Dia bilang aku brengsek.

Suara TV terdengar sayup-sayup, lampu notifikasi WhatsApp terus berkedip minta dibalas, perut keroncongan menjadi tertahan, posisi duduk berubah tegak. Demi satu kalimat itu, semua mendadak tak penting dan terlupakan.

Dia? Wanita sepolos itu?

Tidak ada jawaban. Dia menerawang, sejak awal kami memang tidak saling bertatap. Matanya tidak lepas menatap layar TV, yang saya yakin suaranya tidak akan sampai ke telinga. Aturan sederhana, TV harus menyala agar ada tempat mendaratkan pandangan. Tidak akan ada sumpah serapah yang nyaman keluar saat beradu muka. Baginya, tidak cukup mata, pelarian juga dibutuhkan untuk mulut. Diambilnya rokok dari asbak, tempat istirahat sementaranya sebelum kembali diserap dan asapnya akan meninggalkan jejak di paru-paru yang rapuh, tidak lama kemudian kepulan asap keluar pelan dari barisan gigi. Matanya kembali menatap ketiadaan, halusinasi ketenangan ada di bayang-bayang.

Dia juga bilang aku memanfaatkan dia. Mulut itu kembali berucap, setelah jeda sekian detik dari hembusan terakhirnya.

Dunia senyap. Gelap. Memberi jeda, waktu dan tempat, untuk saya menghapus asumsi yang terlanjur melekat di kepala.

Kita sedang membicarakan wanita yang sama kan? Percuma, dia tidak akan mendengar. Saya sedang berbicara pada kegelapan.

Ah, saya benci bagian ini. Dimana pikiran kompleks saya akan otomatis mengembara, mencari memori rasa yang mirip untuk turut menghayati benar kepedihan dari si pencerita. Kali ini, otak saya yang kreatifnya minta ampun ini, mendarat ke seorang pria berbaju cerah namun berwajah muram. Lebih tepatnya ke film nominator Oscar yang baru saja saya tonton, berjudul Her.

Entah mengapa. Mungkin karena cocok dengan kisah Joaquin Phoenix yang tidak mampu menjaga hubungan dengan istrinya terdahulu, sehingga malah jatuh hati dengan operating system komputer. Mungkin karena kisah teman saya mirip seperti Theodore yang puitis dalam merangkai surat ucapan, dari dan untuk, orang lain. Atau mungkin karena nuansa sendu yang tersebar hampir di semua sudut film, ketika orang berbicara dengan piranti lunak di lubang telinga, dan deretan gedung bertingkat menjadi latar cerita.

Adegan terakhir berupa dua orang yang duduk berdampingan, diam termangu dibius kemilau lampu kota.

Tidak kuat menahan gemuruh di dada, saya berdiri. Berjalan dua langkah, kening saya tempelkan ke tembok yang dingin. Mata saya terpejam, berusaha menggali lebih ke dalam. Suara TV semakin jauh meninggalkan, namun tidak dengan teman saya. Saya bahkan bisa merasakan ada yang menusuk punggung dengan tatapannya yang bertanya.

Sialan. Kau mengingatkanku pada seseorang. Saya berbicara, masih dengan mata tertutup.

Siapa? Dia tertawa kecil. Saya yakin dia mungkin rela membuang seluruh sisa rokoknya demi jawaban itu.

Saya melirik arloji. Kau lapar?

Aku tahu tempat nasi goreng yang enak.

Tidak ada tawar menawar. Kami langsung memakai jaket tebal masing-masing. Bandung masih bermurah hati, dia menahan hujannya di atas awan. Kalau tidak, tentu malam ini akan berakhir dengan mie instan berpengawet di rak TV. Sesaat sebelum kaki kami melewati daun pintu, lengannya kutahan.

Tentang yang wanita itu katakan padamu, kau sedang tidak bergurau kan?

Dia tersenyum tanggung. Lalu berkata, kau berhutang satu kisah hidupmu padaku. Lalu telunjuk kirinya mematikan lampu.

Gelap.