Saya melihat kipas angin yang berhenti berputar dalam keremangan. Sedikit cahaya yang tersisa dari luar memaksa masuk melalui celah pintu dan jendela yang terbuka. Laptop di atas meja terlihat mengedipkan lampu, tidak jelas dirinya sedang terbuka atau tertutup. Earphone putih yang masih terpasang disana menjadi benda paling jelas terlihat di atas meja. Saya membuka kunci ponsel, memastikan paket data telah mati, baterai harus dihemat dalam mati listrik seperti ini.

Aku fair-fairan kalo urusan cewek, Re.

Rintik hujan mulai terdengar di luar. Gemeletuk di atap, gemericik di selokan depan kamar. Saya berharap hujan juga mengundang angin masuk kesini, untuk mengipasi dan menutup pintu. Tidak ada yang perlu dilihat di luar, hujan menjadi tidak puitis saat magrib.

Maksudmu? Saya bertanya. Sedikit terpaksa. Mati listrik, hujan, belum mandi. Saya butuh obrolan lebih dari sekedar siapa-pemenang-konvensi, sebelum urusan listrik dan semuanya selesai lalu makan malam lekas dicari.

Ada teman yang kuminta berhenti curhat karena itu tentang wanita yang juga kusuka, kisahnya biarlah menjadi urusannya, kisahku menjadi urusanku.

Dia bercerita sambil menekan-nekan ponsel. Entah mencari pelarian pandangan atau juga hendak memastikan internetnya tidak berjalan. Wajahnya yang disinari radiasi masih tidak cukup jelas di kepekatan seperti ini. Hujan tidak lagi hanya rintik, kini juga dengan angin, yang hanya menghantam dedaunan jambu, tidak sampai menutup pintu. Suaranya mengisi kekosongan obrolan kami berdua.

Kalian teman dekat, dan suka pada cewek yang sama?

Saya bertanya sambil tersenyum, lalu membetulkan bantal di sandaran, obrolan ini akan panjang. Sayup-sayup terdengar cicitan burung yang memenuhi jeda udara. Saya melirik jendela di hadapan yang sepertiganya tertutup tirai biru, deretan sangkar bergantungan memenuhi tepian atap. Nyanyian mereka semakin mengalahkan dentingan rintik. Suara saling bersahutan itu terdengar bergetar karena hujan, sama bergetarnya seperti suara yang akan menjawab pertanyaan saya, namun kali ini oleh kenangan.

Pernah suatu waktu, karena tidak tahan pada keadaan, aku mengirim pesan untuk mengajak cewek itu bertemu, di sebuah kedai kopi. Disana kukatakan semuanya…

Kesatria jatuh hati pada putri bungsu dari Kerajaan Bidadari. Suara dari kawan saya yang gantian tenggelam, yang terlintas di telinga malah sebaris awal puisi itu, satu-satunya puisi yang hampir saya hapal setiap lekuknya. Entah mengapa. Kesatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang. Ah, sial, barisan puisi ini terus memberondong. Saya harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan kesadaran.

Apa yang kau katakan pada cewek itu? Saya langsung bertanya memotong, untuk menghentikan lamunan dan memastikan cerita belum terlalu jauh di depan.

Kawan saya diam sebentar, lalu kembali berkata.

Kukatakan padanya yang sejujurnya. Dua hari tidak bisa tidur karena memikirkannya, apa yang kurasakan ketika melihatnya bermain bulutangkis, lalu…

Namun, Sang Putri masih jauh di atas awang-awang, dan tak ada angin yang mampu menusuk langit. Puisi ini terus saja bertebaran di alam bawah sadar. Saya sekuat tenaga terus memperhatikan setiap perkataannya, menangkap kata-katanya yang polos, berharap ada diksi yang bisa membawa saya keluar dari lubang hitam puisi ini. Tapi tetap saja, barisan selanjutnya terus menyergap perhatian.

Melesatlah mereka berdua. Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Kesatria mungil, tapi hangat jiwanya diterangi cahaya cinta. Ya Tuhan, semoga kawan saya tidak sadar saya sedang tidak memperhatikannya, semoga dia tidak tahu Dee, semoga dia tidak pernah membaca Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Saya malah tersadar dari lamunan ketika kawan saya selesai bercerita. Tidak ada suara setelahnya. Keheningan membuat kamar serasa melebar. Semoga dia tidak melempar pertanyaan, saya tidak bisa memberi komentar karena tidak tahu perjalanan sudah sampai mana. Tapi, sayang sekali.

Bagaimana menurutmu, Re?

Lalu, tiba-tiba lampu menyala. Kipas angin di dinding kembali bergerak monoton. Kabel charger laptop yang masih terpasang langsung menjadikannya terisi, ada notifikasi merah disana. Paket data ponsel kembali berjalan. Malam yang biru terasa lebih baru. Hujan masih terdengar, namun dia terasa masuk akal untuk dihajar saat hidup lebih optimis. Tidak mau melewatkan momentum, saya balik bertanya untuk tidak menjawab.

Mau makan dimana?