Alunan ayat suci mengisi jeda bada maghrib dan azan isya. Para guru, yang kebanyakan berjilbab, memulai kelas dengan basmalah bersama. Penjual pecel tumpang bertaburan di jalanan. Hampir semua makanan bisa ditebus dengan hanya beberapa lembar ribuan. Sepasang muda-mudi bersepeda beriringan. Beberapa lainnya bersliweran. Semua sepakat untuk tidak saling menyatu, meski tidak ada yang berklakson dan berlampu. Hamparan hijau sawah disisipi gubug coklat dan bangunan beton bercat putih saling berlomba mengisi pandangan. Sepasang anak kecil duduk di jembatan bambu, menjuntaikan kaki kurus mereka ke air yang melaju.

Di Pare, jarum jam bergerak lebih pelan. Di Pare, saya seperti mundur beberapa tahun ke belakang.

Gerobak nasi goreng mengepulkan uap dalam keremangan, penjual martabak duduk santai menanti pelanggan, penjual kebab membereskan dagangan. Saya mengayuh sepeda sedikit lebih kencang. Tidak ada yang ingin berlama-lama di jalanan lowong akhir pekan. Saya ingin sepeda ini sedikit bercahaya, agar lampu jalan tidak sepi bersinar seorang diri. Bulan sabit di atas kepala tidak banyak membantu. Namun rasanya mereka bahagia, dikelilingi puluhan laron di masing-masingnya. Tidak seperti satu dua kotak ATM yang benderang, namun lekas ditinggalkan.

Anggukan seorang barista di balik meja kasir memanggil saya, menyadarkan dari lamunan. Saya berdiri sambil melipat buku, lalu membaca dinding di balik punggungnya yang menuliskan menu. Dia mengangkat tangan agak tinggi ketika saya mengeluarkan dompet. Nanti saja. Baiklah. Saya kembali ke meja di sudut ruangan, membelakangi kaca. Gemeletuk biji kopi menyaingi suara Iwan Fals yang terus diputar sejak tadi. Aroma kopi memenuhi udara. Seperti kebab, cafe ini juga sedang mempercepat waktu di kota kecil ini.

Suatu ketika, Andrea Hirata pernah menilai sebuah kota dengan kacamata sastra: Ketika dia nyaman menulis disana.

Apakah Pare berhasil mengeluarkan bagian diri saya yang senang menulis? Entah, kebetulan saya hanya membawa novel ke cafe ini. Bintang di Atas Alhambra. Tentang mimpi dan doa penulis yang membawanya dari pondok kecil di pedalaman Jawa Barat, ke salah satu kampus terbaik dunia di Melbourne. Tentang dia yang bersepeda dini hari menembus dinginnya kota, untuk menjadi kuli di pasar Victoria. Tugas kuliah, ujian, paper, anak istri, kuli pasar. Sebanyak itukah waktu milik penulis?

Saya memikirkan pertanyaan yang sama saat mendonorkan darah tempo hari. Ketika si petugas banyak mengobrol dengan saya yang terbaring tidak bisa kemana-mana. Dia bertanya tentang rumah dan maksud, saya menanyakan kuliner dan Kelud. Saya mengamati mejanya di seberang jendela, yang sejenak ditinggalkan, yang dipenuhi bungkusan plastik dan berkas. Dia minta izin keluar sebentar, lalu kembali untuk mencabut jarum yang menempel di lengan. Saya sedikit terkejut saat itu, ternyata sudah ada segelas susu panas di meja tamu. Sebanyak itukah waktu di kota ini?

Teriakan beberapa pengunjung cafe menyadarkan saya, lagi-lagi, dari lamunan. Semua mata sedang mendarat pada TV yang menyiarkan pertandingan sepakbola nasional. Pelanggaran di kotak penalti, wasit menunjuk titik putih.

Si barista menghampiri, membawa cappuccino dan french fries di baki. Tidak biasanya. Semestinya dia dengan angkuh meneriakkan pesanan dan kita yang tergopoh-gopoh menjemput ke depan. Saya melirik ke mesin penggiling kopi, memastikan tidak ada orang lain sejak tadi. Berarti dia merangkap juga sebagai kasir dan pramusaji.

Memang sebanyak itu ternyata waktu di Pare.