Aku akan menjadi sunyi.

Saya mendongakkan kepala. Sedikit saja. Sesedikit pemain catur yang memindahkan mata dari menteri ke hidung lawan yang kembang-kempis memikirkan strategi. Saya melihat dia yang berbicara pada sebungkus nasi di hadapan. Tangannya sedang memisahkan bungkusan nasi dengan ayam, beserta lalapan yang mungkin akan tetap utuh sampai keranjang sampah. Saya kembali mengingat apa yang sedang kami bicarakan. Sepertinya tentang menyendiri atau penonton atau semacamnya.

Kau tahu, Re, Aku sedang ingin berdiri di sudut ruangan dan menonton keramaian.

Nah kan. Mulut saya tetap terkunci, tidak ingin menimpali. Mungkin itu ritualnya sebelum makan. Lihat saja, tangannya langsung lincah mencocol ayam pada sambal, lalu disatukan dengan gunungan nasi yang tidak lagi mengepul. Salahkan udara Bandung, bahkan rasanya plastik bungkusan itu masih terasa hangat ketika saya kaitkan di kemudi motor tadi. Sudahlah, toh mulut itu tetap nyaman-nyaman saja mengunyah. Perhatian saya kembali ke ponsel di pangkuan. Saya sedang membaca profil terbaru seseorang di media sosial, lengkap dengan senyumnya yang mengembang. Ini memang sudah menjadi ritualnya, meng-update sekian hari sekali, pun dengan avatar. Dan menikmatinya adalah ritual saya untuk memulai hari.

Saat ini, aku sedang tidak ingin bergantung pada orang lain.

Ternyata dia masih melanjutkan lanturannya. Saya tidak memindahkan pandangan dari layar ponsel, tapi pikiran ini berlayar kemana-mana. Menonton keramaian. Tidak ingin bergantung. Saya jadi teringat dengan tulisan-tulisan awal Sujiwotejo di Jiwo J#ncuk. Tentang ‘aku’ yang sedang siaran dan berpuisi untuk ‘Kekasih’ lewat frekuensi radio. Tentang ‘aku’ yang menceritakan kawannya sesama penyiar yang sampai dibuatkan bobolan pintu belakang untuk menghindari kejaran penggemar, sedangkan ‘aku’ malah menguntit si ‘Kekasih’ sampai belakang Gedung Asia Afrika. Tentang malam yang akan menghentikan gelombang ‘aku’, dan malam juga yang akan mengingatkan pendengar untuk mematikan lampu dan mengunci pintu. Adakah yang berdiri di sudut yang lebih sudut daripada penyiar radio…

Tidak ingin bergantung, bagaimana maksudmu? Akhirnya saya bertanya. Tidak enak juga terus mendiamkan.

Ya, jangan bergantung terlalu banyak pada orang lain. Bahkan bayangan akan meninggalkanmu dalam kegelapan, Re.

Saya tersenyum sinis dalam hati. Bayangan. Mungkin kawan saya ini benar-benar harus mengobrol banyak dengan ‘aku’ sang penyiar radio. Tentang ‘aku’ yang menunggu, dan dilupakan, sampai pagi untuk bersama merangkai janur. Lalu esoknya berpapasan saat berjalan kaki di Jalan Sumur Bandung yang penuh bunga, lalu tidak berani bertanya ketidakdatangannya kemarin itu karena lupa atau pura-pura lupa. Masih tentang ‘aku’ yang terpesona dengan ‘Kekasih’ yang berpidato di depan mahasiswa penuntut Soeharto, lalu tidak berani menembus barisan lelaki yang mengerubungi dan malah berakhir sebagai pembaca surat-surat malam di radio.

‘Aku’ juga sedang berurusan dengan bayangan. Bayangan ‘Kekasih’ yang dilihatnya sedang berbicara dengan seorang mahasiswa. Dari kejauhan, tanpa pelukan dan rangkulan. Bedanya, ‘aku’ tidak ditinggalkan bayangan, namun tidak sanggup mengejar. Ah apa bedanya kalau sama-sama tak bersama.

Ya, bahkan bayangan akan meninggalkanmu. Kawan saya kembali berbicara, dengan mulut setengah lega dan pandangan menembus kacamata menuju jendela, lalu menuju Tangkuban Perahu di cakrawala.

Saya tersadar dari lamunan. Lalu refleks menoleh ke belakang, mencari bayangan. Aneh, kalimatnya kali ini terasa lebih menggigilkan badan.

Dalam gelap, bayangan yang pergi atau kelam yang menutupi? Saya bertanya dalam hati.

Kawan saya tidak lagi berbicara. Dia mengangkat agak tinggi sisa tulang ayam, dan merenung. Mungkin dia sedang berpikir mengapa ayam mati masih bisa memiliki bayangan.