Bayangkan keadaan ini.

Anda sedang berada di salah satu antrean loket stasiun. Berita baiknya, Anda adalah orang kedua terdepan di antrean. Pria berbaju merah di depan Anda sedang menyerahkan lipatan formulir pada petugas. Sayangnya, roda nasib hanya butuh lima menit untuk memberikan kabar buruk. Ternyata si pria berbaju merah tidak lekas menemukan tiket yang dicari. Kereta impiannya terisi penuh. Oh, tidak semua ternyata. Terlihat dia mengeluarkan daftar panjang kereta yang melewati stasiun tujuannya. Lima menit berikutnya menggulirkan kabar buruk lain: antrean sebelah mengalir begitu lancarnya. Terhitung sudah beberapa orang tersenyum puas memegang tiket sejak pria di depan tertahan. Jangan tanya tentang orang yang tadi meminjam pulpen saat sama-sama mengisi formulir di meja pendaftaran, dia sudah melenggang sejak lama, juga dari antrean sebelah.

Anda tahu apa yang pria berbaju merah lakukan. Dia sedang memaksa Anda, dan mungkin juga orang-orang di belakang Anda, untuk memilih. Bertahan atau pindah. Lima menit kesia-siaan bertambah lagi saat melihatnya malah beradu mulut dengan petugas. Orang-orang paling belakang sudah pindah sedari tadi. Keringat mengucur deras, sederas barisan di sebelah. Anda melihat arloji. Anda tahu sekarang saatnya untuk mengambil keputusan.

Keadaan inilah yang dialami fans Manchester United saat ini.

Sampai setengah musim liga, MU terdampar di posisi 7. Hanya mengumpulkan 34 poin dari 20 laga, tertinggal 11 poin dari pemuncak klasemen, Arsenal. Selisih gol tidak sampai 2 digit, terburuk dibanding 5 tim di atasnya. Sudah mengalami 6 kekalahan di liga, 4 diantaranya terjadi di Old Trafford. Tidak banyak tim juara bertahan yang kalah sebanyak itu sebelum Februari.

Bicara soal kekalahan, itu juga yang mereka alami di tiga pertandingan terakhir. Dengan skor identik, di tiga ajang yang berbeda. Dari Tottenham Hotspur di Liga Inggris, Swansea City di Piala FA, serta yang paling hangat, Sunderland di semifinal Piala Carling.

Salah siapa? Moyes?

Bisa jadi. Menjadi pelatih tim juara bertahan itu satu hal. Menjadi pelatih tim berfans masif di Inggris, yang sebelumnya dilatih seorang Sir Alex, itu lain hal. Tidak terbayangkan tekanan yang dirasa Moyes saat MU mengalami satu kekalahan saja, hal yang tidak dia temukan di Everton.

Lalu apa yang kita lakukan?

Jika Anda fans MU dan punya uang berlebih, mungkin bisa menyumbang sebagian untuk transfer musim dingin nanti. Jika Anda seperti saya, fans dengan tangan kosong selain follower dan jersey KW Thailand, mari kita berikan sedikit kepercayaan yang lebih. Mungkin MU memang tidak akan sukses musim ini, bahkan bisa saja MU tidak akan bermain di Liga Champions dua musim ke depan. Tapi saya yakin, saya tidak akan menjadi fans bola yang hidup di masa lalu. Saya yakin David Moyes akan membangun dinasti kuat, seperti yang pernah dilakukan pendahulunya, dan itu akan bertahan lama. Dia hanya butuh waktu.

Seperti yang saya berikan pada si pria berbaju merah yang sedang marah-marah di depan. Mari berikan pria kita ini sedikit waktu untuk membereskan masalahnya. Semoga antrean ini kembali mengurai. Jika Anda mengalami hal serupa di antrean-antrean lain, di bioskop, di shelter busway, di loket bagasi bandara, atau di meja makan pernikahan saudara, mungkin Anda akan menghadapi pilihan mendebarkan itu: bertahan atau pindah.

Jika Anda memilih bertahan seperti saya, mari kita membuang waktu di ponsel, seperti yang biasa orang-orang lakukan di meja makan saat sedang bersantap bersama keluarga besar.  Hati-hati di jejaring sosial. Jika tidak kuat menahan diri, bisa saja Anda tidak hanya pindah antrean, namun malah balik kanan urung membeli tiket. Justru inilah saatnya kita melihat siapa fans abal-abal siapa fans loyal.

Jangan terlalu serius mengurus timeline, mungkin kita bisa sisakan spasi untuk tertawa disana. Untuk itulah ada akun Farhat Abbas.

P.S.: Ide antrean di atas saya dapat dari cerpen pembuka Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, karya Seno Gumira. Selamat untuk yang berhasil menebak.