Banyak yang terlintas di pikiran saat mendengar wawancara Ibu Risma di Mata Najwa tempo hari.

Mengapa dia berpikir untuk mundur, bahkan tidak berani berjanji untuk menyelesaikan masa jabatan? Mengapa dia merasa bukan siapa-siapa saat dicalonkan sebagai presiden? Mengapa dia merasa bukan orang hebat, padahal puluhan penghargaan mampir ke Surabaya selama dia menjabat?

Belasan mengapa yang lain terus menghampiri. Belasan juga yang tidak bertemu jawabnya. Mungkin bukan hanya saya dan penonton yang bertanya seperti itu, namun juga Ibu Risma sendiri. Orang bijak pernah mengatakan, sebenarnya tidak ada pertanyaan yang bisa dijawab tuntas, karena setiap jawaban akan memancing pertanyaan-pertanyaan baru yang mengalir deras.

Bicara tentang pertanyaan, saya jadi ingat itu juga yang sering diajukan Tere Liye di setiap bukunya. Beda kisah dan tokoh, beda pula medianya. Setiap dari mereka memiliki cara sendiri untuk mempertanyakan hidup. Tulisan ini berangkat dari buku terakhir yang saya baca, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Seorang anak kecil gelandangan yang jatuh hati dengan penyelamat keluarganya. Terus memendam rasa sampai beranjak dewasa, menebak dalam abu-abu, berharap dalam ragu. Apakah dia boleh mencintai pria yang usianya jauh melebihi, tanyanya terus dalam hati. Tidak ada tempat yang lebih baik dari mengenang semuanya daripada lantai dua toko buku terbesar di kota. Disana dia mengenang, sekaligus mencari jawaban yang belum pernah ditemukan. Pada suatu malam, di lantai dua toko buku itu juga dia memantapkan hati untuk mengakhiri drama.

Belum cukup, Tere Liye memberikan suasana ‘pencarian jawaban’ yang lebih syahdu dibandingkan melihat keramaian kota dari kaca toko buku dalam Moga Bunda Disayang Allah.

Tentang dua orang terpuruk yang ternyata sama-sama memiliki masa silam suram bertumpuk. Seorang pemuda pemurung yang terus mengurung diri setelah trauma melihat kematian muridnya. Seorang gadis kecil pemarah yang mendadak buta dan tuli karena kecelakaan. Mereka saling tidak peduli di awal namun ternyata bertakdir untuk saling menyembuhkan. Mengapa semua harus seperti ini, mereka terus meratap dalam gelap. Masing-masing mempertanyakan di hadapan ratusan kunang-kunang yang menerangi malam. Kunang-kunang yang terus mendoakan kesehatan mereka, yang terangnya mengalahkan kemilau lampu kota.

Dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Tere Liye menghadirkan sesosok pria yang dilempar melintasi waktu untuk melihat kembali lika-liku masa lalu. Banyak kepedihan yang sudah dia alami, pun kehilangan yang dimaknai. Mengapa penjaga panti senang menghukum anak-anak, mengapa sang istri pergi terlebih dahulu, mengapa dia ditinggal keluarga yang begitu menyayangi. Di hening malam yang memesona, saat pertanyaan sudah begitu sesak membanjiri dada, dia menaiki titik tertinggi di gedung yang tengah dikerjakan pegawainya untuk menikmati terang purnama.

Lantai dua toko buku, kunang-kunang, bulan purnama, dan entah apa lagi di novel lain. Semua karakter fiksi butuh pelarian untuk menghadapi kepenatan pertanyaan yang berjibun. Bukan untuk menghindar, namun kadang seseorang butuh hal ajaib untuk bertahan.

Mungkin ini yang dibutuhkan oleh Ibu Risma, serta Anda juga yang tengah mencari jawaban yang tersembunyi. Silakan rehat sebentar, carilah hal ajaib untuk dinikmati. Jawaban milik Anda tidak akan lari kemana-mana, hanya menunggu entah dimana, tergantung sampai sejauh mana Anda percaya konsep takdir dan karma. Jadi jangan mengerutkan kening ketika melihat seseorang duduk lama di bangku kayu stasiun, atau terpekur bengong di sofa warung kopi. Mungkin pundak mereka sudah terlalu berat untuk diangkat berjalan.

Oke, akhir kata, tetap semangat Ibu Risma. Tidak banyak pemimpin hebat, apalagi yang berhasil meniupkan optimisme ke orang banyak. Saya tidak akan tegas meminta Ibu untuk bertahan atau tidak, karena Ibu sendiri yang tahu sampai mana batas kekuatan itu. Semoga Ibu tetap sehat, dan selalu dilindungi kemanapun melangkah. Salam hangat dari Semarang.