Flâneur, dalam bahasa Prancis, berarti pengelana. Seperti yang pernah Dimas Suryo lakukan di masa lalu, menikmati berbagai pemikiran yang berbeda, dan enggan berkomitmen terhadap wanita. Dulu di keduanya, bahkan mungkin sampai sekarang, dia memilih untuk tidak memilih. Memilih untuk tidak menurunkan jangkar karena merasa putaran dunia belum terlalu sore. Masih banyak pelabuhan berbahaya lain yang nikmat untuk diarungi.

Flâneur. Dia juga sedang melakukannya sekarang, di Cimitière du Père Lachaise bersama Lintang. Sikapnya masih sama, berpindah dari satu nisan ke nisan yang lain. Mencoba mengenang kisah hidup pemiliknya yang sudah mengurai bersama tanah. Dari makam Édit Piaf yang sederhana, lalu ke Marcel Proust, sampai ke nisan megah milik Jim Morrison. Makam di Paris memang bisa dijadikan tour tersendiri, dibangun bukan sekedar untuk menjaga hubungan, namun juga sekaligus memelihara melankoli.

gambar: goodreads.com

gambar: goodreads.com

Pulang berkisah tentang keluarga besar Dimas Suryo yang menjadi saksi dalam tiga sejarah kelam manusia: Indonesia 30 September 1965, Paris Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998. Menulis kisah sejarah berarti harus berani menaklukkan sastra di kelas yang berbeda, serta melakukan permainan alur yang tidak mudah, jika tidak ingin terjebak menjadi textbook yang menjemukan.

Waktu terasa cepat saat saya membaca Pulang. Saya masih terpukau ketika melihat Dimas Suryo yang bernasib baik sedang menghadiri konferensi jurnalis di Santiago, sehingga tidak mengalami perburuan, interogasi, pengasingan, dan kata-kata mengerikan lain yang menghiasi Indonesia di September 1965. Tiba-tiba saya terbang ke demonstrasi di Kampus Sorbonne tahun 1968 saat Dimas bertemu Vivienne Deveraux yang kelak menjadi istrinya, sampai ke romantisme Paris 1980an saat dia dan kawan-kawan, yang tetap tidak bisa kembali Indonesia, bertahan hidup dengan mendirikan Restoran Tanah Air, sambil tetap mencari makna rumah. Dan mendadak jarum jam sudah ke sosok Lintang Utara, anak Dimas, yang beruntung bisa melewati KBRI untuk berkunjung ke Indonesia, yang malah membawanya bertemu dengan sosok mengerikan itu, sosok yang sampai sekarang terus menjadi perdebatan narasumber berdasi sampa obrolan warung kopi, yaitu kerusuhan Mei 1998.

Selain alur yang dibuat maju mundur secara halus, dengan apik penulis, Leila S. Chudori, dalam beberapa halaman memilih untuk membagi bab berdasarkan karakter di dalam bukunya. Sehingga pembaca dengan rileks dapat memahami sejarah sambil mendalami pergulatan batin setiap tokoh. Mereka diberi ruang emosinya masing-masing. Bukan saja untuk mendukung kisah Dimas Suryo, namun karena manusia memang seperti itu adanya, terlalu kompleks untuk ditulis. Mungkin juga untuk mendukung ke-kompleks-an itu, penulis dengan vulgar memasukkan unsur seks yang bagi beberapa pembaca terasa kurang pantas.

Pulang, adalah kisah pengelana sejati yang ditolak tanah kelahirannya karena dianggap pendukung komunisme. Tentang keluarga besar dan rekan-rekan Dimas Suryo yang menjadi korban dari sejarah yang salah. Ah lagipula, siapa yang berhak mengklaim sebagai pemilik sejarah yang benar. Satu yang pasti, Pulang adalah kisah mahal yang saya tahu tidak akan mudah ditemukan di rak-rak buku.

**

Dalam salah satu tulisannya yang bernyawa, Bernard Batubara membahas tentang apa yang sebenarnya harus ditelurkan oleh penulis Indonesia, yaitu tulisan yang memang bernilai dan bernapaskan Indonesia. Gampangnya begini, entah berlatar di dalam atau luar negeri, tulisan kita (se)harusnya menunjukkan sikap seorang warga Indonesia terhadap sebuah peristiwa negaranya. Semakin besar peristiwanya, semakin kompleks akibatnya, akan semakin mewah kisahnya. Bara tidak main-main, dia mengambil sampel langsung dari buku-buku pemenang Nobel Sastra.

Saat saya membaca Pulang, saya mengerti apa yang dimaksud.