Maggie Tiojakin malah mengajarkan sebaliknya: ending itu suka-suka, pikirkan kekuatan cerita. Membaca SKTLA, saya benar-benar tidak bisa menebak kemana arah dan akhir cerita. Saya bahkan tidak bisa menebak kapan cerita akan diselesaikan. Bukannya belum berusaha, saya sudah mencoba di beberapa cerpen awal, dan selalu salah. Akhirnya saya membiarkan diri saja asyik terjebak di dunia Maggie Tiojakin. Selamat Maggie, Anda menang.