Tangan kirinya memegang kaku selinting rokok. Mempertemukannya dengan pemantik api di tangan kanan, yang juga terlihat kaku, sembari menahan angin memakai tubuhnya yang tegap. Kaku, semuanya terlihat kaku. Entah mata yang memincing ke arah pucuk rokok, atau bibir yang menahan rokok agar tidak jatuh, atau kepulan asap pertama setelahnya.

Sejak kapan kau merokok? Saya bertanya.

Mulutnya menyunggingkan senyum tipis, tidak ada suara. Hanya ada kepulan asap kedua, ketiga, dan selanjutnya. Bau asap rokok membuat hidung saya sesak, mendobrak otak untuk mendefinisikannya sebagai perusak. Memaksa saya semakin mengutuki klakson-klakson angkot yang berebutan melaju, remang lampu yang mengganggu, mi goreng yang seperti kebanyakan diberi bumbu, dan dingin Januari tanpa bintang yang membuat Bandung semakin terasa Bandung. Saya merapatkan jaket, lantas mengutukinya karena tidak banyak membantu. Saya dan asap rokok memang tidak pernah cocok.

Kita sedang menjalani pekerjaan paling membosankan Re, me-nung-gu. Setelah hembusan racun nikotin yang kesekian kalinya, dengan tangan menunjuk-nunjuk meja, akhirnya dia bersuara.

Giliran saya yang tersenyum tanggung. Menunggu, kata itu mengingatkan pada satu kisah di Rectoverso. Tentang tokoh aku yang menahan diri untuk tidak menyusul tokoh kamu, yang sedang menyusuri jejak ombak mengejar senja. Aku menahan diri untuk menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk mengabarkan ke wanita itu bahwa sebenarnya dia tidak berjalan sendirian di atas pasir. Akibatnya, dia harus melihat semuanya, dan dia tahu itu. Dia melihat seseorang yang menghampiri, lalu meninggalkan, wanita itu untuk mengabarkan kalau makan malam sudah menanti, lengkap dengan lilin aromaterapi yang akan melengkapi. Dia juga melihat wanita itu terjatuh dari duduknya di batu karang sambil menangis. Wanita itu menangis. Di hadapan senja yang mengalahkan mendung dan ombak yang lembut berkunjung, dia menangis. Dia juga harus melihat tubuh lemahnya yang ditarik ombak kembali ke pinggir pantai. Wanita pujaannya mendadak berlari penuh amarah ke samudera luas, menggarami laut dengan air matanya yang deras.

Di atas pasir lembut, seonggok tubuh lemah dengan pakaian basah itu berada sekarang. Namun tokoh aku masih urung menghampiri. Menahan diri untuk menunggu sebuah pertanda, berharap dia tahu aku selalu disini.

Dalam cerpen manis yang berjudul Aku Ada itu, Dee menuliskan menunggu dalam definisi yang lumrah, yaitu berjudi. Mungkin Dee harus mencoba pergi ke Saraga, seperti saya, untuk melabeli menunggu dalam dimensi yang lain. Kemarin, di gerimis sore yang miris, lapangan hijau berhasil menyajikan kisah sepakbola yang romantis.

Kekalahan di laga perdana membuat pertandingan kemarin menjadi tidak ada artinya. Menang atau tidak, TFC tetap akan gugur. Kami semua tahu itu. Kami juga tahu kami harus menunggu dua tahun lagi untuk kembali bercerita. Tapi sepakbola tetap menyuguhkan panggung yang siap ditulis, dan TERRA selalu tahu cara menutup layar. Kami menang tiga gol tanpa balas. Kemenangan yang berhasil mengembalikan senyum yang sempat berkerut. Tidak selamanya kita tidak boleh kalah, namun semua tahu kesatria berpedang selalu mengakhiri kisah dengan senyum lapang.

Ternyata kami tidak perlu menunggu selama itu untuk benar-benar mengukir kisah. Kami sudah melakukan aksi heroik versi kami sendiri. TFC membuat kami percaya untuk menunggu dua tahun lagi. Menunggu memang tidak selamanya tentang berjudi. TFC membuktikan itu dengan kemenangannya tempo hari.

Akhir kata, selamat menunggu. Kepada TERRA untuk mencetak prestasi di event olahraga selanjutnya. Kepada kawan saya yang mungkin saat ini sedang menikmati pekat nikotinnya. Kepada Anda semua, dan saya sendiri, untuk mimpi-mimpi yang sedang dirajut. Ah, kita memang selalu sedang menunggu.

Baiklah, selagi menunggu, biarkan saya melanjutkan lagi membaca Rectoverso.