Saya hidup di kota yang penduduknya gemar mengkhianati jarum arloji. Hitungan jam seenaknya dimainkan, dan menit hanya tinggal serpihan. Janji dengan kejam dibatalkan di detik terakhir. Ibarat pertandingan bola, perpanjangan waktunya hampir menyamai waktu normal permainan. Kadang saya merasa bersalah menjadi orang yang tepat waktu. Saya menjadi minoritas yang tidak dianggap ada.

Duh, aku baru mau siap-siap berangkat. Begitu pesan singkatnya berbunyi, tiga menit sebelum jam yang sudah disepakati. Saya sudah di tempat pertemuan, sembari menemukan hal absurd lain di parkiran kendaraan: ibu-ibu sedang mengeluarkan motornya yang terhimpit, dan tukang parkir yang tidak mau membantu barang sedikit. Dia beruntung baru dua minggu kemarin saya kehilangan android. Kepalanya tidak jadi terkena lemparan ponsel saya satu-satunya, yang sedang saya genggam kuat.

Keberuntungannya ternyata menyebar kemana-mana. Rompi jingganya yang mencolok mata malah mengingatkan saya pada sebuah kisah lama. Tentang wanita yang lebih nyaman menjadi bayangan, lalu memilih menyembunyikan diri. Dari dunia, dan dari pria yang diam-diam disukai.

##

Dia bercerita tentang kawannya yang kekurangan. Makan seadanya, sampai-sampai jika ada uang lebih untuk membeli ayam, ibunya sebatas mampu untuk menebus bagian punggungnya saja. Sampai dewasa, kawannya itu menganggap kalau ayam hanya memiliki punggung. Dia adalah orang yang beruntung. Dia tidak tahu apa yang tidak mampu diraihnya. Tidak seperti si pencerita, si dia, yang berhari-hari hanya sanggup memandangi pria pujaan hati dari belakang. Dia tahu apa yang tidak bisa diraihnya.

Hanya Isyarat, saya sedang mengisahkan ulang cerpen itu. Dia, seorang wanita, menceritakan kisah menohok di atas dalam rangka bertaruh dengan tiga kawannya. Siapa yang mampu menyajikan kisah paling sedih, akan diberi kesempatan untuk menyuruh siapa saja melakukan apa saja. Tentu dia memenangkan pertarungan. Sebagai hadiahnya, dia menunjuk salah seorang untuk mematikan lampu warna-warni di atas kepala yang merusak kesendirian. Setelahnya, dia minta izin kembali ke duduknya di keremangan, memilih menikmati lagi punggung seseorang yang terlanjur membuat hatinya tertawan. Seseorang yang baru saja kembali ke kursi dari mematikan saklar lampu warna-warni.

##

Sepanjang Dee terus menulis, akan tetap ada pembaca yang kehabisan kata-kata, penulis muda yang menggebu-begu melanjutkan tulisan, pujangga yang semena-mena mengutip rima bahasanya, lantas buru-buru menemui sang kekasih untuk menitipkan hati, seakan waktu tidak lagi banyak dan tidak ada jeda menikmati senja barang sejenak.

Salah satu cerpen Rectoverso di atas misal. Terlalu sinis jika Anda tetap menjadi manusia yang sama setelah menyelesaikan buku itu.

Kali ini, Dee sedang berbicara tentang jarak. Jarak yang tercipta saat dia hanya bisa menikmati punggung orang yang dikasihi. Jarak yang ada saat dia lebih nyaman mengagumi seseorang dari bawah lampu temaram. Disengaja atau tidak, kadang jarak memang perlu, agar ada ruang untuk rindu. Seperti kisah Borno dari Sungai Kapuas yang saling berkirim  surat dengan Mei. Seperti Milana yang tetap setia melukis di atas feri dari Banyuwangi ke Jembrana, menunggu pria yang dulu bersamanya menikmati senja. Seperti Ikal yang percaya bisa menemukan A Ling, bahkan sampai mencarinya ke tanah Afrika. Seperti kisah..

Oke hentikan, bisa-bisa semua tokoh novel saya tuliskan disini. Ehm, saya tidak mau klise, tapi, bisa jadi itu juga maksud Tuhan menghilangkan android saya. Jarak.

Sudahlah, lagipula teman yang saya tunggu sudah datang. Saya benci mengakuinya, tapi mengumpatinya dalam penantian malah menyadarkan saya pada konsep jarak ini. Apa jangan-jangan dia memang sengaja datang terlambat agar tercipta jarak? Ah, terlalu picisan.

Well, saya harus cepat-cepat mengeluarkan motor, siapa tahu bisa lolos dari tagihan tukang parkir yang hanya duduk-duduk itu.