“Menurutmu, aku harus gimana?”

Tidak ada yang lebih memainkan emosi daripada menghadapi wanita dengan tanda tanya. Apalagi dengan pertanyaan retoris. Apalagi dengan wajah pura-pura polos padahal di matanya terlihat dia sudah tahu jawaban pertanyaan yang diajukannya sendiri. Apalagi dia tahu dirimu sedang buru-buru: memutar-mutar tali kunci motor dan jemari kaki saling menggaruk.

Namun, demi sopan santun, saya menahan diri. Kita telah mengambil keputusan bahkan sebelum keputusan itu terjadi, kita hanya butuh argumen yang cocok. Rentetan kata milik Tere Liye itu bisa juga saya gunakan untuk orang yang sedang curhat. Mereka sudah menyiapkan penjabaran masalah, bahkan dengan jawabannya. Mereka hanya butuh diberi jawaban yang diharapkan. Dan tentu saja, seperti politikus, mereka butuh pertanyaan.

Maka, dengan hati-hati seakan pertanyaan ini sangat dipertimbangkan untuk dilempar, mulut ini akhirnya berucap.

“Memang gimana keadaan kalian?”

Lalu meluncurlah argumen-argumen mendalam. Penjabaran pun analisis yang sebenarnya sudah terlihat apa jawaban yang dia mau. Kisah klasik pria yang cuek, wanita yang berharap, cinta segitiga yang mampir, dukungan teman-teman yang hambar. Sehambar harapan.

“Terus, menurutmu aku harus gimana?”

Diulangnya kalimat itu. Seakan itu pertanyaan pamungkas tak terjawab atas presentasinya yang brilian. Padahal, demi Tuhan, telinga saya lebih menangkap wawancara salah seorang peserta konvensi capres yang menjemukan dari layar datar di sampingnya. Kebingungan, saya memilih mengembalikan bola.

“Kalo menurut kamu sendiri, harusnya gimana?”

Dia kembali berargumen panjang. Tentang kemungkinan yang terjadi jika salah langkah, lengkap dengan konsekuensinya.

Bagus, saya bisa mengulur waktu untuk memikirkan jawaban objektif. Sembari menyiapkan umpatan sarkastik mungkin. Saya menutup mata, menajamkan indera lain, fokus mencari kata-kata. Lambat laun suara si wanita semakin pelan, menjadi tenggelam, digantikan oleh sayup-sayup gombalan si peserta konvensi yang muncul ke permukaan. Sampai pada suatu titik, sempurna sudah suara kebapakan dari arah TV menyita ruang pendengaran saya. Dia berkoar-koar soal momentum. Inilah saatnya rakyat biasa bisa menjadi pemimpin negeri, karena peraturan yang mengharuskan capres berasal dari parpol, dan semacamnya, dan seterusnya. Ah, dia sedang memotivasi diri sendiri.

Bicara soal motivasi, saya jadi ingat tren media sosial beberapa hari terakhir. Berhubung sedang tahun baru, semua orang berlomba-lomba untuk membuat resolusi. Baik kata-kata, gambar, bahkan video, semua ramai membahasnya. Saking banyaknya frekuensi, saya jadi tidak tahu lagi itu benar-benar resolusi pribadi atau mencomot milik orang lain (yang sudah menjadi milik publik jika dilempar ke media sosial), atau mungkin resolusinya dua tahun lalu.

Sama seperti si peserta konvensi dengan batik cokelat mahalnya, para pengumbar resolusi juga sedang memotivasi diri sendiri. Sisi baiknya, motivasi bisa menyebar, termasuk untuk saya. Namun dengan segala hormat, saya malah semakin termotivasi untuk tidak membuat resolusi tahun baru.

Dan mungkin ini masalah wanita kita. Dia tidak terlalu mengikuti perkembangan media sosial sehingga tidak tahu kata kunci itu. Motivasi. Tanpa menunggunya menyelesaikan omongan, yang dari awal memang sedikit tidak saya gubris, saya memotongnya.

Bukannya marah, dia malah mencondongkan badan, kelopak matanya membesar. Tanda antusias menunggu jawaban. Orang yang sedang jatuh cinta terkadang memang membingungkan. Saya berbicara perlahan.

“Pilihannya ada dua, ambil yang beresiko apa yang gak. Lakuin aja apa yang kamu mau. Poinnya, jangan sampai kamu nanti menyesal sama apa yang gak dilakuin. Don’t be an old man filled with regret bro.”

Oke, pertama, jawaban saya tetap tidak menjawab. Kedua, don’t be an old man filled with regret thing, itu secara random saya ambil mentah-mentah dari film New Girl. Salahkan Zooey Deschanel yang mendadak muncul di detik-detik terakhir. Ternyata saya tidak pandai memberi motivasi.

Baiklah, demi melihat wajah si wanita yang melongo, saya bergegas angkat kaki. Kunci motor kembali saya kantongi. Saya harus mencari TV, untuk lanjut mendengarkan cuap-cuap si peserta konvensi yang tampaknya menarik, sambil belajar memotivasi. Untuk diri sendiri dan orang lain.